Tiga Mitra CIMB Niaga Raih Apresiasi Tingkat Regional “CIMB Advancing Societies 2026”

June 22, 2026 by  
Filed under Nusantara

JAKARTA – PT Bank CIMB Niaga Tbk (“CIMB Niaga”) mengapresiasi terpilihnya tiga mitra dari Indonesia sebagai peraih penghargaan dalam program regional CIMB Advancing Societies 2026 “Recognising Impactful Partnersyang diselenggarakan CIMB Group Holdings Berhad (CIMB Group) di Kuala Lumpur, Senin (15/6/2026).

Adapun tiga mitra tersebut yaitu Yayasan Berdaya Bareng (Kategori Pemberdayaan Ekonomi dan Komunitas), Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia atau KEHATI (Kategori Dampak Lingkungan dan Iklim), serta Sinergi Mahakarya (Kategori Inklusi Sosial dan Kesetaraan).

CIMB Advancing Societies 2026 merupakan inisiatif CIMB Group yang memberikan penghargaan kepada organisasi/lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan individu dengan dampak sosial nyata di ASEAN. Program ini menjadi bagian dari komitmen CIMB Group dalam mewujudkan purpose Advancing Customers & Society, sekaligus sejalan dengan gerakan “Moving You Forward” yang baru diluncurkan Group untuk mendorong kemajuan inklusif dan berkelanjutan di kawasan ASEAN.

Direktur Compliance, Corporate Affairs & Legal CIMB Niaga Fransiska Oei menyampaikan selamat atas penghargaan yang diraih ketiga mitra tersebut. “Apresiasi ini menjadi bukti bahwa upaya yang konsisten dan kolaboratif mampu menghadirkan dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat. Kami sangat menghargai kontribusi para mitra dalam mendorong pemberdayaan ekonomi, pelestarian lingkungan, serta inklusi sosial. CIMB Niaga akan terus memperkuat kolaborasi dengan para mitra untuk memperluas manfaat serta dampak positif bagi masyarakat, sejalan dengan pesan keberlanjutan kami #SekarangUntukMasaDepan,” ujar Fransiska di Jakarta, Senin (22/6/2026).

Ketiga mitra tersebut menghadirkan inisiatif dengan pendekatan yang berbeda dalam memberdayakan masyarakat dan lingkungan di berbagai wilayah Tanah Air, sejalan dengan pilar CSR CIMB Niaga yaitu Pendidikan, Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat, Pemberdayaan Ekonomi, serta Iklim dan Lingkungan.

Yayasan Berdaya Bareng bersama CIMB Niaga, sejak 2022 mendorong pemberdayaan UMKM di Indonesia Timur melalui pelatihan kewirausahaan, literasi keuangan dan digital, serta akses pembiayaan tanpa bunga. Program ini telah menjangkau 979 UMKM dan menyalurkan pembiayaan kepada 150 usaha.

Di bidang lingkungan, kemitraan CIMB Niaga dengan Yayasan KEHATI sejak 2012 berfokus pada konservasi bambu berbasis pemberdayaan masyarakat. Hingga 2025, program ini telah menanam 115.400 pohon bambu, berpotensi menyerap lebih dari 15.000 ton CO₂, serta meningkatkan kapasitas lebih dari 2.000 penerima manfaat.

Sinergi Mahakarya memberdayakan anak berkebutuhan khusus melalui kewirausahaan kreatif. Inisiatif ini tidak hanya menghasilkan produk bernilai ekonomi, tetapi juga membuka peluang penghasilan berkelanjutan bagi keluarga dan pendamping, sekaligus membantu mengurangi stigma terhadap penyandang disabilitas.

Selain tiga mitra CIMB Niaga, secara regional CIMB Advancing Societies 2026 juga mengapresiasi berbagai individu dan organisasi di ASEAN. Mereka adalah Yayasan Tunku Abdul Rahman (Malaysia) dan Empower and Transform – EAT (Filipina) di bidang pendidikan dan literasi keuangan; Thrive Well melalui Program K.A.M.I. (Malaysia) serta Lions Befrienders (Singapura) di bidang kesehatan dan kesejahteraan masyarakat; WWF (Malaysia) di bidang dampak lingkungan dan iklim; serta PAVE (Filipina) dan Halogen (Singapura) dalam bidang inklusi sosial dan kesetaraan. Brand Ambassador CIMB Group, Dato’ Azizulhasni Awang, turut menerima pengakuan Kita Bagi Jadi Hero atas kontribusinya.

Sejalan dengan semangat “Advancing Societies”, CIMB Niaga berkomitmen untuk senantiasa menjadi mitra yang mendorong kemajuan masyarakat Indonesia melalui perluasan akses, peluang, dan kolaborasi yang berdampak. Melalui upaya tersebut, CIMB Niaga ingin terus menginspirasi dan memberdayakan lebih banyak individu serta komunitas untuk mewujudkan aspirasi dan menciptakan masa depan yang berkelanjutan. (*)

PEP Tarakan Goes to School, Siapkan Generasi Muda Jadi Agen Keselamatan Lingkungan

June 22, 2026 by  
Filed under Nusantara

TARAKAN – Kesadaran terhadap bahaya kebakaran dan pentingnya kemampuan penanganan keadaan darurat kini tidak lagi hanya menjadi tanggung jawab petugas pemadam kebakaran atau instansi terkait. Di tengah meningkatnya kebutuhan akan edukasi mitigasi bencana sejak dini, PT Pertamina EP (PEP) Tarakan Field mengambil langkah proaktif dengan mengajak para pelajar menjadi bagian dari budaya keselamatan melalui program edukasi tanggap darurat di lingkungan sekolah.

Melalui program PEP Tarakan Goes to School, perusahaan menggandeng Dinas Pemadam Kebakaran (PMK) Kota Tarakan untuk memberikan pelatihan dan simulasi penggunaan Fire Blanket serta Alat Pemadam Api Ringan (APAR) kepada siswa dan tenaga pendidik SMP Negeri 2 Tarakan, Rabu (17/6/2026).

Berbeda dari kegiatan sosialisasi biasa, para peserta tidak hanya menerima materi teori mengenai bahaya kebakaran, tetapi juga memperoleh pengalaman praktik langsung dalam menghadapi situasi darurat. Para siswa diperkenalkan pada berbagai potensi risiko kebakaran yang dapat terjadi di lingkungan sekolah maupun rumah tangga, sekaligus mempelajari langkah-langkah penanganan awal sebelum bantuan profesional tiba di lokasi.

Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi keselamatan di kalangan generasi muda, sekaligus membangun karakter tangguh dalam menghadapi kondisi darurat yang dapat terjadi kapan saja dan di mana saja.

Manager PEP Tarakan Field, Cahyo Tri Mulyanto, menegaskan bahwa edukasi keselamatan merupakan investasi jangka panjang yang memiliki dampak besar bagi masyarakat. Menurutnya, pembentukan budaya keselamatan harus dimulai sejak usia sekolah agar tertanam menjadi kebiasaan yang terus dibawa hingga dewasa.

“Keselamatan merupakan tanggung jawab bersama. Melalui kegiatan ini kami ingin menanamkan kesadaran bahwa tindakan cepat dan tepat saat keadaan darurat dapat meminimalkan risiko yang lebih besar. Harapannya para siswa dapat menjadi agen keselamatan di lingkungan keluarga maupun masyarakat,” ujar Cahyo.

Ia menjelaskan, pemahaman mengenai penggunaan APAR maupun fire blanket menjadi keterampilan dasar yang penting dimiliki masyarakat. Dengan pengalaman praktik langsung, peserta dapat memahami cara menghadapi kebakaran kecil secara aman tanpa menimbulkan kepanikan.

Kolaborasi antara dunia usaha dan pemerintah daerah dalam kegiatan tersebut juga mendapat apresiasi dari Dinas Pemadam Kebakaran Kota Tarakan. Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Kota Tarakan, Eko Supriyatnoko, menilai edukasi keselamatan

kepada pelajar merupakan langkah strategis dalam membangun masyarakat yang lebih siap menghadapi risiko kebakaran.

Menurutnya, masih banyak masyarakat yang belum memahami tindakan awal ketika terjadi kebakaran sehingga sering kali kepanikan justru memperbesar risiko kerugian maupun korban.

“Pencegahan dan kesiapsiagaan harus dimulai dari pendidikan. Ketika siswa memahami prosedur keselamatan sejak dini, mereka akan lebih siap mengambil langkah yang benar dan membantu menciptakan lingkungan yang lebih aman,” kata Eko.

Sementara itu, Head of Communication Relations & CID Zona 10, Elis Fauziyah, menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan yang berfokus pada penguatan kapasitas masyarakat, khususnya generasi muda.

Menurut Elis, keselamatan bukan hanya berkaitan dengan dunia industri migas, tetapi juga menjadi kebutuhan seluruh lapisan masyarakat. Karena itu, perusahaan berupaya menghadirkan program-program yang mampu memberikan manfaat langsung sekaligus membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya mitigasi risiko.

“Kami ingin menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat melalui edukasi yang aplikatif. Keselamatan harus menjadi budaya bersama, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat luas,” ujarnya.

Melalui sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan, PEP Tarakan Field terus memperluas peran sosial perusahaan dalam mendukung terciptanya lingkungan yang aman, tangguh, dan berkelanjutan. Program edukasi keselamatan ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta mendukung pembangunan sumber daya manusia yang lebih siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan. (*)

RSUD dr Abdul Rivai Kekurangan Ruang Cuci Darah

June 22, 2026 by  
Filed under Berau

RSUD dr Abdul Rivai

Tanjung Redeb – Bagi sebagian orang, rumah sakit adalah tempat paling aman untuk bersandar saat tubuh digerogoti penyakit. Namun, bagi sedikitnya 58 warga Kabupaten Berau penderita gagal ginjal, rumah sakit justru menjadi tempat yang teramat jauh. Demi menyambung nyawa, setiap minggu mereka harus mengemasi tas, pamit pada keluarga, dan menempuh perjalanan ratusan kilometer menuju Tarakan, Balikpapan, atau Samarinda.

Ironisnya, kepergian mereka bukan karena Berau tidak memiliki dokter ahli, bukan pula karena daerah ini kekurangan mesin cuci darah. Mereka terpaksa harus ke kota lain hanya karena ruang pelayanan di RSUD dr Abdul Rivai tak lagi mampu menampung pasien.

Kondisi dilematis ini diakui Wakil Bupati Berau, Gamalis. Ia menyebut, lonjakan jumlah pasien gagal ginjal yang membutuhkan terapi seumur hidup kini berjalan lebih cepat ketimbang kesiapan fasilitas ruangan di rumah sakit daerah.

“Masalahnya bukan pada alat atau tenaga kesehatan. Semuanya sudah tersedia. Yang menjadi kendala adalah ruang pelayanan yang belum memadai untuk penambahan unit layanan,” ujar Gamalis dengan nada prihatin, Minggu (21/6/2026).

Saat ini, ruang hemodialisa di RSUD dr Abdul Rivai penuh sesak. Dengan hanya mengandalkan delapan tempat tidur, fasilitas tersebut harus melayani pasien rutin yang wajib melakukan cuci darah dua kali dalam seminggu. Bagi pasien baru yang terus berdatangan, pintu pelayanan hampir selalu tertutup karena jadwal yang tak pernah lengang.

Dampaknya, puluhan warga Berau harus menjalani takdir pengobatan di luar daerah. Di perantauan, mereka tidak hanya bertaruh nyawa melawan penyakit, tetapi juga harus bertahan dari himpitan ekonomi.

Biaya transportasi, sewa kamar kos di dekat rumah sakit, hingga biaya hidup sehari-hari di luar kota menjadi beban berlapis yang harus ditanggung. Saat kondisi fisik sedang lemah, mereka harus menguras batin karena  kehilangan waktu bersama keluarga di rumah.

Kepiluan ini terasa semakin menyengat ketika mengetahui di RSUD dr Abdul Rivai, sebenarnya ada lima mesin cuci darah tambahan yang siap beroperasi. Humas RSUD dr Abdul Rivai, Dani Apriat Maja, mengungkapkan, mesin-mesin tersebut kini hanya bisa terdiam di sudut ruangan.

Mesin itu belum boleh menyala karena terbentur aturan ketat BPJS Kesehatan mengenai standardisasi luas ruangan dan jarak aman antar-alat kesehatan. Sebuah aturan yang di satu sisi demi keselamatan pasien, namun di sisi lain terasa begitu menjegal di tengah situasi darurat ini.

“Kalau ruangannya memungkinkan, kapasitas layanan bisa langsung ditambah. Mesin sudah ada dan siap digunakan,” tutur Dani, menyiratkan kepasrahan sekaligus harapan.

Pemerintah Kabupaten Berau kini tengah berkejaran dengan waktu untuk mencari jalan keluar. Langkah-langkah darurat mulai dikebut. Pemkab berencana mengoptimalkan Gedung Walet untuk merelokasi beberapa layanan lain, agar ruangannya bisa dialihkan untuk pasien cuci darah. Tak hanya itu, bangunan IGD lama pun kini sedang dikaji agar bisa segera disulap menjadi ruang hemodialisa tambahan.

Ikhtiar ini bukan sekadar tentang memperluas bangunan fisik, melainkan tentang menjemput kembali puluhan warga Berau yang saat ini sedang berjuang sendirian di kota orang. Pemerintah daerah menargetkan, dalam waktu dekat, tidak ada lagi warga Berau yang harus meneteskan air mata di jalanan trans-Kalimantan hanya untuk menyambung nyawa.

“Harapan kami, masyarakat yang saat ini masih cuci darah di luar daerah bisa segera kembali mendapatkan pelayanan di Berau. Lebih dekat dengan keluarga, berobat dengan tenang, dan tanpa harus menanggung beban tambahan yang menjepit hidup mereka,” pungkas Gamalis. (*)

RKM Soroti Kondisi Infrastruktur Desa

June 22, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

TENGGARONG  – Ketua Organisasi Masyarakat Remaong Kutai Menamang (RKM) sekaligus tokoh adat Desa Menamang Kanan, Kecamatan Muara Kaman, Kadir, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat terkait sikap politik yang pernah ia ambil pada Pemilihan Umum beberapa tahun lalu.

Dalam pernyataannya, Kadir mengaku merasa perlu menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada warga Desa Menamang Kanan. Ia menilai dukungan politik yang pernah ia ajak kepada masyarakat saat itu tidak memberikan dampak yang sesuai dengan harapan bagi kemajuan desa.

“Atas nama Ketua Lembaga Adat sekaligus Ketua Umum Organisasi Kemasyarakatan Remaong Kutai Menamang (RKM), saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada warga Menamang. Beberapa tahun lalu saya pernah mengajak masyarakat untuk memilih salah satu calon presiden. Namun, menurut pandangan saya, keputusan tersebut tidak membawa perubahan yang diharapkan bagi desa kita tercinta,” kata Kadir kepada media ini, Senin (22/6/2026).

Ia juga menyoroti sejumlah persoalan yang masih dihadapi masyarakat. Menurutnya, kondisi infrastruktur dan fasilitas umum di desa membutuhkan perhatian lebih serius dari pemerintah.

Kadir

Beberapa persoalan yang disampaikan antara lain kondisi jalan desa yang rusak dan berlumpur, kerusakan genset yang selama ini menjadi sumber penerangan masyarakat, serta gedung sekolah dasar yang disebut sudah memerlukan perbaikan karena kondisinya mengkhawatirkan.

Selain itu, Kadir juga menyinggung berkurangnya alokasi anggaran dana desa serta belum terealisasinya sejumlah usulan pembangunan, termasuk bantuan untuk rumah ibadah yang sebelumnya telah diajukan kepada pemerintah daerah melalui bagian kesejahteraan rakyat (Kesra).

“Harapan masyarakat adalah adanya perhatian yang lebih nyata terhadap kebutuhan dasar desa, baik di bidang pendidikan, infrastruktur maupun sarana keagamaan,” ungkapnya.

Meski menyampaikan kritik terhadap kondisi yang ada, Kadir mengajak masyarakat untuk tetap mengedepankan sikap santun dan mendoakan para pemimpin agar diberikan kesehatan, umur panjang, serta kemampuan menjalankan amanah dengan baik demi kesejahteraan rakyat.

 

Ia juga menegaskan pernyataannya tidak ditujukan untuk menyerang pihak tertentu, melainkan sebagai bentuk keprihatinan dan tanggung jawab moral kepada masyarakat yang selama ini ia wakili.

Pernyataan tersebut mendapat perhatian dari masyarakat setempat dan menjadi pengingat bahwa partisipasi politik warga hendaknya selalu diiringi dengan sikap kritis serta evaluasi terhadap berbagai kebijakan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.

“Tidak ada niat untuk menyinggung siapa pun. Saya hanya ingin menyampaikan apa yang menjadi kegelisahan masyarakat dan harapan agar pembangunan desa dapat berjalan lebih baik ke depan,” harapnya. (*)

Tahu Sumedang, Lab UM dan IKN

June 22, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

MINGGU (21/6) pagi saya diajak Pjs Rektor Universitas Mulia (UM) Balikpapan, Dr Agung Sakti Pribadi ke Ibu Kota Nusantara (IKN). Sebelum masuk ke jalur jalan menuju IKN di km 38, kita singgah dulu ke lokasi Warung Sumedang yang baru di Km 36. ”Kita sarapan dulu di sini,” kata Pak Agung.

Karangan bunga dari KCU BCA Dago Bandung dan BNI Sumedang untuk pembukaan Warung Tahu Sumedang Km 36

Saya kaget ada Warung Tahu Sumedang yang baru di Km 36. Padahal sebelumnya sudah dibuka Warung Tahu Sumedang di dekat pintu exit Tol Samboja, 200 meter arah jalan ke IKN.

“Ya yang ini pusatnya Warung Tahu Sumedang Renyah,” kata seorang petugas menghampiri kami sambil menyodorkan daftar menu.

Warung Tahu Sumedang baru di Km 36 Jl Soekarno-Hatta memang cukup besar. Pemandangannya menarik. Bisa melihat hamparan kebun sawit yang luas.  Parkirnya juga sangat lebar. Musholanya bersih dan bagus. Saya lihat di depannya ada sejumlah karangan bunga ucapan selamat. Yang menarik ada kiriman dari Kantor Cabang Utama (KCU) BCA  Dago Bandung dan Kantor Cabang (KC) BNI Sumedang.

Warung Tahu Sumedang Renyah di jalur jalan poros Balikpapan-Samarinda ini sangat legendaris terutama di lokasi lama di Km 50. Soalnya dibuka sejak tahun 80-an. Tapi pada 30 Maret 2026 lalu warung ini resmi ditutup permanen.

Para penikmat tahu Sumedang kaget. Berita ini sempat viral di media sosial. Lalu dikaitkan penutupan ini sebagai tindakan dari Otorita IKN. Apalagi sempat tertulis di pagar seng penutup ucapan bernada protes. Bunyi tulisan itu: “Kami Atas Nama Karyawan, Jukir Tidak Terima Penutupan oleh Otorita IKN.”

Apakah Otorita IKN yang memerintahkan penutupan? Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Komunikasi Publik, Troy Pantouw sempat menjelaskan duduk ceritanya. Dia mengungkapkan, lokasi Warung Tahu Sumedang itu memang berada di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto yang seyogianya harus dijaga dan dilindungi serta tidak boleh ada kegiatan masyarakat.

Sehubungan itu, pihaknya bertemu dengan pihak terkait terutama pemilik warung. “Akhirnya dengan itikad baik dari sang pemilik dalam mendukung upaya pemulihan fungsi kawasan hutan konservasi Bukit Soeharto, maka Warung Sumedang ditutup dan akan dipindahkan ke lokasi di luar Bukit Soeharto,” kata Troy.

Dia juga menegaskan bahwa perlindungan kawasan hutan Bukit Soeharto bukan semata-mata penegakan regulasi, tetapi juga tanggung jawab bersama untuk memastikan pembangunan IKN berjalan selaras dengan kelestarian alam.

Dari catatan lama, Warung Tahu Sumedang di Km 50 sebenarnya sudah pernah ditutup pada tahun 2018 juga karena alasan berada di lokasi Tahura Bukit Soeharto. Namun atas pertimbangan dan respon masyarakat, akhirnya diizinkan kembali beroperasi saat itu.

UM BUKA LAB TEKNIK

Habis melahap tahu Sumedang, sop buntut, nasi goreng dan tempe mendoang, kita meneruskan perjalanan ke IKN. Tujuannya ada dua. Mau melihat perkembangan terakhir pembangunan IKN. Kedua, meninjau persiapan Universitas Mulia (UM) membuka pelayanan laboratorium struktur dan teknologi bahan.

Pak Agung mengajak beberapa stafnya. Di antaranya Pak Sudarno dan Pak Sumardi, S.Kom, M.Kom, yang juga Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan & Alumni UM. Selain itu ikut juga Pak Jatmiko,  arsitek senior rancang bangun Balikpapan.

Kawasan glamping IKN yang banyak menarik perhatian wisatawan. Dulu dimanfaatkan Presiden Jokowi untuk bermalam.

“Melihat masifnya pembangunan IKN dan wilayah sekitarnya, UM merasa perlu membuka layanan laboratorium untuk uji bangunan. Kita melayani semua pihak yang membangun di wilayah ini,” kata Pak Agung.

Lokasi lab yang disiapkan UM kebetulan tak jauh dari lokasi IKN. Beberapa peralatan lab sudah masuk. Di antaranya sudah siap melayani pengujian beton, pengujian non destruktif dan analisis agregat. “Nanti kita juga siapkan untuk pengujian tanah atau soil test,” tambahnya.

Jatmiko memuji terobosan yang dilakukan UM di IKN bersama mitranya. “Saya kira ini sangat dibutuhkan di lingkungan IKN. Kalau tidak salah selama ini uji teknik bangunan banyak dilayani Sucofindo. Dengan adanya lab UM, maka masyarakat punya pilihan dan bisa mempercepat waktu pengujian,” jelasnya.

Belakangan ini saya beberapa kali ke IKN. Terakhir mendampingi kunjungan Pak Dahlan Iskan. Tapi kemarin saya baru pertama kali meninjau jembatan kaca IKN yang berada di kawasan glamping. Dulu kawasan glamping itu digunakan Presiden Jokowi jika bermalam. “Kalau Bapak Presiden Prabowo belum pernah tidur di sini,” kata seorang petugas di sana.

Kawasan glamping dan jembatan kaca itu berada di bukit belakang Istana Garuda. Memang sangat menarik ketika berada di sana. Kita bisa melihat langsung perkembangan pembangunan di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN dari atas bukit. Sekalian uji nyali berjalan di atas jembatan kaca yang unik.

Fasilitas ini tidak setiap hari dibuka untuk umum. “Hanya di hari-hari tertentu saja, terutama di hari libur di mana kunjungan masyarakat ke IKN meningkat,” kata petugas tadi.

Kami beruntung bisa diberi kesempatan ke sana. “Alhamdulillah atas seizin dan rekomendasi Pak Alimuddin, Deputi Bidang Sosial, Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN,” kata Sumardi.

Kunjungan kami di IKN ditutup dengan makan siang di Restoran Kampung Kecil, sebelah Hotel Qubika. Saya dan Pak Jatmiko sama-sama pesan gareng asem ikan patin dan Pak Agung order nasi pecel. Lalu ditutup dengan melahap rujak buah. Nikmat sekali. Rasanya sudah tak sabar agar IKN segera difungsikan sebagai ibu kota negara.(*)

« Previous PageNext Page »

  • vb