Jasa Raharja Samarinda Selenggarakan Pelatihan PPGD

December 26, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA – Sebagai upaya memperkuat keselamatan berlalu lintas, PT Jasa Raharja Cabang Samarinda menggelar Pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) bagi para pengemudi angkutan umum di Kecamatan Sambutan, Kota Samarinda, Selasa, (23/12/2025). Kegiatan ini diselenggarakan sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kesiapsiagaan pengemudi dalam menghadapi situasi darurat di jalan raya.

Melalui pelatihan PPGD, para peserta dibekali pengetahuan serta keterampilan dasar mengenai penanganan awal korban kecelakaan lalu lintas. Materi yang disampaikan meliputi penanganan korban tidak sadar, penghentian pendarahan, hingga tindakan pertolongan pertama sebelum korban memperoleh penanganan medis lanjutan.

Penanggung Jawab Pelayanan Jasa Raharja Samarinda, Rivaldy Arvelsa Landarto, menyampaikan, pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen Jasa Raharja dalam mendorong peran aktif pengemudi terhadap keselamatan lalu lintas.

“Kami berharap para pengemudi tidak hanya mengutamakan keselamatan dalam berkendara, tetapi juga memiliki kepedulian serta kemampuan dasar untuk memberikan pertolongan kepada sesama saat terjadi kecelakaan. Respons awal yang cepat dan tepat sangat berpengaruh terhadap keselamatan korban,” ungkap Arvel.

Selain pemaparan materi, kegiatan ini juga dilengkapi dengan sesi praktik dan simulasi penanganan kondisi gawat darurat yang berpotensi terjadi di jalan raya. Dengan praktik langsung tersebut, peserta diharapkan mampu memahami sekaligus menerapkan ilmu yang diperoleh secara optimal.

Melalui pelaksanaan kegiatan ini, Jasa Raharja Cabang Samarinda menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi dengan perusahaan angkutan umum serta para pemangku kepentingan lainnya, guna meningkatkan keselamatan berlalu lintas, menekan angka kecelakaan, dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat Kota Samarinda. (*)

Jasa Raharja Samarinda Bekali Masyarakat Sangatta Utara dengan Pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat

December 26, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

SANGATTA – Sebagai bentuk komitmen dalam menekan tingkat fatalitas korban kecelakaan lalu lintas, Jasa Raharja Cabang Samarinda Wilayah Kabupaten Kutai Timur menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan Pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) di Sangatta Utara, Rabu (24/12/2025).

Pada kegiatan tersebut, perwakilan Jasa Raharja Kutai Timur, Hur Rahman, menyampaikan paparan mengenai peran dan fungsi Jasa Raharja, sekaligus menjelaskan tujuan utama pelaksanaan sosialisasi dan pelatihan PPGD. Kegiatan diawali dengan penyampaian materi, kemudian dilanjutkan dengan sesi praktik pertolongan pertama gawat darurat yang dirancang untuk memberikan pemahaman dan keterampilan dasar kepada para peserta.

Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi dengan aktif mengikuti sesi diskusi dan tanya jawab, serta terlibat langsung dalam praktik penanganan awal korban kecelakaan. Pelatihan PPGD ini merupakan bagian dari Program Keselamatan Transportasi Jasa Raharja yang bertujuan meminimalkan tingkat fatalitas kecelakaan, khususnya di wilayah yang tergolong rawan kecelakaan lalu lintas.

Selain memberikan pembekalan materi dan keterampilan PPGD, Jasa Raharja juga menyampaikan imbauan kepada seluruh peserta agar senantiasa mematuhi peraturan lalu lintas dan mengutamakan keselamatan dalam berkendara. Dengan demikian, masyarakat diharapkan tidak hanya mampu memberikan pertolongan pertama saat terjadi kecelakaan, tetapi juga semakin sadar akan pentingnya perilaku berlalu lintas yang aman dan tertib.

Melalui terselenggaranya kegiatan ini, Jasa Raharja berharap dapat berkontribusi dalam menurunkan angka kecelakaan serta tingkat fatalitas korban, mengurangi jumlah korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas, dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk patuh terhadap aturan demi terciptanya lalu lintas yang aman, tertib, dan nyaman. (*)

Warga Binaan Lapas Bontang Terima Remisi Khusus Natal 2025

December 26, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

BONTANG – Suasana penuh sukacita menyelimuti Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bontang pada peringatan Hari Raya Natal, Kamis (25/12)/2025.

Sebanyak 136 warga binaan yang beragama Kristen dan Katolik menerima Remisi Khusus (RK) Natal Tahun 2025. Dari jumlah tersebut, satu orang di antaranya dipastikan langsung menghirup udara bebas.

Pemberian remisi ini merupakan bentuk apresiasi negara kepada Warga Binaan yang telah menunjukkan perubahan perilaku positif dan memenuhi syarat administratif maupun substantif selama menjalani masa pidana. Penyerahan itu diberikan langsung secara simbolis Kepala Lapas Kelas IIA Bontang, Suranto, kepada perwakilan warga binaan di Gereja Oikumene Lapas Bontang.

Suranto menegaskan, remisi bukan sekadar pengurangan masa hukuman, melainkan hak yang diberikan atas pencapaian warga bnaan dalam mengikuti program pembinaan. Untuk itu dirinya mengingatkan kepada seluruh WBP untuk terus menunjukkan sikap terbaik dalam menjalani masa tahanan. Bahkan kata dia, pemberian remisi ini harus mengikuti beberapa aturan yang sudah ditetapkan.

“Remisi ini adalah reward dari pemerintah atas kesungguhan dalam mengikuti pembinaan di Lapas. Khusus bagi satu orang yang langsung bebas hari ini (RK II), kami ucapkan selamat kembali ke keluarga. Jadikan pengalaman di sini sebagai pelajaran berharga untuk menjadi pribadi yang lebih baik di tengah masyarakat,” ungkap Suranto.

Suranto juga menyebut seluruh proses pengusulan remisi dilakukan secara transparan melalui Sistem Database Pemasyarakatan (SDP) tanpa dipungut biaya apapun. Ia berharap momen Natal ini dapat menjadi motivasi bagi Warga Binaan lainnya untuk terus berkelakuan baik dan produktif selama berada di dalam Lapas.

“Jadikan momen ini untuk terus berbuat baik dalam menjalani masa hukuman,”harapnya.

Adapun rincian perolehan remisi bagi 136 warga binaan tersebut yaitu Remisi Khusus I (Pengurangan Sebagian) sebanyak 135 orang dan remisi Khusus II (Langsung Bebas) sebanyak satu orang.

Besaran pengurangan masa pidana yang diterima bervariasi, mulai dari 15 hari hingga 2 bulan, sesuai dengan masa pengabdian dan ketentuan yang berlaku. Kegiatan pemberian remisi diakhiri dengan doa bersama dan ibadah Natal, yang berlangsung dengan khidmat serta dalam pengawasan keamanan yang kondusif. (wan)

Ketika Cita-cita Tak Sampai Tujuan, Tapi Takdir Menemukan Jalan

December 25, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

Tidak semua orang berjalan lurus menuju cita-citanya. Sebagian justru tiba di persimpangan yang tak pernah mereka rencanakan, lalu menetap di sana dan tumbuh. Intan Tarbiatul Wardah adalah salah satunya. Mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Program Studi Manajemen semester lima ini tak pernah memasukkan profesi jurnalis dalam daftar impian hidupnya. Bahkan, dunia jurnalistik sama sekali tidak pernah ada dalam ceklis masa depannya.

Perempuan asal Bogor ini menghabiskan masa remajanya dengan mimpi yang jauh dari ruang redaksi. Ia ingin menjadi dokter, mengenakan jas putih, dan menempuh pendidikan kedokteran. Cita-cita itu tumbuh sejak sekolah menengah, sebelum arah hidupnya perlahan bergeser.

“Jujur saja, jadi jurnalis itu tidak pernah ada di bayangan hidup saya. Dulu saya ingin sekali jadi dokter, kuliah di kedokteran, pakai jas putih, dan fokus menolong orang,” ujar Intan.

Selepas SMA, Intan melanjutkan pendidikan ke Tasikmalaya dan menempuh pendidikan di salah satu pesantren. Di saat yang sama, ia tetap melanjutkan studi formal dengan berkuliah di Universitas Terbuka Bandung, mengambil Program Studi Manajemen. Dari lingkungan pesantren inilah, takdirnya mulai menemukan jalannya sendiri.

Langkah pertama Intan ke dunia jurnalistik bermula dari program santri jurnalistik yang diikuti di pesantren. Program tersebut membuka ruang baru baginya untuk mengenal dunia media sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia rencanakan. Dari sanalah ia mulai belajar dasar-dasar jurnalistik, memahami cara kerja media, hingga menyadari bahwa informasi memiliki tanggung jawab sosial yang besar.

“Awalnya hanya ikut kegiatan saja. Tapi dari situ saya mulai paham, ternyata menyampaikan informasi itu ada etikanya, ada bebannya, dan ada dampaknya,” tuturnya.

Sejak 2022, Intan mulai aktif terjun di dunia jurnalistik. Perjalanannya tidak langsung dimulai sebagai reporter, melainkan dari peran uploader. Dari posisi itu, ia perlahan mengenal ekosistem media, mengelola konten, memahami ritme kerja redaksi, hingga belajar menulis berita secara bertahap.

“Saya belajar bahwa informasi itu bukan sekadar cepat, tapi harus benar. Di situ saya mulai merasa, jurnalisme itu berat, tapi bermakna,” katanya.

Pada tahun 2023, Intan mengambil keputusan besar, terbang ke Kalimantan Timur. Ia menetap dan bergabung sebagai jurnalis di salah satu media lokal. Lingkungan baru, wilayah liputan baru, dan tanggung jawab baru datang bersamaan. Jalur ini bukan jalur yang pernah ia gambar di masa lalu, namun ia memilih bertahan dan menjalaninya.

Fenomena seperti Intan bukanlah cerita tunggal. Di tengah realitas hari ini, profesi jurnalis kerap menjadi cita-cita yang terpinggirkan bukan karena tak penting, melainkan karena jarang disebut sebagai tujuan utama. Banyak jurnalis lahir bukan dari mimpi masa kecil, melainkan dari pertemuan antara kesempatan, kebutuhan hidup, dan panggilan nilai.

“Kalau ditanya sekarang, menyesal atau tidak tidak jadi dokter? Tidak juga,” kata Intan. “Mungkin saya tidak menyembuhkan orang lewat medis, tapi lewat berita saya berharap bisa membuka mata banyak orang.”

Hingga kini, Intan masih menetap di Kalimantan dan aktif menjalani profesi sebagai jurnalis, sembari melanjutkan studinya di Universitas Terbuka. Baginya, jurnalisme bukan sekadar pekerjaan, melainkan ruang untuk terus belajar dan memberi makna.

Tak ada rotan, akar pun jadi, bukan dalam makna keterpaksaan, tetapi sebagai simbol kemampuan manusia beradaptasi dan memberi arti pada jalan yang tersedia.

Cita-cita boleh bergeser, bahkan terpinggirkan oleh keadaan. Namun bukan berarti ia gagal. Dalam beberapa kasus, ia justru bertransformasi.

“Sekarang saya percaya, tidak semua orang bekerja sesuai cita-citanya, tapi setiap orang bisa bekerja dengan makna,” tutupnya. (*)

Benarkah Menangis Membakar Kalori?

December 25, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA — Menangis sering dipandang sebagai ekspresi kelemahan, tetapi sejumlah penelitian medis justru menunjukkan fenomena ini merupakan proses biologis kompleks yang memiliki efek fisiologis nyata pada tubuh manusia. Dari pembakaran energi hingga dampak terhadap hormon stres, tangisan bukan sekadar luapan emosi tanpa makna.

Menurut para ahli, setiap tetes air mata emosional melibatkan kerja tubuh yang membutuhkan energi, meski jumlahnya sangat kecil. “Air mata emosional melepaskan hormon stres dan racun lain yang terakumulasi selama stres, serta memicu produksi endorfin hormon pereda nyeri dan ‘feel-good’,” ujar Dr. William H. Frey, seorang biokimiawan yang dikutip dalam diskusi medis di Mayo Clinic Connect.

Penelitian sebelumnya yang dirangkum dalam berbagai kajian kesehatan menunjukkan, menangis secara biologis dapat membakar sekitar 1,3 kalori per menit  jumlah yang setara dengan kalori tubuh yang terbakar saat tertawa.

Dengan demikian, menangis selama 20 menit diperkirakan membakar sekitar 26 kalori. Namun, para peneliti menegaskan angka ini sangat kecil jika dibandingkan dengan aktivitas fisik lain seperti berjalan cepat atau olahraga rutin.

Spesialis kesehatan dari Harvard Health menyatakan, meskipun tubuh menggunakan energi saat menangis, efeknya tidak signifikan untuk dijadikan metode penurunan berat badan. Untuk mendapatkan defisit kalori yang berdampak pada berat badan, seseorang perlu menciptakan pengurangan sekitar 500 kalori per hari melalui pola makan dan aktivitas fisik yang konsisten.

Selain aspek kalori, manfaat terbesar dari tangisan justru ditemukan pada regulasi emosi dan mekanisme pemulihan stres. Para profesional kesehatan menjelaskan bahwa menangis memicu pelepasan hormon seperti oksitosin dan endorfin, yang dapat membantu meredakan stres, mengurangi kecemasan, serta meningkatkan suasana hati.

“Kapan pun seseorang menangis setelah pengalaman emosional yang intens, tubuhnya tidak hanya bereaksi secara psikologis tetapi juga secara fisiologis mengaktifkan respons sistem saraf parasimpatis yang membantu tubuh kembali rileks,” tulis Harvard Health.

Tak hanya itu, air mata juga memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mata. Air mata basal mengandung enzim lisozim, yang membantu membasmi bakteri dan menjaga kelembapan permukaan mata, fungsi yang penting bagi kesehatan visual jangka panjang.

Meskipun menangis merupakan proses alami, para psikolog dan psikiater memperingatkan agar memahami perbedaan antara ekspresi sehat dan gejala gangguan emosional. Menangis yang terlalu sering tanpa sebab yang jelas, atau disertai gejala lain seperti gangguan tidur, kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari, dan perasaan putus asa, bisa menjadi tanda awal gangguan kesehatan mental seperti depresi.

Menurut pakar kesehatan mental, jika tangisan menjadi frekuen dan mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari, penting untuk mencari dukungan profesional guna mengevaluasi kondisi emosional yang mendasarinya.

Secara ilmiah, menangis memang memicu respons tubuh yang kompleks dari pembakaran energi, perubahan hormon hingga peran dalam menjaga kesehatan mata. Namun, jumlah kalori yang terbakar terlalu kecil untuk dianggap sebagai alat penurunan berat badan. Sebaliknya, manfaat terbesar dari tangisan justru ditemukan pada aspek psikologis, membantu tubuh dan pikiran pulih dari tekanan emosional.

Para pakar kesehatan menegaskan, tangisan adalah bagian alami dari pengalaman manusia dan dapat menjadi sarana refleksi emosi serta pemulihan, bukan alat diet. (*)

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1091249
    Users Today : 4127
    Users Yesterday : 5223
    This Year : 27759
    Total Users : 1091249
    Total views : 10691606
    Who's Online : 54
    Your IP Address : 216.73.216.88
    Server Time : 2026-01-06