Ngantuk Saat Khotbah Jumat? Pesan tentang Sholat Ini Bikin Melek Sampai Akhir

December 27, 2025 by  
Filed under Opini

Oleh : Riyawan S.Hut

Setiap Jumat, pemandangan ini terasa akrab, saf-saf masjid terisi penuh, suara khatib mengalun dari mimbar, namun sebagian jamaah justru sibuk “berjuang” melawan kantuk. Ada yang matanya terpejam setengah, ada pula yang diam-diam menunduk bukan untuk berdoa, tapi menatap layar handphone. Fenomena jamaah mengantuk saat khotbah Jumat bahkan kerap jadi bahan riset dan diskusi. Ironis, mengingat mimbar Jumat seharusnya menjadi ruang paling hidup untuk menyegarkan iman, bukan sekadar jeda sebelum rukuk.

Riyawan S.Hut

Pertanyaannya sederhana tapi menohok yakni apakah yang membuat kita mudah lelah mendengar khotbah? Apakah isi pesannya kurang relevan, cara penyampaiannya monoton, atau justru hati dan pikiran kita yang datang ke masjid tanpa benar-benar “hadir”?

Jawaban atas kegelisahan itu seolah menemukan momentumnya pada Jumat, 26 Desember 2025 (6 Rajab 1447 H), di Masjid Agung Sultan Sulaiman Tenggarong, jantung spiritual Kota Tenggarong saat ribuan jamaah berkumpul dalam suasana khusyuk yang terasa berbeda dari biasanya.

Lautan Jamaah dan Kesetaraan yang Sunyi

Masjid Agung Sultan Sulaiman dipenuhi langkah-langkah pelan jamaah dari berbagai penjuru. Azan menggema, doa bersahut-sahutan, dan saf-saf dirapatkan tanpa sekat status maupun jabatan. Di tengah lautan manusia itu, tampak Bupati Kutai Kartanegara, dr. Aulia Rahman Basri dan Bupati Kutai Timur H. Ardiansyah Sulaiman, berdiri sejajar sebagai hamba, larut dalam kekhusyukan yang sama.

Pemandangan ini sederhana, tetapi sarat makna, di hadapan Allah SWT, tidak ada kursi kehormatan, tidak ada pangkat. Semua setara, yang membedakan hanyalah ketakwaan dan keikhlasan. Suasana seperti inilah yang seharusnya menjadi “alarm batin” agar kita benar-benar siap mendengar, bukan sekadar duduk dan menunggu waktu salat.

Khotbah yang Mengajak Hadir Sepenuhnya

Khotbah Jumat kali ini disampaikan oleh mantan Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Kutai Kartanegara, Ustaz Muhammad Bisyron. Dengan gaya bertutur yang tenang, runtut, dan penuh rujukan keislaman, beliau seakan mengajak jamaah untuk benar-benar hadir bukan hanya fisik, tetapi juga hati dan pikiran.

Di tengah fakta pahit bahwa kurang dari 50 persen jamaah mampu mengingat isi khotbah setelah salat usai, khotbah ini terasa seperti “tamparan lembut”. Pesan-pesannya dekat dengan realitas, tidak menggurui, namun menohok. Tidak heran jika jamaah tampak lebih fokus, seolah lupa pada rasa kantuk yang biasanya datang tanpa permisi.

Koneksi Jiwa yang Menghidupkan

Memasuki inti pesan, Ustaz Muhammad Bisyron mengingatkan tentang keistimewaan bulan Rajab, terutama peristiwa agung Isra Mi’raj. Dari sanalah perintah salat lima waktu diturunkan, bukan di bumi melainkan langsung dari Allah SWT di langit tertinggi. Ini menegaskan bahwa salat bukan ibadah biasa, melainkan simbol koneksi tertinggi antara hamba dan Tuhannya.

Beliau lalu mengibaratkan salat seperti aliran listrik bagi lampu atau energi bagi kereta api. Tanpa salat, jiwa kehilangan daya. Hati menjadi gelap, langkah kehilangan arah. Salatlah yang menyambungkan manusia dengan sumber kekuatan sejati, tempat energi iman kembali terisi.

Perumpamaan lain pun disampaikan, mengutip pemikiran B. J. Habibie, “hidup ini seperti mengayuh sepeda. Jika kayuhan berhenti, keseimbangan akan runtuh. Begitu pula iman, ia harus terus digerakkan, dijaga, dan dirawat. Salat menjadi kayuhan paling dasar agar hidup tetap seimbang dan tidak terjatuh dalam kelalaian.”

Menunggu Sholat, Bukan Sekadar Menunggu Mati

Al-Qur’an dengan tegas menyebutkan, “Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (QS. An-Nisa: 103). Rentang waktu salat dari pagi hingga malam hari, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Isra: 78, seolah mengingatkan bahwa hidup seorang muslim sejatinya berputar di sekitar waktu-waktu salat.

Bukan menunggu kematian, tetapi menunggu panggilan azan. Dalam sehari semalam, kumandang azan bersahut-sahutan di seluruh penjuru dunia, menjadi penanda bahwa Allah SWT terus “memanggil” hamba-Nya. Dari sinilah tampak betapa salat adalah fondasi utama setelah syahadat, penentu kualitas hidup di dunia sekaligus bekal di akhirat.

Pada akhirnya, salat bukan sekadar rangkaian gerak dan bacaan. Ia adalah ruang paling jujur bagi manusia untuk bersimpuh, berdialog, dan menyerahkan seluruh beban hidup kepada Allah SWT. Di sanalah hati disucikan, jiwa ditenangkan, dan energi iman diperbarui, asal dijalani dengan khusyuk dan penuh kesadaran.

Dan ya… sampai paragraf terakhir ini, saya masih ingat isi khotbahnya. Ini bukti saya tidak tertidur saat khotbah.

Pelakor dan Daya Tarik Hubungan Terlarang

December 27, 2025 by  
Filed under Berita

SAMARINDA — Belakangan ini media sosial dipenuhi dengan berita perceraian selebritas dan kisah rumah tangga yang kandas karena perselingkuhan. Tidak sekadar menjadi konten viral, fenomena ini menjadi cerminan konflik relasi lebih luas dalam masyarakat Indonesia terutama meningkatnya kasus perselingkuhan yang kemudian memicu perceraian.

Fenomena pelakor, istilah populer di Indonesia yang merujuk pada orang ketiga dalam hubungan yang sudah berkomitmen kian menjamur.

Berdasarkan survei aplikasi kencan JustDating, Indonesia menempati posisi kedua di Asia dengan angka perselingkuhan hingga sekitar 40 persen dari responden yang mengaku pernah berselingkuh. Angka ini hanya kalah dari Thailand yang mencapai sekitar 50 persen. Survei juga mencatat perselingkuhan paling banyak terjadi di usia dewasa muda, yakni kelompok 30–39 tahun (32%), disusul 19–29 tahun (28%), dan 40–49 tahun (24%).

Temuan lain dalam survei itu juga menunjukkan perempuan di Indonesia mengakui perselingkuhan lebih tinggi dibanding laki-laki, yang menunjukkan dinamika sosial dan budaya yang berubah dalam hubungan intim.

Meskipun sering dipandang sekadar masalah perilaku moral, riset psikologis menunjukkan perselingkuhan merupakan fenomena yang dipengaruhi banyak faktor, termasuk kepuasan hubungan, komunikasi, dan dinamika emosional pasangan.

Menurut studi akademis, adanya hubungan antara tingkat kepuasan dalam hubungan dengan kecenderungan perselingkuhan. Ketidakpuasan emosional atau seksual menjadi salah satu faktor risiko yang signifikan.

Namun, penting untuk dicatat, pelaku perselingkuhan bukan sekadar “orang dengan gangguan kepribadian seperti NPD (narcissistic personality disorder) atau psikopat” secara otomatis. Hubungan antara kepribadian patologis dan infidelity memang pernah diteliti di beberapa studi psikologi, yang menunjukkan narsisisme dapat dikaitkan dengan sikap yang lebih permisif terhadap perselingkuhan, tetapi bukan berarti setiap pelakor adalah psikopat.

Di sebuah video YouTube populer dari kanal Satu Persen, disebutkan dalam sebuah survei, banyak peserta terutama perempuan menilai pria yang sudah punya pasangan terasa lebih menarik dibanding yang masih single.

Logika responden adalah, “pria yang sudah punya pasangan terlihat lebih stabil, mapan, dan punya ‘track record’ hubungan yang jelas daripada pria single yang ‘belum jelas perilakunya’.” Ungkapan ini mencerminkan fenomena sosial di mana daya tarik itu terkait dengan status hubungan seseorang, bukan hanya pada kualitas pribadi semata.

“Mereka yang sudah berkomitmen tampak punya daya tarik emosional yang lebih dalam,” kata salah satu partisipan dalam diskusi kanal tersebut. “Sementara pria yang masih sendiri sering dipandang belum teruji dalam menjaga komitmen.”

Dampak perselingkuhan sangat luas, bukan hanya rumah tangga yang hancur, tetapi gangguan emosional, kecemasan, kepercayaan diri yang merosot, hingga trauma interpersonal bagi pasangan yang menjadi korban. (intan)

Fenomena “Sukses dengan Cara Gelap”, Psikologi Ungkap Alasan di Baliknya

December 27, 2025 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

SAMARINDA — Maraknya kasus penipuan, manipulasi, hingga kebohongan publik yang melibatkan figur-figur berlabel sukses kembali menyita perhatian. Mulai dari dunia bisnis, media sosial, hingga industri hiburan global, publik kerap dibuat terkejut ketika sosok yang dipuja ternyata terseret skandal. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar, apakah ada tipe kepribadian tertentu yang membuat seseorang bisa terlihat sukses meski dibangun di atas kebohongan?

Dalam psikologi kepribadian, terdapat konsep yang dikenal sebagai Dark Triad, yakni tiga sifat kepribadian yang kerap dikaitkan dengan perilaku manipulatif dan minim empati. Tiga sifat tersebut meliputi narsisme, Machiavellianisme, dan psikopati.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Vocational Behavior mengungkapkan tidak semua sisi gelap kepribadian selalu berujung kegagalan. Namun, dampaknya berbeda-beda terhadap kesuksesan karier.

“Our results suggest that the three dark traits affect career success in a very distinct manner. While narcissism predicts success in a positive way, Machiavellianism is unrelated and psychopathy is negatively related to career success,” tulis para peneliti dalam jurnal tersebut.

Artinya, individu dengan kecenderungan narsistik justru dapat menunjukkan pencapaian karier yang lebih tinggi, terutama karena kepercayaan diri, kemampuan tampil meyakinkan, dan dorongan untuk diakui. Namun, sifat Machiavellian yang manipulatif tidak menunjukkan korelasi kuat dengan kesuksesan jangka panjang, sementara psikopati justru berdampak negatif.

Fenomena ini juga terlihat dalam berbagai kasus yang sempat viral secara global, salah satunya kisah Anna Sorokin yang diangkat dalam film Inventing Anna. Ia berhasil menembus lingkaran elite New York dengan identitas palsu dan hampir memperoleh pendanaan besar sebelum akhirnya terbongkar.

Psikolog menilai, individu dengan sifat Dark Triad cenderung memiliki political skill atau kecakapan sosial strategis yang tinggi. Hal ini membuat mereka mampu membaca situasi, membangun citra, dan memengaruhi orang lain.

Penelitian lain yang dimuat dalam BMC Psychology menyebutkan sifat narsisme dan Machiavellianisme dapat berfungsi sebagai sumber daya personal dalam dunia kerja.

Meski demikian, para ahli menegaskan keberhasilan yang didorong oleh sifat-sifat tersebut sering kali bersifat sementara. Lingkungan kerja yang minim pengawasan, longgar secara etika, dan sangat kompetitif memang memberi ruang lebih besar bagi individu dengan kecenderungan Dark Triad untuk melesat cepat.

Namun, dalam jangka panjang, reputasi, relasi sosial, dan integritas menjadi faktor penentu keberlanjutan karier.

Psikolog juga mengingatkan psikopati bukan semata soal kekerasan fisik seperti yang kerap digambarkan dalam film. Ciri utamanya justru terletak pada ketiadaan rasa bersalah dan empati, yang membuat seseorang mampu melakukan penipuan tanpa beban emosional.

Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat  gemerlap kesuksesan di ruang publik, terutama media sosial, tidak selalu mencerminkan proses yang sehat. Keberhasilan instan yang dibangun tanpa fondasi etika berpotensi runtuh sewaktu-waktu ketika fakta mulai terkuak.

Di tengah derasnya arus pencitraan dan ambisi, para ahli menilai penting bagi masyarakat untuk tidak hanya menilai kesuksesan dari tampilan luar, tetapi juga dari nilai, proses, dan dampak yang ditinggalkan. (intan)

Boros Berkedok Self-Reward

December 27, 2025 by  
Filed under Gaya Hidup

— Istilah self-reward kini semakin akrab di kalangan anak muda. Mulai dari membeli kopi mahal, checkout barang impulsif, hingga liburan singkat, semua kerap dibenarkan atas nama “menghargai diri sendiri”. Namun, di balik narasi positif tersebut, para ahli mengingatkan adanya risiko perilaku konsumtif yang tak disadari.

Sejumlah penelitian menunjukkan, self-reward yang tidak terkontrol dapat memicu pola belanja impulsif. Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Consumer Research menjelaskan individu cenderung membenarkan pengeluaran berlebih setelah merasa lelah secara emosional atau mental. Kondisi ini dikenal sebagai emotional spending, di mana keputusan membeli lebih didorong oleh perasaan ketimbang kebutuhan rasional.

Penelitian lain dari American Psychological Association (APA) juga menyebutkan stres berkepanjangan dapat menurunkan kontrol diri seseorang, sehingga meningkatkan kecenderungan melakukan pembelian impulsif sebagai bentuk pelarian psikologis sementara. Sayangnya, efek bahagia dari perilaku tersebut umumnya bersifat singkat dan sering diikuti rasa bersalah.

Fenomena ini turut dirasakan Yuli, seorang mahasiswa dan juga freelancer yang menjadikan self-reward sebagai bentuk apresiasi setelah hari kerja yang melelahkan, namun perlahan berubah menjadi kebiasaan yang sulit dikendalikan.

“Awalnya cuma beli kopi atau jajan kecil. Lama-lama jadi sering checkout barang yang sebenarnya nggak terlalu dibutuhkan. Alasannya selalu sama, capek kerja, butuh hadiah buat diri sendiri,” ujar Yuli.

Yuli menyadari, kebiasaan tersebut berdampak langsung pada kondisi keuangannya. Ia mengaku pernah menyesal ketika menyadari sebagian besar pengeluaran bulanannya habis untuk hal-hal yang bersifat impulsif.

“Pas dicek lagi, ternyata banyak pengeluaran yang bisa ditahan. Dari situ baru sadar, self-reward itu penting, tapi kalau berlebihan justru bikin stres baru,” katanya.

Psikolog menilai, self-reward sejatinya bukan perilaku yang keliru. Namun, konsep tersebut perlu dibarengi dengan kesadaran finansial dan pengendalian diri. Mengganti self-reward berbasis konsumsi dengan aktivitas non-materi, seperti beristirahat cukup, berolahraga, atau menikmati waktu bersama orang terdekat, dinilai lebih sehat secara mental dan ekonomi.

Gula, “Silent Killer” yang Luput dari Regulasi Ketat

December 27, 2025 by  
Filed under Kesehatan

SAMARINDA — Rokok, alkohol, dan narkoba selama ini dikenal sebagai tiga zat berbahaya yang peredarannya diawasi ketat karena sifatnya yang adiktif dan berisiko mematikan. Namun di tengah kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, ada satu zat lain yang dikonsumsi hampir setiap hari, bersifat adiktif, berdampak serius bagi kesehatan, tetapi nyaris dianggap biasa, gula.

Gula hadir di hampir seluruh dapur masyarakat Indonesia, baik dalam bentuk gula pasir, gula aren, hingga gula yang tersembunyi dalam nasi, minuman kemasan, dan makanan olahan. Di balik rasanya yang manis, konsumsi gula berlebih dikaitkan dengan meningkatnya kasus obesitas dan diabetes, dua penyakit kronis yang kini menjadi ancaman serius kesehatan nasional.

Data kesehatan menunjukkan, dalam dua dekade terakhir, prevalensi obesitas di Indonesia meningkat hampir dua kali lipat. Diabetes melitus tipe 2 pun kini masuk dalam jajaran penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Kementerian Kesehatan RI menyebut konsumsi gula berlebih sebagai salah satu faktor risiko utamanya.

“Konsumsi gula berlebihan merupakan faktor risiko utama diabetes melitus tipe 2 dan obesitas,” tulis Kementerian Kesehatan RI dalam sejumlah materi edukasi GERMAS.

Peringatan soal bahaya gula sebenarnya bukan hal baru. Sejak 1972, profesor nutrisi asal Inggris, John Yudkin, telah mengingatkan dunia lewat bukunya Pure, White and Deadly. Dalam buku tersebut, Yudkin secara terang-terangan mengkritik konsumsi gula yang berlebihan dan dampaknya terhadap kesehatan manusia.

“If only a small fraction of what we now know about the effects of sugar were revealed in relation to any other substance, that substance would be immediately banned,” tulis Yudkin.
(Jika hanya sebagian kecil dari dampak gula terjadi pada zat lain, maka zat tersebut sudah lama dilarang).

Pernyataan tersebut menuai kontroversi besar pada masanya. Yudkin bahkan mendapat tekanan dari banyak ilmuwan dan industri pangan karena berani mengungkap sisi gelap gula. Meski telah berlalu lebih dari 50 tahun, peringatan itu dinilai masih relevan hingga hari ini.

Profesor Nutrisi dan Epidemiologi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, Dr. Frank Hu, menegaskan gula bukan sekadar persoalan berat badan.

“Sugary drinks are a major contributor to obesity, type 2 diabetes, and heart disease,” ujar Hu.

Artinya, minuman manis menyumbang asupan gula tinggi tanpa memberi rasa kenyang, sehingga meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung secara bertahap.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun telah lama mengeluarkan peringatan serupa. WHO menyebut tingginya konsumsi gula bebas sebagai ancaman serius bagi kualitas gizi dan kesehatan masyarakat.

WHO merekomendasikan konsumsi gula tambahan tidak lebih dari 10 persen total asupan energi harian, bahkan idealnya ditekan hingga 5 persen.

Berbeda dengan rokok dan alkohol, gula memiliki posisi unik karena secara alami terkandung dalam bahan pangan pokok seperti nasi, buah, dan umbi-umbian. Tubuh manusia memang membutuhkan glukosa sebagai sumber energi. Namun, masalah muncul ketika gula tambahan dikonsumsi secara berlebihan melalui minuman manis, makanan olahan, dan camilan populer.

Selain itu, gula telah menjadi bagian dari budaya makan, industri pangan, dan ekonomi global. Inilah yang membuat regulasi terhadap gula jauh lebih kompleks dibandingkan zat adiktif lainnya.

Kementerian Kesehatan RI sendiri menetapkan batas konsumsi gula harian maksimal 50 gram per orang per hari, atau setara dengan empat sendok makan. Namun dalam praktiknya, angka tersebut kerap terlampaui tanpa disadari, terutama karena gula tersembunyi dalam produk makanan dan minuman kemasan.

Meski bukti ilmiah terus bertambah dan kesadaran masyarakat mulai tumbuh, gula masih kerap dianggap ancaman sepele. Padahal, para ahli sepakat bahwa dampak gula bekerja perlahan, tanpa gejala instan, namun berujung pada penyakit kronis yang mematikan. (intan)

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1075500
    Users Today : 3895
    Users Yesterday : 4022
    This Year : 12010
    Total Users : 1075500
    Total views : 10587089
    Who's Online : 51
    Your IP Address : 216.73.216.188
    Server Time : 2026-01-03