Gratispol Rp750 Miliar di Hari Kartini

April 25, 2025 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

PERINGATAN Hari Kartini Provinsi Kaltim agak beda di tahun 2025 ini. Maklum acara nasional tahunan itu ditandai dengan peluncuran secara resmi 6 Program Gratispol Generasi Emas sebagai perwujudan janji politik Gubernur Rudy Mas’ud dan wakilnya Seno Aji.

Ke-6 program Gratispol itu adalah program pendidikan gratis jenjang SMA/SMK/MA, SLB, D3, S1, S2 hingga S3, gratis seragam sekolah, pelayanan kesehatan gratis dan berkualitas bersama BPJS Kesehatan, bebas biaya administrasi kepemilikan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), internet gratis untuk seluruh desa, serta umrah dan perjalanan spiritual gratis bagi marbot masjid dan penjaga rumah ibadah lainnya.

Gubernur Rudy, Wagub Seno Aji, dan Sekprov Sri Wahyuni bersama 53 pimpinan perguruan tinggi yang menerima Program Gratispol bidang pendidikan

Acara tersebut digelar di Plenary Hall GOR Kadrie Oening Samarinda, Senin (21/4) lalu. Berlangsung meriah diselingi peragaan busana daerah. Ada stand-stand SKPD.  Juga penuh puja-puji dan aplaus. Semua berwajah ceria sambil mengenakan syal biru bertuliskan Gratispol.

“Hari ini bukan sekadar peluncuran program. Ini lompatan peradaban. Ini kado perubahan. Ini adalah janji yang kami wujudkan untuk rakyat Kalimantan Timur,” kata Gubernur Rudy penuh semangat  seperti saat kampanye.

Rudy didampingi wakilnya Seno Aji. Hadir semua kepala daerah se-Kaltim dan anggota Forkopimda. Istri Rudy dan Seno, Hj Syarifah Suraidah dan Hj Wahyu Hernaningsih Seno juga datang. Apalagi Suraidah selain sebagai ketua PKK juga anggota DPR RI Dapil Kaltim.

Tak kalah sibuknya adalah Sekretaris Pemprov (Sekprov) Sri Wahyuni. Soalnya dia yang mengatur pergeseran anggaran APBD 2025 ke program Gratispol. Sedang Rudy-Seno dalam menjabarkan janji politiknya didampingi tim transisi yang diketuai Rusmadi Wongso, mantan Sekprov dan wakil wali kota Samarinda.

Dari hasil pergeseran anggaran, Sri berhasil mengalokasikan dana untuk program Gratispol bidang pendidikan sebesar Rp750 miliar. “Dana itu hanya untuk mahasiswa baru di 53 kampus. Belum termasuk seragam sekolah atau bantuan operasional satuan pendidikan yang juga masuk dalam Gratispol Pendidikan di SMA sederajat,” jelasnya.

Menurut Gubernur,  tahun depan program ini diperluas secara menyeluruh. Akan disisihkan dana jumbo sebesar Rp2,1 triliun dari APBD 2026. “Nanti semua pelajar dan mahasiswa termasuk mahasiswa lama dapat menikmati pembebasan biaya pendidikan,” tambahnya.

Dalam menjalankan programnya, Rudy yang akrab dipanggil HARUM (Haji Rudy Mas’ud) juga mendapat dukungan dari dua kakak kandungnya yaitu Hasanuddin Mas’ud (HAMAS) dan Rahmad Mas’ud (RM). HAMAS adalah ketua DPRD Kaltim dan RM menduduki jabatan Wali Kota Balikpapan.

“DPRD Kaltim mendukung penuh pelaksanaan program Gratispol. Kalau perlu dibuatkan Perdanya. Ini adalah jawaban atas kebutuhan masyarakat di daerah ini, sekaligus mendukung agenda nasional dalam mencerdaskan kehidupan bangsa,” kata HAMAS.

Sedang RM berpendapat, kehadiran program Gratispol memperkuat program yang sudah dijalankan Pemkot Balikpapan. “Selama ini kami hanya menggunakan APBD Kota, yang cakupannya masih terbatas. Kini dengan dukungan provinsi, masyarakat punya kesempatan lebih luas lagi,” tambahnya.

ADA YANG TIDAK IKUT

Dari enam program Gratispol yang diluncurkan, tentu saja yang menjadi primadona adalah program Gratispol bidang pendidikan terutama bagi mahasiswa Kaltim yang sedang kuliah di perguruan tinggi (PT). Soalnya janji Rudy akan digratiskan sampai S3.

Ada 53 rektor PT negeri dan swasta se-Kaltim diundang untuk menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Gubernur Rudy. “Termasuk kita dari Institut Teknologi Kalimantan (ITK),” kata Rektor ITK Prof Agus Rubiyanto.

Agus mengapresiasi adanya program Gratispol yang sangat membantu mahasiswa dan para orangtua terutama yang keadaan ekonominya sangat terbatas. “Kami mendukung penuh program ini yang sangat besar manfaatnya bagi mahasiswa,” ujarnya.

Dia juga senang sempat berdialog dengan Rudy dan Seno. “Tadi Mas Gubernur dan Wagub siap membantu membangun pintu gerbang ke kampus ITK,” kata Rektor yang pernah bertugas sebagai atase pendidikan di Jerman.

Hal yang sama juga disampaikan Rektor Universitas Mulia Balikpapan Prof Muhammad Ahsin Rifa’i dan Rektor Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda Prof Abdunnur. “Kita menyambut baik program Gratispol, apalagi kalau sudah berjalan penuh,” kata mereka.

Menurut Prof Abdunnur, program Gratispol akan membuka kesempatan yang lebih luas bagi putra-putri Kaltim untuk mengenyam pendidikan tinggi, juga mendorong pimpinan PT untuk meningkatkan akreditasi program studi sehingga pendidikan berkualitas bisa dicapai.

Dari catatan yang ada, sebenarnya ada 63 PT di Benua Etam. Tapi ternyata tidak semua ikut karena tidak menyerahkan jumlah kuota mahasiswanya terutama dari PT swasta. “Malah ada pondok pesantren yang tidak mau mengambil program Gratispol,” ujar Plt Kepala Disdikbud Kaltim Rahmat Ramadhan seperti diberitakan tribunkaltim.

Rahmat menegaskan, bagi PT yang sejak awal tidak masuk dalam daftar kerja sama program Gratispol, maka tidak akan bisa lagi mendaftar untuk tahun-tahun berikutnya.

Dari 53 PT yang menandatangani nota kesepahaman dengan Gubernur Rudy, yang menarik ternyata ada dua PT dari luar Kaltim yaitu Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Di kedua PT ini memang banyak anak Kaltim yang lagi studi.(*)

Walkot Yogya Orang Kaltim

April 23, 2025 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

SAYA ke Yogyakarta minggu lalu. Saya sempatkan silaturahmi dengan Wali Kota Yogyakarta  Hasto Wardoyo (60). Bukan Hasto Kristiyanto, yang sekjen PDIP.  Tapi Hasto Wardoyo juga dari PDIP. Kebetulan mereka  sama-sama dari Yogyakarta.

Saya menganggap Hasto Wardoyo orang Kaltim, meski lahir di Kulon Progo. Soalnya dia pernah  bertugas di Benua Etam. Ada yang bilang, setiap orang yang pernah meminum air Mahakam, maka dalam darahnya juga mengalir darah Kaltim.

Wakil Wali Kota Balikpapan Bagus Susetyo dan istri bersama Bunda Arita dan AKBP Sukarman.

“Siap wali kota senior, saya tunggu kedatangannya,” katanya menjawab WhatsApp (WA) saya. Itu saya kirim dari Bandung setelah menghadiri silaturahmi pembentukan Forum Wali Kota Senior (FWS) yang difasilitasi Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI).

Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM), Hasto bertugas di Kaltim. Mulai tahun 1990 sampai 1995. Dia ditunjuk sebagai kepala Puskesmas Kahala, Kukar, kepala Puskesmas Melak sampai kepala Puskesmas Lok Tuan. Lalu dia mengambil spesialis kandungan (Sp.Og).

Setelah itu dia sempat menjadi kepala Instansi Kesehatan Reproduksi & Bayi Tabung RSUP Dr Sardjito Sleman sampai dosen Fakultas Kedokteran UGM. Dia juga sempat mendirikan RS Khusus Ibu dan Anak (RSKIA) Sadewa, yang dikenal luas dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak.

Berkat pengabdiannya itu, Hasto memperoleh penghargaan sebagai Dokter Teladan 1992 dari Presiden Soeharto. Juga Satyalencana Bidang KB tahun 2010 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kemudian dianugerahi Bintang Jasa Utama dari Presiden Jokowi.

Hasto pulang kampung. Dia terpilih menjadi bupati Kulon Progo 2011-2016 dan 2017-2019. Lalu ditunjuk Presiden Jokowi menjadi kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Kembali ke karier politik dengan terpilihnya dia menjadi Wali Kota Yogyakarta 2025-2030.

Ketika menjadi bupati Kulon Progo, saya sempat ke sana. Dia sangat populer dan disukai warganya. Banyak terobosan yang dilakukannya sehingga Kulon Progo maju dan sejahtera. Kulon Progo makin terkenal setelah bandara internasional Yogyakarta dipindahkan ke sana.

Dengan semangat “Bela & Beli Kulon Progo,” Hasto sempat mewajibkan 80 ribu pelajar dan 8 ribu PNS mengenakan seragam batik geblek renteng, batik khas Kulon Progo. Juga mewajibkan PNS membeli beras produksi petani Kulon Progo sebanyak 10 kg per bulan. Lalu PDAM-nya juga didorong mengembangkan usaha dengan memproduksi air kemasan merk AirKu (Air Kulon Progo).

Berkat kebijakan dan inovasi itu, perekonomian Kulon Progo berkembang pesat. Angka kemiskinan menurun. Pembatik dan petani senang karena produksinya dikonsumsi warganya. Produksi AirKu juga mampu menguasai seperempat ceruk pasar air kemasan di daerah itu. Sehingga ditiru daerah lain termasuk Yogyakarta.

DITUNJUK DADAKAN

Hasto mengaku mengikuti Pilwali Yogyakarta 2024 secara dadakan. “Tinggal dua hari lagi pendaftaran saya diinstruksikan Ketua Umum PDIP Ibu Megawati untuk mengikuti Pilkada,” katanya bercerita.

Jadi boleh dibilang tanpa persiapan. Dia berpasangan dengan Wawan Harmawan nekat maju. Hampir tak ada baliho dan spanduk. “Kita hanya mengikuti kampanye selama 48 hari,” katanya.

Di luar dugaan dia berhasil memenangi Pilwali Yogyakarta dengan meraih 44,40 persen melebihi dua paslon lainnya. “Benar-benar surprise buat saya dan PDIP. Selain kurang persiapan, saya tak menyangka warga Yogya mencatat dan merekam hasil kerja baik saya selama di Kulon Progo,” kata Hasto.

Hasto-Wawan memiliki misi menjadikan Kota Yogyakarta dengan potensi sumber daya alam (SDA) yang tidak banyak sebagai pusat keunggulan (center of excellence) dan pusat rujukan (center of referral) lewat potensi budaya, pariwisata serta pendidikannya.

“Mestinya Yogyakarta bisa menjadi Singapura kecil, bisa melaksanakan hal itu,” katanya  penuh semangat dalam suatu kesempatan.

Saya sempat menanyakan gagasan baru Hasto tentang program food bank untuk seribu lansia di kota Yogya. Ternyata itu program menampung makanan berlebihan dari kegiatan masyarakat terutama perhotelan yang bisa disalurkan kepada mereka terutama lansia yang sangat membutuhkan.

Hasto juga berhadapan dengan masalah sampah dan kemacetan. Ini juga menjadi prioritas dia untuk membuat Yogya lebih nyaman dan bersih.

Saya menemui Wali Kota Hasto bersama cucu saya Dafa yang lagi kuliah di Fakultas Teknik Universitas Islam Indonesia (UII). Dia senang sekali bisa bertemu Hasto. Apalagi Hasto memberikan support. “Sini kita foto Dafa di tengah, biar nanti juga jadi wali kota,” katanya.

Hasto tahu banyak putra Kaltim belajar di Yogya. Sejak dulu. Dia memberikan apresiasi. Putri bungsu saya, Aisya Febria juga lulusan UGM. Dia menempuh jurusan hubungan internasional di Fakultas Sosial Politik.

Ruang kerja Hasto sangat sederhana. Saya lihat tak ada perabotan yang baru. Biasanya kepala daerah baru maunya ruang kerja juga serba baru. Tapi sepertinya Hasto tidak. Itu pertanda bahwa dia penganut gaya hidup tidak berlebihan. Ketika saya datang, dia membawa bakpia, kue pastry asal Yogya yang sangat terkenal.

Bakpia Pathok 25 dan Bakpia Pathok 75 adalah dua merek bakpia terkenal di Yogyakarta. Bakpia Pathok 25 didirikan pada tahun 1948 oleh Ibu Tan Aris Nio. Sedang Bakpia Pathok 75 merupakan cikal bakal bakpia pathok.

Istri saya, Bunda Arita juga senang mendengar saya bertemu Hasto. Dia juga warga Paguyuban Keluarga Ngayogyakarta Hadiningrat  (Pakaryaning Yogya) di Balikpapan. Kebetulan Wakil Wali Kota Balikpapan sekarang Bagus Susetyo juga kelahiran Yogya, sehingga Paguyuban Ngayogyakarta Balikpapan yang diketuai AKPB Sukarman sekarang makin semarak.

Ketika berada di Yogya, saya menginap di Hotel Platinum Adisucipto di Jl Raya Solo-Yogyakarta. Dekat Bandara Adisucipto. Itu hotel milik Pak Charles, bos Platinum Balikpapan. Hotel Bintang 4 ini sangat baik pelayanan dan menu makannya.

Saya difasilitasi oleh direktur operasional Sugianto, yang juga ketua PHRI Balikpapan. “Dunia perhotelan lagi tidak baik-baik saja, karena tingkat hunian menurun di mana-mana setelah adanya kebijakan pemangkasan. Kita perlu mendapat dukungan baru dari pemerintah,” katanya penuh harap.(*)

Airin, Cak Ery, dan Bima

April 22, 2025 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

BEBERAPA waktu lalu saya pernah berkomunikasi dengan Airin Rachmi Diany. Dia adalah Wali Kota Tangerang Selatan 2011-2021 dan ketua Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI). Salah satu yang digagas Airin dia ingin reunian atau kumpul-kumpul dengan mantan pengurus APEKSI pada masanya.

Gagasan Airin itu terwujud Selasa (15/4) lalu. Ketua APEKSI sekarang Ery Cahyadi, yang juga Wali Kota Surabaya mengundang sejumlah alumni pengurus APEKSI. Acaranya berlangsung di Pendopo Kota Bandung. Maklum Wali Kota Bandung M Farhan bersedia menjadi tuan rumah.

Pendopo Kota Bandung itu kediaman resmi Wali Kota Bandung. Terletak di Jalan Dalemkaum di kawasan Alun-alun. Pendopo ini bangunan bersejarah. Usianya sudah ratusan tahun karena didirikan sejak 1812. Sebagian bangunan berbahan kayu dengan taman yang asri. Saya takjub.

“Untuk kebaikan dan kemajuan kota serta para wali kotanya, saya siap menjadi tuan rumah,” kata Farhan, yang  sebelumnya dikenal sebagai presenter. Sebelum jadi wali kota, dia adalah anggota DPR RI dari Fraksi NasDem.

Bersama Danny Pomanto dan Wali Kota Tarakan dr Khairul

Sebagai tuan rumah, Farhan menjamu tamu-tamunya dengan makanan khas Bandung. Tentu ada batagor. Dihibur juga dengan musik dan suasana yang nyaman. Ada juga cenderamata berupa iket totopong atau udeng.

Di kediaman resmi Wali Kota Bandung itu, datang sejumlah pengurus APEKSI dan mantan pengurus. Selain Airin, ada juga Wakil Mendagri Bima Arya Sugiarto, yang ketika menjadi Wali Kota Bogor dia terpilih sebagai ketua APEKSI menggantikan Airin.

Pemilihannya di waktu wabah Covid 2021. Saya sebagai Wali Kota Balikpapan yang menjadi ketua sidang. Bima terpilih secara aklamasi. Tadinya dia  bersaing dengan Wali Kota Jambi Syarif Fasha, yang sekarang menjadi anggota DPR RI dari Fraksi NasDem.

Datang juga ke Bandung Hendrar Prihadi, Kepala LKPP yang juga mantan Wali Kota Semarang. LKPP adalah Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa. Selain itu ada Taufan Pawe, mantan Wali Kota Parepare yang kini menjadi anggota DPR RI. Ramadhan “Danny” Pomanto, mantan Wali Kota Makassar dan Jefirston R Kore (mantan Wali Kota Kupang).

Selain itu ada juga Wahdi Siradjuddin (mantan Wali Kota Metro), Helldy Agustian (mantan Wali Kota Cilegon) dan Marten Taha (mantan Wali Kota Gorontalo).

Sayang Kang Ridwan Kamil (RK) tidak hadir. Dia dulu Wali Kota Bandung yang lanjut jadi gubernur Jabar. Dia salah satu wali kota yang kaya dengan gagasan.

Ketua APEKSI Ery Cahyadi foto bersama dengan para wali kota senior termasuk Wamendagri Bima Arya dan Airin Rachmi.

Dari APEKSI, selain Cak Ery, hadir juga dr Khairul (Wali Kota Tarakan), Eva Dwiana (Wali Kota Bandar Lampung), Dedy Yon Supriyono ( Wali Kota Tegal), Ika Puspitasari (Wali Kota Mojokerto) dan Achmad Afzan Arslan Djunaid (Wali Kota Pekalongan).

Saya datang ke Bandung lewat Jakarta. Sekalian mau mencoba naik kereta cepat Whoosh. Saya pikir Whoosh itu nama asing. Atau nama dari China, pabriknya. Ternyata Whoosh singkatan dari Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Hebat. Bayangkan dari Jakarta ke Bandung hanya 35 menit. “Ini kereta orang kaya,” celetuk cucu saya Jena.

SUPAYA TIDAK TERPUTUS

Walaupun acaranya bertema silaturahmi, Bima dan Airin banyak mewarnai pembicaraan. Mereka ingin hubungan para alumni dengan APEKSI tidak terputus. Lalu muncul gagasan membuat lembaga. Sempat terbersit nama Ikatan Alumni (IKA) Wali Kota. Tapi terasa seperti perguruan tinggi. Lalu Wali Kota Makassar Danny Pamanto yang mengusulkan Senior Mayor Forum seperti di beberapa kota dunia. Akhirnya Airin yang menyudahi dengan istilah Forum Wali Kota Senior (FWS).

Saya agak surprise, karena sebutan wali kota senior sebelumnya diucapkan Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo. Ketika saya hubungi lewat WA karena saya ingin berkunjung ke kantornya, dia menjawab: “Siap Pak Wali Senior.”

FWS ini bukan lembaga yang berdiri sendiri. Tapi tetap berada di lingkungan APEKSI. Karena itu dalam Rakernas APEKSI di Surabaya nanti, ada kemungkinan FWS dideklarasikan.  Dan FWS diberi kesempatan untuk memberi masukan kepada APEKSI, para wali kota aktif dan pemerintah. “Nanti sekali-kali kita undang sebagai pembicara untuk berbagi pengalaman kepada kita,” kata Cak Ery.

Direktur Eksekutif/Sekretaris Dewan Pengurus APEKSI Alwis Rustam menyatakan siap melibatkan FWS dalam berbagai kegiatan APEKSI. “Kita perlu selalu berkomunikasi dengan para wali kota senior,  karena banyak pengalaman mereka yang bisa memberikan kontribusi untuk kemajuan APEKSI, para wali kota aktif serta pemerintah,” jelasnya.

Menurut Bima, FWS juga penting buat pemerintah terutama Kementerian Dalam Negeri. “Kita perlu masukan untuk kebijakan perkotaan di masa depan,” jelasnya. Selain juga berbagai masalah aktual, seperti pilkada, efisiensi dan berbagai hal pembangunan perkotaan.

Bima juga menginformasikan kebijakan pembangunan yang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yang sangat berorientasi untuk kesejahteraan masyarakat.

Danny Pomanto mengutarakan niatnya. Dia akan mengundang mantan pengurus APEKSI dan para mantan wali kota datang ke Festival F8 di Kota Makassar. “Sekalian kita reunian,” katanya bersemangat.

Menurut Danny, F8 adalah Festival Kota Tepian Air terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Tadinya festival ini didukung langsung oleh Pemkot Makassar, tapi dalam tiga tahun terakhir pengelolaannya sudah dilakukan secara mandiri.

Saya termasuk yang semangat menyikapi undangan itu. Soalnya sudah rindu pingin makan pallubassa serigala di Jl Serigala 54, Mamajang Dalam. Juga pisang epe’ di Pantai Losari dan jagung pulut rebus khas Makassar. Belum lagi  ikan bakar dan masakan pallumara-nya. Sederet kuliner yang selalu menggoda kita untuk datang memenuhi undangan Danny Pomanto.(*)

Doktor Haji Rudy Mas’ud

April 16, 2025 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

HAJI Rudy Mas’ud alias HARUM lagi harum-harumnya. Setelah menjadi gubernur Kaltim, gelar akademisnya pun semakin lengkap. Dia baru saja diwisuda bersama sang kakak, Hasanuddin Mas’ud (HAMAS) yang juga ketua DPRD Kaltim sebagai lulusan S3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda.

Dengan demikian Rudy dan Hasan berhak menyandang gelar doktor (Dr). Bisa jadi mereka memecahkan rekor. Setidaknya di Kalimantan. Kakak beradik jadi gubernur dan ketua DPRD. Sama-sama pula meraih gelar S3. Malah biasanya trio. Ada satu lagi saudara mereka, yaitu Rahmad Mas’ud (RM), yang saat ini menjadi wali kota Balikpapan.

Rahmad sudah meraih dua gelar. S1 di Universitas Tridarma (UNTRI) Balikpapan yang kini sudah tutup. Lalu magisternya di FEB Unmul. Sedang S3-nya saya belum tahu kenapa tidak rampung bersamaan.

Saya juga kurang jelas apakah Rudy sudah menyandang dua gelar doktor. Soalnya dia juga menempuh studi doktoral Ilmu Hukum di Universitas Trisakti Jakarta sejak 2020. Kalau doktornya dua, apa disebut “doktor, doktor” ya?

Mengutip Wikipedia, Rudy Mas’ud yang lahir di Balikpapan 7 Desember 1981, mengawali pendidikan dasar di SD 008 Balikpapan (1987-1993). Lalu pendidikan menengah pertamanya di SMP Negeri 4 Samarinda (1993-1996). Selanjutnya di SMA Negeri 2 Balikpapan (1996-1999).

Studi S1, S2 dan S3 semuanya ditempuh Rudy di FEB Unmul. Sedikit beda dengan sang kakak. S1 Hasan di Fakultas Kehutanan Unmul, baru S2 dan S3-nya di FEB.

Rudy bersama saudara-saudaranya sukses di bisnis minyak. Mereka sukses meraup kekayaan sampai ratusan miliar.  Lalu merambah di dunia politik. Mereka menggunakan perahu partai berlambang pohon beringin. Rudy menjadi ketua Golkar Kaltim, Hasan menjadi ketua Golkar Kutai Kartanegara (Kukar) dan Rahmad menjadi ketua Golkar Balikpapan.

Satu-satunya anggota keluarga mereka yang berada di luar Golkar adalah Abdul Gafur Mas’ud (AGM). Dia sempat menjadi ketua Demokrat Balikpapan. Lalu terpilih menjadi bupati Penajam Paser Utara (PPU). Sayang karier politiknya terhenti, setelah KPK menciduknya dalam kasus korupsi.

Sebelum menjadi ketua DPRD Kaltim, Hasan sempat ikut Pilgub di Sulawesi Barat (Sulbar), kampung halaman orang tuanya. Dia menjadi cawagub, tapi gagal. Lalu kembali ke Kaltim dan sukses menguasai Karang Paci.

Ketika menjadi anggota DPRD Kaltim 2019-2024, di tengah jalan Hasan dengan segala manuvernya merebut kursi ketua Dewan dari rekannya sendiri, Makmur HAPK. Meski ada kericuhan dan gugatan, dia tetap melenggang. Kemudian terpilih kembali menjadi ketua DPRD Kaltim 2024-2029 meski ada kader Golkar Abdulloh, mantan ketua DPRD Balikpapan yang meraih suara paling tinggi.

Ada yang memprediksi karier politik 3 bersaudara ini bakal terus mewarnai kepemimpinan di Kaltim. Lima tahun ke depan yaitu 2030, sangat mungkin Rahmad dan Hasan tukar posisi. Rahmad yang sudah dua kali menjadi wali kota Balikpapan bakal digantikan sang kakak. Lalu dia menggantikan posisi Hasan sebagai ketua DPRD Kaltim.

Dengan perhitungan Rudy menjadi gubernur Kaltim dua periode, maka pada tahun 2035 nanti giliran Rahmad yang bakal menggantikan. Sedang Hasan masih bisa menjadi wali kota Balikpapan yang kedua.

Sebelum menjadi gubernur Kaltim, Rudy adalah anggota DPR RI dapil Kaltim. Ketika dia mencalonkan diri di Pilgub Kaltim 2024, kursinya di Senayan tidak lari ke orang lain. Tapi digantikan oleh sang istri, Sarifah Suraidah, yang selalu tampil menarik perhatian. Pasangan ini menjadi simbol banyak anak banyak rezeki. Karena buah perkawinan mereka jumlahnya tidak tanggung-tanggung, yaitu 13 orang.

APA ARTINYA ALUMNI?

Di depan ribuan mahasiswa dan wisudawan Unmul, Gubernur Rudy membuat pernyataan berkaitan dengan komitmen dia dalam dunia pendidikan di daerah ini. Dia melihat warga Kaltim yang menempuh pendidikan sampai ke tingkat universitas masih kecil, yaitu sekitar 12 persen. Karena itu dia bertekad bersama wakilnya Seno Aji melaksanakan program pendidikan gratis yang selalu dia sebut Gratis Pol atau Gaspol.

Dia berkomitmen agar anak-anak di Kaltim  dalam periode kepemimpinannya bisa menempuh pendidikan sampai tingkat doktoral tanpa bingung memikirkan biaya pendidikan.

“Melalui program Gratispol, kami akan memberikan pendidikan gratis untuk seluruh anak-anak di Kaltim tanpa memandang status kaya atau miskin. Semua memiliki kesempatan yang sama untuk menimba ilmu dan pendidikan tinggi,” tandasnya.

Sebagai alumnus Unmul, kata Rudy, dia bertekad menjadikan sektor pendidikan dan kesehatan sebagai program prioritas utama dalam masa kepemimpinannya.

“Apa gunanya universitas ini memiliki alumni yang hebat, jika cuma soal pendidikan dan kesehatan tidak dapat digratiskan,” katanya sesumbar.

Menurut dia, ada tiga hal yang harus kita lakukan berkaitan dengan ilmu. Pertama, kejarlah ilmu sampai ke liang lahat. Kedua, amalkan ilmu agar bermanfaat. Dan ketiga,  sampaikanlah ilmu agar menjadi syafaat.

Ada wisudawan yang bilang: “Rudy dan Bani Mas’ud memang harum, mudah-mudahan juga harum dalam pelaksanaannya.”(*)

Kang Dedy, Kamil, dan Lucky

April 14, 2025 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

TIGA tokoh Jawa Barat lagi viral. Namanya minggu-minggu ini disebut-sebut di seluruh jagat. Mulai di jagat nyata sampai di dunia maya. Ada yang menilai trio tokoh ini terbilang cemerlang, tapi banyak juga yang mencela, mencibir dan bahkan menghujat mereka.

Ketiga tokoh itu adalah Dedi Mulyadi (53), yang akrab dipanggil Kang Dedi. Lalu Ridwan Kamil (53), yang populer dipanggil RK atau Kang Emil dan satunya lagi Lucky Hakim (45).

Kang Dedi adalah Gubernur Jawa Barat sekarang. Sebelumnya pernah menjadi bupati Purwakarta, anggota DPRD Jabar dan anggota DPR RI. Kariernya memang kinclong.

Kang Dedi ceria dengan ikat udengnya di kepala

Ada yang bilang Kang Dedi pintar membaca arah angin. Sebelumnya dia di Golkar lalu nyeberang ke Gerindra di mana ketua umumnya Prabowo Subianto terpilih menjadi presiden. Situasi itu membuka jalan dia melangkah lebih mulus ke kursi gubernur Jabar.

Gubernur Jabar sebelumnya adalah Ridwan Kamil.  Belakangan dia bergabung ke Golkar. Pada Pilkada Serentak 2024 dia didorong mengikuti Pilgub DKI Jakarta. Ada yang menduga itu untuk memuluskan Kang Dedi di Pilgub Jabar. Ternyata Kang Emil kalah di Jakarta, sedang Kang Dedi melenggang mulus di Jabar.

Sebagai gubernur di provinsi terbanyak penduduknya di Indonesia (49,86 juta jiwa), Kang Dedi membuat berbagai gebrakan yang membuat namanya menjadi buah bibir. Penampilannya khas dengan ikat kepala putih, yang disebut udeng sunda. Gaya kerjanya suka di lapangan dan ngomong ceplas-ceplos, sehingga menjadi pusat perhatian terutama dari kalangan media.

Dedi membongkar tempat rekreasi Hibisc di Puncak Bogor karena melanggar izin pengelolaan lahan. Selain juga berkaitan dengan penanggulangan masalah banjir, yang membuat dia berani melakukan penataan lingkungan.

Sejumlah sekolah dan murid di Jabar kecewa berat karena Gubernur Dedi mengeluarkan kebijakan melarang kegiatan study tour ke luar daerah. Alasannya untuk meringankan beban finansial orangtua dan mengurangi risiko keselamatan siswa.

Dia juga menyoroti beberapa hasil kerja pendahulunya. Misalnya dia mengungkap soal pembangunan Masjid Al Jabbar, yang ternyata menguras banyak dana APBD karena harus melunasi utang dari dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Tiap tahun Pemprov Jabar harus membayar cicilan sebesar Rp500 miliar hingga 2029. Belum lagi tiap tahun mengeluarkan dana pemeliharaan masjid cukup besar yaitu mencapai Rp42 miliar.

Meski lancar di politik, kehidupan rumah tangga Kang Dedi terkesan tidak baik-baik saja. Dia pernah menikah siri dengan Sri Mulyawati, temannya di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Lalu kemudian menikah resmi dengan Anne Ratna Mustika, mantan Mojang Purwakarta yang belakangan juga menjabat bupati Purwakarta.

Mereka dikaruniai dua anak. Tapi 22 Februari 2023 mereka bercerai. Anne sudah menikah lagi, sedang Kang Dedi sejauh ini belum jelas. Ada kabar dia menikah lagi dengan wanita cantik asal Cirebon. Pernah juga disebut-sebut dengan Ayu Ting-Ting.

Pihak tertentu menuduh apa yang dilakukan Kang Dedi adalah settingan saja. Dia mencontoh gaya Jokowi yang ketika jadi gubernur DKI viral gara-gara nyusup ke gorong-gorong. Siapa tahu ada jalan juga buat Kang Dedi jadi calon presiden atau cawapres 2030.

Sebuah cuitan di medsos menyerukan agar netizen tidak memosting konten Gubernur Dedi Mulyadi. Karena itu sengaja dibuat untuk kepentingan politik 2030. Ada juga yang menuduh Kang Dedi sebagai seorang penghayat  sunda wiwitan.

KANG EMIL DIHABISI

Ada yang membaca Kang Emil lagi dihabisi. Apalagi saat ini dia lagi diguncang dengan isu perselingkuhan. Banyak yang menghujatnya, tapi ada juga yang membela. Mana yang benar? Tidak gampang juga memastikannya. Mungkin kita lihat saja apa jadinya nanti. Melalui kuasa hukumnya, Kang Emil membantah keras apa yang dituduhkan kepadanya.

Sebelum kasus ini, Kang Emil juga tengah berhadapan dengan KPK. Rumahnya digeledah, sejumlah aset disita dan dia bakal diperiksa KPK menyusul terbongkarnya kasus dugaan korupsi ratusan miliar rupiah di Bank Jawa Barat (BJB).

Selain menggeledah rumah dan menyita sejumlah barang bukti termasuk sepeda motor, KPK memastikan akan memanggil Ridwan Kamil untuk mendalami perannya dalam kasus tersebut.

Kang Emil dengan sepeda motor kesukaannya

Dengan sejumlah masalah yang dihadapi, banyak yang memprediksi karier politik RK di masa datang akan gelap. Tadinya dia diprediksi bakal menjadi calon menteri pengganti jika ada reshuffle atau menjadi kepala Otorita IKN menggantikan Basuki Hadimuljono. RK ditunjuk Presiden Jokowi menjadi kurator atau pengawas di IKN.

Ada yang menggadang-gadang dia menjaci capres atau cawapres 2030. Boleh dibilang tokoh elite Golkar yang banyak dikenal masyarakat adalah RK. Rasanya Golkar tak punya calon capres sepopuler RK.

Satu lagi tokoh Jabar yang jadi sorotan publik yaitu Lucky Hakim, bupati Indramayu sekarang. Dia jadi pembicaraan dan hujatan gara-gara wisata ke Jepang bersama keluarga tanpa mengantongi izin dari Mendagri.

Lucky beranggapan izin hanya dilakukan pada hari kerja saja. Karena dia berangkat pada hari libur, jadi menganggap tak perlu mengajukan izin. “Saya minta maaf atas kekeliruan ini,” katanya. Dia ditegur Gubernur Dedi dan diperiksa oleh Inspektorat Kemendagri.

Indramayu adalah kabupaten termiskin di Jabar dengan persentase kemiskinan mencapai 12,13 persen. Artinya sebanyak 1.871.832 penduduk Indramayu hidup di bawah garis kemiskinan.

Ada yang menduga kelakuan Lucky itu hanya settingan. Biar viral dan menjadi buah bibir seperti Kang Dedi dan Kang Emil. Soalnya Lucky jago akting. Sebelum terjun ke politik dia adalah pemain film, model, dan penulis.

Lucky pernah menjadi wakil bupati Indramayu. Jadi bukan orang baru di pemerintahan. Pasti sedikit banyak sudah mengerti urusan izin ke atasan. Tak mungkin juga waktu berangkat dia tak memberitahu sekda atau asisten. Pasti dia sempat diingatkan tentang tatakrama perizinan.

Kang Dedi, Kang Emil, dan Lucky memang sukses jadi media darling. Tapi dia harus siap mental. Tidak yang baik-baik saja diposting orang, tapi juga yang jelek-jelek. Jejak digitalnya mudah sekali dilacak dan diviralkan.(*)

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1759584
    Users Today : 3207
    Users Yesterday : 4357
    This Year : 696094
    Total Users : 1759584
    Total views : 14831931
    Who's Online : 45
    Your IP Address : 216.73.217.119
    Server Time : 2026-05-07