PPUMI Kaltim Majukan UMKM

August 3, 2024 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

ISRAN NOOR ketika menjadi gubernur Kaltim pernah bilang, penggerak perekonomian di Kaltim terutama di sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) paling banyak dari kaum perempuan.

“Saya bangga ternyata perempuan di daerah ini menjadi kunci utama perekonomian Kaltim. Apalagi UMKM itu adalah sektor usaha yang tahan banting,” kata Isran pada Gebyar Kewirausahaan dalam rangka memperingati Hari UMKM Nasional Tahun 2021.

Foto bersama pengurus PPUMI dan BKOW Kaltim.

Salah satu organisasi yang memberikan perhatian khusus kepada perempuan yang bergerak di UMKM adalah Pemberdayaan Perempuan UMKM Indonesia (PPUMI). Kebetulan ketuanya di Kaltim adalah Dr Hj Meiliana, mantan Sekprov yang giat bergerak di berbagai organisasi.

Kepengurusan PPUMI Korwil Kaltim selain Meiliana, juga ada Syarifah Hudayah sebagai wakil ketua, Yana Ulfah dan Selfia Kumala sebagai sekretaris dan wakil serta Dewi Sukiyati dan Yustia Sadyawati sebagai bendahara dan wakil.

Nursidah dipercaya sebagai koordinator Bidang Food & Beverage, Ariesta Heksarini sebagai koordinator Bidang Ekraf dan Rumiati sebagai koordinator Bidang Fashion.

Menurut Meiliana, berbagai kegiatan dan program sudah dilaksanakan PPUMI Korwil Kaltim. Di antaranya mengikuti promosi UMKM Perempuan, melakukan audiensi kepada Pemprov Kaltim dan Bank Indonesia serta menghadiri Rakernas.

Ketika melakukan audiensi dengan Pj Gubernur Akmal Malik, PPUMI Kaltim banyak mendapat dorongan dan dukungan agar UMKM dari kaum perempuan di daerah ini berkembang pesat. “Pemprov Kaltim siap memberikan pendampingan,” tambahnya.

Selain itu, PPUMI juga mengadakan workshop Peningkatan Potensi UMKM Perempuan Kaltim dalam rangka menyongsong IKN. “Adanya IKN membuka peluang usaha yang besar kepada pelaku usaha daerah termasuk UMKM perempuan. Karena itu kita harus siap bersaing,” kata Meiliana.

Dalam memajukan perempuan UMKM  di Kaltim, PPUMI juga mendorong pemerintah daerah memberikan perhatian khusus dengan meluncurkan berbagai program dan bantuan seperti permodalan, peralatan serta kemudahan perizinan dan sertifikasi.

Dari pengalaman yang ada, banyak ditemukan pelaku UMKM perempuan di daerah ini yang belum memiliki NIB (Nomor Induk Berusaha), sehingga terkendala untuk mendapatkan dukungan termasuk pemberian program sertifikasi halal.

Karena itu salah satu program PPUMI Pusat bekerjasama dengan Bank Indonesia dan BPJPH menginisiasi “Gerakan Satu Juta Sertifikasi Halal Gratis bagi UMKM.”

Menurut Ketua Umum PPUMI, Munifah Syanwani, organisasinya berkomitmen penuh untuk mendukung penguatan UMKM di Indonesia terutama yang dilakukan perempuan.

Dalam keterangan terpisah, Sekda Kaltim Sri Wahyuni mengatakan, Pemprov Kaltim melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (DPPKUKM) akan menyediakan pendampingan, mulai dari sertifikasi halal, pembinaan manajemen, hingga bantuan peralatan untuk UMKM agar bisa naik kelas.

Ia mengakui, kehadiran IKN di Kaltim memiliki tantangan sekaligus peluang bagi UMKM Perempuan di daerah ini untuk berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi. Karena itu perlu dilakukan berbagai program untuk memajukan kualitas dan kemampuannya untuk siap bersaing.

BERTEMU BKOW

Untuk menyatukan pandangan dan menyiapkan program memajukan UMKM Perempuan di waktu mendatang, PPUMI Korwil Kaltim mengadakan pertemuan dengan pengurus Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Kaltim, Kamis (1/8) lalu.

BKOW adalah wadah berhimpunnya organisasi wanita yang memelopori upaya-upaya pemberdayaan perempuan. Ketuanya di Kaltim adalah drg Hj Suryani Astuty Tommy. Sebagai wakil Hj Naimah Hanim, sekretaris Ir Hj Rini Purwanti dan bendahara Ir Hj Sonya Eveline.

Dalam pertemuan yang berlangsung di Sekretariat BKOW Jl M Yamin Samarinda,   hadir juga Ir Hj Andriyani Mahmud dan Hj Encik Widyani. Mereka adalah tokoh wanita Kaltim yang sangat peduli pada kegiatan yang berkaitsn dengan program pemberdayaan perempuan.

“Kita komitmen untuk bersama-sama meningkatkan pemberdayaan kaum perempuan, baik dalam perlindungan maupun akses mereka terhadap ekonomi,” kata Meiliana.

Astuty mendukung keterlibatan kaum perempuan dalam kegiatan ekonomi dan usaha. “Punya usaha tidak harus besar. Biar kecil yang penting ada, itu sudah bisa menunjang ekonomi keluarga dan membantu tugas suami,” jelasnya.

Dia juga mengajak PPUMI dan berbagai organisasi lainnya untuk sama-sama membangun dan meningkatkan berbagai upaya dalam meningkatkan pemberdayaan perempuan di daerah ini. “Diperlukan sinergi yang kuat antar-stakeholders untuk memberdayakan perempuan di Kaltim,” tambahnya.

Meiliana menyambut baik ajakan dari BKOW. Dia mengaku senang dan mengapresiasi komitmen  BKOW, yang sama-sama punya perhatian dalam memberdayakan kaum.perempuan di Kaltim. “Bersama-sama pemerintah daerah dan semua pemangku kepentingan, mari kita berdayakan perempuan di daerah ini,” begitu katanya penuh semangat.(*)

Air Bersih untuk Balikpapan

August 2, 2024 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

UNIVERSITAS MULIA (UM) Balikpapan bikin terobosan lagi. Rabu (31/7), mereka menggelar  Balikpapan Water Forum (BWF) 2024.  Acaranya berlangsung di Ballroom Cheng Ho, ruang pertemuan UM bergaya istana kekaisaran Tiongkok yang megah.

“Acara ini terinspirasi dari World Water Forum (WWF) ke-10 di Bali bulan Mei lalu,” kata CEO BWF Dr Agung Sakti Pribadi, yang juga Direktur Eksekutif Yayasan Airlangga, yang membawahkan UM.

Tujuan utama BWF adalah memberi masukan kepada Pemkot dan PDAM Balikpapan dalam mengatasi kelangkaan air atau kecukupan air bersih. Maklum keluhan soal air bersih di kota ini sudah lama  sampai mengeringkan  kerongkongan warga dalam membicarakannya. Tak kalah peliknya dengan soal antre BBM dan kemacetan lalu lintas.

“Mudah-mudahan dari kampus Universitas Mulia ini, lahir masukan dan kucuran air bersih yang ‘mulia’ untuk kita semua,” kata seorang peserta berandai-andai. Tentu pula seraya berharap.

Agung sengaja mengundang sejumlah pembicara dan pakar, yang tahu persis tentang peta air di Balikpapan. Ada Ketua Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kaltim Dr Fitriansyah, peneliti dari Indonesia Water Institute (IWI) Dwi Lintang Lestari, Gus Agung Guntoro dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimatan IV Samarinda, Yusuf Wibisono, MTI dari UM dan Ir Eko Wahyudi, M.Tech, Tenaga Ahli Perairan dan Sekretaris Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Kaltim.

Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud menunjuk Sekretaris Bappeda Tommy Alfianto memberi sambutan. Dia menyambut baik digelarnya BWF. Sayang Dirut PDAM Balikpapan Yudi Saharuddin tidak datang. Tak ada juga yang mewakili. Padahal Wali Kota Samarinda Dr Andi Harun didampingi Dirut PDAM Samarinda Nor Wahid Hasyim datang memberi tawaran menarik.

Untunglah masih ada dua anggota DPRD Baikpapan yang hadir, yaitu Parlindungan dari Fraksi NasDem dan Ali Munsyir Halim dari Fraksi Demokrat. “Ya masukan ini segera akan kami teruskan kepada Pemkot. Juga kepada anggota Dewan baru dan harus menjadi isu untuk calon wali kota 2024,” kata mereka.

Saya lihat ada camat dan lurah yang hadir. Juga ketua LPM dan sejumlah tokoh masyarakat. Dari akademisi dan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi juga datang. “Ini memang kolaborasi kita   untuk Balikpapan yang kita cintai,” kata Rektor UM Prof M Ahsin Rifa’i.

Ada juga hadir wakil dari PT Sinar Mas Wisesa, yang mengelola air untuk perumahan Balikpapan Baru (BB). WTP atau IPA yang dikelolanya  belum cocok dengan rekomendasi dari BWS untuk mendapatkan kelanjutan izinnya.

Siapa pun tahu bahwa terjadi kelangkaan air bersih di kota penyangga IKN ini. Meski belakangan hujan sering turun, tetap saja ada warga tak kebagian air. PDAM Balikpapan selama ini  memang belum mampu memenuhi kebutuhan semua warga kota. Sehingga di beberapa tempat ada istilah 3-3. Tiga hari air mengalir, 3 hari ngadat.

Kalau tak salah, data dari PUPR menyebutkan produksi air bersih PDAM Balikpapan baru mencukupi 75 persen dari jumlah penduduk. Tapi kalau dari hitungan BPKP kabarnya hany 48 persen. Jadi masih banyak yang belum terlayani. Apalagi tingkat kehilangan airnya mencapai 34 persen.

Persoalan utamanya kesulitan suplai air baku. Antara 500 sampai 1.000 liter per detik. Bahkan lebih. Salah satu suplai air yang ditunggu-tunggu adalah dari Waduk Sepaku Semoi sebanyak 500 liter per detik. Waduk yang memproduksi air 2.500 liter per detik itu, sebagian besar diolah menjadi air minum untuk kebutuhan IKN.

Tapi Presiden Jokowi sendiri sudah menyebut memang ada jatah untuk Balikpapan. Persoalannya siapa yang membiayai pemasangan pipa transmisinya yang konon membutuhkan dana Rp1,5 triliun. Menurut saya, seyogianya satu paket dengan proyek air IKN. Jadi pengiriman air ke Balikpapan juga didanai APBN. Seharusnya masuk dalam proyek strategis nasional (PSN).

Menurut guru besar ilmu perencanaan kota UGM, Prof Bakti Setiawan, pengelolaan air di IKN dengan daerah penyangganya, bagian penting dalam perencanaan IKN. Jadi manajemen airnya menjadi satu kesatuan, tidak bisa dipisahkan.

Mengutip Tribun Balikpapan, Yudi Saharuddin mengatakan, pihaknya dalam waktu dekat ini akan bertemu dengan Sekretaris Otorita IKN. Tujuannya untuk memastikan dan membahas mekanisme pengiriman air dari Waduk Sepaku.

Dwi Lintang dari IWI menggambarkan banyak daerah berada dalam posisi “Kelangkaan dalam Kelimpahan.” Termasuk Balikpapan. Susah air, tapi kalau hujan malah berlimpah sampai terjadi genangan air dan banjir di mana-mana.

Karena itu dia mendorong daerah menerapkan Smart Water System. Di antaranya menerapkan sistem pemanenan air hujan dan daur ulang grey water untuk kegiatan nonkonsumsi.

Kebetulan Balikpapan sudah ada Perwali Pemanenan Air Hujan. Diterbitkan pada masa saya menjadi wali kota. Malah SMPN 22 di tahun 2019 sudah ditetapkan sebagai pilot project menandai dimulakannya Gerakan Pemanenan Air Hujan. Sayang gerakan ini tidak konsisten. Padahal di sejumlah negara maju air hujan benar-benar dimanfaatkan sebagai air bersih. Tidak ada salahnya gerakan ini kembali dimobilisir. Pemkot bisa membantu membangun kantong atau bak-bak air.

Dwi juga mendorong daerah menerapkan konsep infrastruktur berkelanjutan. Menerapkan konsep green rooftop, groundwater tank, membangun ruang terbuka hijau dan membangun embung dan kolam retensi.

Eko Wahyudi membuka pandangan baru. Sejumlah bendali di Balikpapan, yang selama ini hanya digunakan untuk mengatur pengendalian air, ternyata dalam situasi tertentu bisa dimanfaatkan untuk sumber air baku. “Tinggal sistem operasinya yang diatur,” katanya.

Bendali yang airnya dimanfaatkan untuk kebutuhan warga sebenarnya sudah ada. Yaitu bendali yang berada di kompleks perumahan Balikpapan Regency. Masih ada bendali lain yang kapasitas tampungnya lebih besar.

Kepala BRIDA Kaltim Fitriansyah  menyinggung Bendungan Lambakan di Kecamatan Long Kali, Kabupaten Paser dan Desalinasi Air Laut untuk pengadaan air baku pada masa mendatang.

Bendungan Lambakan itu sudah 24 tahun dirintis. Tapi sampai sekarang belum juga berhasil direalisir. Padahal potensinya sangat besar. Volumenya 614 juta meter kubik. Bisa menghasilkan air baku 12 meter kubik per detik dan irigasi (21 ribu hektare) 25 meter kubik per detik.

Berkaitan dengan desalinasi air laut, menurut Fitriansyah, memang sudah dilaksanakan di berbagai negara. Teknologinya bisa dengan destilasi, bisa juga dengan sistem reverse ormosis (RO). Pandangan yang sama juga diungkapkan oleh dosen UM, Yusuf Wibisono.

TAWARKAN AIR CURAH

Kehadiran Wali Kota Samarinda Dr Andi Harun benar-benar menghidupkan acara BWF. “Beliau kita undang karena Pak Andi Harun satu-satunya wali kota dari Kaltim yang diundang bicara di WWF Bali,” kata Dr Agung Sakti.

Wali Kota Samarinda Dr Andi Harun menawarkan air curah ke Balikpapan

Ada dua hal penting yang dikemukakan Andi Harun berkaitan dengan tata kelola air. Yang pertama, dia bilang jangan ada intervensi ke PDAM. Itu dia terapkan di Samarinda secara konsisten. Dia hanya memasang target. Selebihnya tidak cawe-cawe. “Alhamdulillah hanya 2 tahun, Perumda Tirta Kencana (PTK) yang mengelola PDAM Samarinda  sudah meraup laba,” jelasnya.

Kedua, dia menawarkan kepada Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) yang mengelola PDAM membeli air curah dari Samarinda. “Saya kira ini solusi jangka pendek yang sangat memungkinkan untuk memecahkan masalah kelangkaan air di Balikpapan,” jelasnya.

Secara detail dan teknis, Andi Harun memaparkan tawarannya itu. Pihaknya akan membangun intake dan instalasi pengolahan air (IPA) baru di kawasan Harapan Baru atau Palaran. Air bakunya dari Sungai Mahakam. Setelah diolah, air dialirkan melalui pipa transmisi langsung ke Balikpapan.

Jika Balikpapan menyetujui tawaran ini, maka PDAM Samarinda segera bergerak. Diperkirakan pembangunan konstruksinya paling lama memakan waktu 8 bulan. Pada saat yang sama juga langsung dilakukan pembangunan pipa transmisinya.

Menurut Andi Harun, investasi untuk proyek ini diperkirakan mencapai 700 miliar sampai satu triliun rupiah. Itu lebih banyak dibebankan kepada mereka. Balikpapan tinggal beli airnya. Harganya juga masih dalam batas yang wajar. “Jadi PDAM masih tetap bisa untung dengan harga jual ke masyarakat tetap bisa terjangkau,” jelasnya.

Tanpa mengesampingkan berbagai solusi yang ditawarkan kepada PDAM Balikpapan, sekali lagi Andi Harun menegaskan bahwa tawaran mereka untuk membeli air curah dari Samarinda adalah solusi jangka pendek yang tepat. Jauh lebih cepat dibanding program desalinasi atau penyulingan air laut.

Andi Harun benar-benar serius dengan gagasannya itu. Meski acara resmi BWF selesai pukul 16.00, dia masih bersedia meluangkan waktu berdiskusi  di teras Ballroom Cheng Ho. Saya bilang meski Pak Andi Harun tak jadi mengikuti Pilgub Kaltim Kaltim, rasanya dia layak dinobatkan menjadi “Gubernur Air.” (*)

Duet Adam-Ken di HIPMI

July 24, 2024 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

PENGURUS Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Balikpapan punya semangat baru. Maklum ada pergantian pengurus. Dari ketua lama, H Iwan Wahyudi kepada Adam Dustin Bhakti. Adam akan memimpin HIPMI selama 3 tahun mulai 2024 ini sampai 2027.

Iwan memimpin HIPMI periode 2021-2024. Dia adalah anggota DPRD Balikpapan, yang  juga ketua DPC PPP. Dia menggantikan Gleen Aringga Nirwan, yang saat ini diangkat menjadi ketua Dewan Pembina.

Kepengurusan Adam cukup gemuk. Jumlahnya 150 pengusaha muda. Dia didampingi Ken Arif Danuharja Ng sebagai sekretaris umum dan Dio Ramadhan sebagai bendahara umum.

Menerima SK Kepengurusan HIPMI Balikpapan dari Ketua Umum DPD HIPMI Kaltim Andi Adi Wijaya.

Adam adalah pengusaha muda yang menjadi CEO Lexa Event Organizer (LEO). Sekarang ini dia banyak dipercaya melaksanakan tugas EO di Ibu Kota Nusantara (IN), terutama yang dilaksanakan oleh Kementerian PUPR.

Dalam Musyawarah Cabang (Muscab) IX BPC HIPMI Balikpapan, yang berlangsung Minggu (21/7) siang, Adam terpilih secara aklamasi. Tak ada calon lain. Semua sepakat hanya ada nama Adam. “Saya terima kasih karena teman-teman sepakat dan bulat memilih saya,” katanya memberi apresiasi.

Dalam kepengurusan HIPMI baru, ada 12 nama menempati pos ketua bidang. Di antaranya ada nama Hidayat Jamal Noor, Muhammad Suadi, Mochammad Taufan, Taufiq Jamal Noor, Adelina, Muhammad Raja Siraj, Ahmad Riza, Akhbar Rakhmat Sumibowo, Novrianda, Temmy Ilham Jonathan, dan Wawan Sanjaya.

Ada satu nama yang menarik perhatian, yaitu Syarifah Syaima Alaydrus. Dia dipercaya sebagai ketua Bidang VI, yang mengurusi program maritim, kelautan dan perikanan. “Ini tugas sesuai bidang saya,” katanya bersemangat.

Gadis cantik ini adalah putri Bupati Kotabaru, Kalsel, yang belakangan ini namanya ikut mewarnai kontestasi Pilwali Balikpapan 2024. Sehari-hari dia adalah direktris PT Galangan Benua Raya Kariangau dan PT Anggrek Jaya Saripuspita, yang bergerak di bidang galangan kapal.

Pelantikan pengurus HIPMI Balikpapan periode 2024-2027 dilakukan oleh Ketua Umum DPD HIPMI Kaltim, Andi Adi Wijaya disaksikan oleh Wali Kota Rahmad Mas’ud, Wakil Ketua DPRD Sabaruddin Panrecalle, Forkompida, Ketua Kadin Yaser Arafat dan undangan lainnya di Hotel Novotel, Minggu (21/7) malam.

Andi mengingatkan, pengurus yang dilantik jangan sekadar jadi pengurus saja, tetapi harus mempunyai semangat dan tanggung jawab besar untuk membangun HIPMI Balikpapan ke arah yang lebih baik.

“Ini jadikan momentum  dari pengusaha muda Balikpapan untuk menghadirkan motivasi di setiap bidang usaha yang baru, demi terbangunnya kemajuan ekonomi baik mikro maupun makro,” tandasnya.

Pelantikan Adam berlangsung meriah. Sebab ditutup dengan penampilan pemusik Budi Doremi. Dia dikenal sebagai penyanyi dan pemeran Indonesia. Saya suka dengan lagunya Melukis Senja. Sangat menarik liriknya. Dia juga membawakan beberapa lagu hitnya yang lain, di antaranya Mesin Waktu dan Takkan Hilang. Sebelumnnya ada penampilan tarian daerah dan stand up comedy dari polisi Gamayel.

HARUS BERSINERGI

Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud menyampaikan pesannya. Dia minta pengurus HIPMI Balikpapan  dapat bersinergi dan berkolaborasi dengan pemerintah daerah, semua elemen masyarakat dan semua pemangku kepentingan untuk mendukung kemajuan Balikpapan.

Selain juga menjaga kondusivitas kota, sehingga banyak  investor masuk ke kota Balikpapan. “Mari kita bergandengan tangan dalam membangun suasana ini,” katanya.

Secara khusus dia menekankan ada dua hal penting yang mesti dijaga pengusaha muda. Yaitu mempunyai keberanian dan bisa menjaga kepercayaan. “Dua hal ini harus benar-benar ditanamkan oleh pengusaha muda Balikpapan. Jaga betul kepercayaan,” tegasnya.

Adam berjanji membawa pengusaha muda Balikpapan menuju Indonesia Emas 2045. “Saat ini rasio pengusaha muda di tingkat nasional baru 3,5 persen. Target kita di saat Indonesia Emas kita bisa mencapai minimal 4 persen,” tandasnya.

Menurut Adam, seluruh sektor ekonomi di Balikpapan memiliki potensi besar berkembang terutama dengan adanya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Dampak positif IKN di antaranya membangkitkan sektor transportasi, kuliner, perhotelan dan berbagai sektor ekonomi lainnya.

Dia menegaskan, di Balikpapan semua peluang usaha terbuka. Apalagi dengan adanya sejumlah proyek besar seperti IKN, RDMP, smelter dan lainnya.  “Tantangan utama kita adalah edukasi yang kurang tentang bagaimana berwisausaha yang hebat,” jelasnya.

Berkaitan dengan masalah itu, Adam akan menjalankan tiga pilar yang menjadi misi strategis. Yaitu program EdukaSI, RelaSI dan AkSI. “Saya optimis dengan tiga misi strategi situ, pengusaha muda Balikpapan bisa berkembang dan maju,” ucapnya.

Dia menjelaskan pilar EdukaSI berfokus pada peningkatan akses dan kualitas pendidikan serta pelatihan. Pilar RelaSI bertujuan memperkuat hubungan antar anggota HIPMI dengan pihak eksternal. Sedang pilar AkSI melibatkan pelaksanaan berbagai program dan proyek konkret yang memberikan dampak nyata bagi pengusaha muda.

Sejumlah pendamping Adam mengaku siap bahu membahu menjalankan program HIPMI bersama ketum. “Pokoknya kami siap bekerja bersama-sama untuk melaksanakan tugas dan amanah ini dengan sebaik-baiknya,” kata Ken, Muhammad Suadi dan Ahmad Rizal.

Muhammad Suadi yang akrab dipanggil Adi terpilih menjadi ketua Bidang II yang menangani bidang keuangan, perbankan dan perencanaan pembangunan. Sedang Ahmad Rizal didaulat menjadi ketua bidang VIII, yang menangani program pariwisata ekonomi kreatif dan Infokom.

Berkaitan dengan jumlah pengurus yang sangat besar, menurut Adam untuk membangun suasana kebersamaan. Jadi semua bisa kita akomodir, sekaligus sebagai bukti bahwa pengusaha muda Balikpapan siap maju bersama HIPMI.(*)

Haji Terakhir di Sepinggan

July 24, 2024 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

PENYELENGGARA  haji embarkasi dan debarkasi Bandara Internasional SAMS Sepinggan Balikpapan menghela napas lega. Pesawat Garuda GA4219 yang membawa jamaah haji kloter terakhir, Senin (22/7) pagi mendarat dengan mulus.

“Puji syukur kloter terakhir debarkasi Balikpapan telah tiba pagi ini. Kita sambut dengan menyebut hamdalah,” kata Sekretaris Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama RI, Ahmad Abdullah.

Abdullah didampingi Kepala Kanwil Agama Kaltim, Abdul Khaliq, yang juga bertindak sebagai ketua Petugas Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Balikpapan, Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kaltim Dr Hj Meiliana, dan berbagai wakil instansi.

Pelukan kebahagiaan setelah mendarat

Jamaah haji kloter terakhir Bandara Sepinggan berjumlah 204 orang yang terdiri dari 98 laki-laki dan 106 perempuan. Semuanya jamaah haji asal Kabupaten Kutai Timur. Mereka masih menempuh perjalanan darat ke kampung halaman masing-masing.

Dari Tanah Suci, mereka diterbangkan melalui Jeddah transit Medan, kemudian ke Sepinggan Balikpapan. Penerbangan berlangsung lancar. “Alhamdulillah, kami datang dalam keadaan sehal walafiat,” kata seorang jamaah dengan wajah bahagia.

Menurut Kakanwil Abdul Khaliq, embarkasi Balikpapan telah memberangkatkan sebanyak 6.023 orang, terdiri dari 5.929 jamaah dan 94 petugas.  Mereka berasal dari Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara.

Pencatatan terakhir,  jamaah yang pulang sebanyak 6.006 orang terdiri 5.912 jamaah dan 94 petugas. Ada 16 jamaah yang meninggal dunia di Tanah Suci. Masih ada satu jamaah dari Kaltara yang dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah. “Jika sudah sembuh akan segera dipulangkan ke Tanah Air,” kata Abdul Khaliq.

HASIL KERJA KERAS

Menurut Sesditjen Ahmad Abdullah, secara umum penyelenggaraan ibadah haji di Indonesia berlangsung lancar dan sukses termasuk melalui embarkasi Balikpapan. Itu berkat kerja keras bersama  seluruh pihak yang terkait.

“Atas nama Pemerintah, Kementerian Agama selaku koordinator saya memohon maaf jika masih ada pelayanan yang kurang maksimal. Yang pasti seluruh petugas dan pihak yang terlibat mulai dari Kemenag, Kemenkes, Kemenkumham, TNI/Polri, sudah berusaha maksimal agar pelayanan haji dapat memenuhi harapan jamaah,” ujar Abdullah.

Ketua IPHI Kaltim Dr Hj Meiliana melepas tanda petugas setelah berakhirnya penugasan

Secara khusus kepada PPIH Balikpapan, Sesditjen juga menyampaikan apresiasi atas kerja kerasnya dalam melayani jamaah melalui embarkasi Sepinggan. “Terima kasih kepada semua Dinas terkait atas upaya yang luar biasa melayani tamu-tamu Allah. Saya tahu betul betapa beratnya amanah yang diemban,” tambahnya.

Abdullah menyampaikan harapannya agar jamaah haji yang telah tiba dan kembali ke kampung halamannya dapat menyebarkan kebaikan dan manfaat kepada sesama, sehingga benar-benar menjadi haji yang mabrur.

“Semoga Bapak dan Ibu bisa memberikan kebaikan atau kesalihan sosial kepada keluarga, tetangga dan masyarakat yang ada di sekitarnya. Misalnya menghidupkan masjid, madrasah-madrasah karena bagaimanapun Bapak dan Ibu adalah orang-orang pilihan,” kata Abdullah di akhir sambutannya.

Dalam keterangan terpisah Ketua IPHI Kaltim, Hj Meilana berharap kepada semua jamaah haji Kaltim bergabungp dengan IPHI di daerahnya masing-masing.

Seperti namanya, IPHI adalah wadah organisasi semua alumni jamaah haji. Ini organisasi ukhuwah Islamiah yang bersifat independen dan bukan organisasi politik. Tujuannya untuk menyosialisasikan, melestarikan dan meningkatkan kualitas haji mabrur.

Sejak didirikan pada tahun 1990, IPHI secara nasional telah banyak melakukan berbagai amal sosial, ekonomi, pendidikan dan kesehatan yang membawa manfaat bagi masyarakat seperti mendirikan rumah sakit, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan koperasi.

Meiliana juga mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada PPIH bersama para petugas lainnya, yang sudah bekerja keras demi pelaksanaan haji yang baik dan nyaman. “IPHI sangat menghargai semua itu dan semoga Allah membalas budi baik ini,” tambahnya.

Sejumlah petugas yang berada di Asrama Haji dan Bandara Sepinggan mengaku bahagia bisa melayani tamu-tamu Allah baik saat pemberangkatan sampai kedatangan atau pemulangan. “Kami benar-benar puas dan bahagia,”  kata mereka serentak.(*

Bugis dan Dayak di Pelaminan

July 21, 2024 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

SABTU (20/7)  kemarin ada dua prosesi pernikahan yang menarik. Pernikahan adat Bugis dan pernikahan adat Dayak. Yang satu berlangsung di Makassar dan satunya lagi diselenggarakan di Samarinda. Dua-duanya saya diundang. Tapi saya tak bisa hadir yang di ibu kota Provinsi Sulsel,  melainkan  hanya bisa menghadiri yang di ibu kota Provinsi Kaltim.

Berfoto dengan Ketua PDKT Syaharie Ja’ang dan Danrem 091/ASN Brigjen TNI Anggara Sitompul.

Perkawinan adat Bugis itu dilaksanakan oleh keluarga dokter, yakni keluarga dr H Aspian Noor SpOG dan dr Hj Andi Sri Juliarty, M.Kes (Dio) dengan keluarga Dr dr H. Andi Muh Nasser Mustari, Sp.OT dan Prof Dr dr Hj Haerani Rasyid, M.Kes.,Sp.PD.

Putra tunggal dr Aspian dan dr Dio, dr Mochammad Ghazian Nugraha (Uga) mempersunting  dr Andi St Nurul Haerunnisa Nasser (Chaca), putri ketiga Dr Nasser dan Prof Haerani.

Uga saat ini tengah menempuh program pendidikan dokter spesialis obstetri ginekologi di Unhas, sedang Chaca mengemban tugas sebagai dokter intership di RSUD Maros, Sulsel.

Dokter Dio, sang ibu sangat dikenal di Balikpapan. Dia adalah asisten III Pemkot Balikpapan, yang sebelumnya adalah kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK). Saat Covid mewabah, dr Dio seperti “panglima putri” yang selalu berada di lapangan dan dibutuhkan warga. Sedang dr Aspian, di antaranya bertugas di RS Pertamina Balikpapan sebagai dokter spesialis obsgyn.

Besan mereka tak kalah hebatnya. Dr Nasser adalah dokter spesialis ortopedi di RS Labuang Baji Makassar sedang istrinya, Prof Hj Haerani Rasyid adalah dekan Fakultas Kedokteran Unhas.

Acara adat pernikahan dan resepsi dr Uga dan dr Chaca berlangsung di Hotel Claro Makassar, pada Jumat malam dan Sabtu kemarin.  Mereka juga akan menggelar resepsi kedua di Balikpapan Sport & Convention Centre (Dome) pada Sabtu (27/7) mendatang. Mudah-mudahan saya dan istri dapat menghadiri yang di Dome. Juga rencananya Ketua KKSS Ir Adam Sinte.

Namanya keluarga dokter yang punya hajat, maka tamu dan undangan pun sebagian dari para dokter dan keluarga kesehatan. Juga dari kalangan kampus terutama keluarga besar Fakultas Kedokteran Unhas. Ada juga keluarga besar kedua pasangan dan berbagai tokoh adat.

Yang menarik rombongan dari Balikpapan. Jumlahnya tak kalah banyak. Wali Kota Balikpapan H Rahmad Mas’ud dan istrinya Hj Nurlena membawa hampir seluruh pejabat. Begitu juga Ketua DPRD Balikpapan Abdulloh dan istrinya Yuli bersama sejumlah anggota Dewan. Sambil mengadakan rapat, Jumat (20/7), mereka melanjutkan menghadiri undangan dr Dio.

Kegiatan ritualnya diawali dari acara mappaci. Dipandu MC Dhani yang diboyong dari Balikpapan. Dhani sempat mengirim WA ke saya menggambarkan suasananya yang menarik. “Acara mappacci-nya saja seperti suasana resepsi,” kata Pak Bakhtiar, yang istrinya pejabat di DKK.

Mappacci adalah salah satu rangkaian adat perkawinan masyarakat Bugis. Mappacci atau mappaccing berasal kata “paccing,” yang berarti bersih. Jadi suatu proses untuk membersihkan diri dari segala sesuatu sebelum acara pernikahan.

Ritual mappaci dilakukan dengan cara meletakkan daun pacci (daun pacar) di telapak tangan calon mempelai. Diiringi doa. Maknanya berisi pesan untuk membersihkan raga dan kesucian jiwa sebelum memasuki bahtera rumah tangga.

Dalam undangan, saya lihat ada juga acara marola atau mapparola. Sebenarnya itu acara kunjungan balasan dari pihak mempelai wanita ke rumah mempelai pria. Pengantin wanita diantar oleh iring-iringan yang biasanya membawa hadiah sarung tenun untuk keluarga suaminya.

Karena mempelai prianya tinggal di Balikpapan, maka acara mapparola-nya cukup di Hotel Claro saja. Dari Phinisi Hall menuju Sandeq Ballroom C. Tetapi acaranya tetap menarik dan penuh pernak-pernik suasana adat.

Yang tak kalah menariknya adalah acara Mappasikarawa. Ini dilakukan setelah ijab kabul. Yaitu mempelai pria memegang bagian-bagian tubuh mempelai wanita sebagai tanda bahwa keduanya sudah sah untuk bersentuhan. Senyum dan tawa mewarnai acara ini.

Saya tak bisa membayangkan betapa lezatnya aneka makanan ala Bugis yang disajikan. Mulai coto makassar, bolu peca sampai barongko. Lebih seru lagi kalau ada songkolo.

PEKIBAN ADAT KENYAH

Acara di Samarinda adalah perkawinan Stefanus Frara, S.Ak, putra kedua keluarga Franklin Wahyono dan Ibu Ratnawati dari Dayak Lundayeh dengan Maria Margareta Alahcoq Aping, SH, putri kedua  Bang Unjin dengan Ibu Baun Libut dari Dayak Kenyah.

Acara mereka berawal dengan pemberkatan di Gereja Katedral Santa Maria Penolong Abadi di Jl Jend Sudirman Samarinda, diteruskan dengan pengukuhan pernikahan secara adat Kenyah di Hotel Puri Senyiur dan dilanjutkan resepsi di tempat yang sama.

“Mohon hadir, ya Pak, sang mempelai adalah keponakan saya,” kata Betharia, anggota DPRD Kukar dari Fraksi PDI Perjuangan.

Saya memang hadir. Ada juga Ketua Umum Persekutuan Dayak Kalimantan Timur (PDKT) Syaharie Ja’ang, yang juga mantan wali Kota Samarinda. Menyusul kemudian Danrem 091/ASN Brigjen TNI Anggara Sitompul.

Suku Dayak Lundayeh merupakan salah satu sub-suku Dayak yang mendiami kawasan Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Sedang suku Kenyah adalah suku Dayak yang termasuk rumpun Apokayan, yang berasal dari dataran tinggi Usun Apau, daerah Baram, Belaga Sarawak.

Melalui Sungai Iwan sebagian bergerak ke daerah Apokayan dan sebagian lagi menuju daerah Bahau. Lalu pergerakan suku ini menuju ke hilir dan akhirnya ke daerah Mahakam sampai menetap di Kampung Pampang, Samarinda yang  terkenal itu.

Seni budaya suku Kenyah sangat halus, unik dan menarik, sehingga ragam seni hiasnya banyak dipakai pada ornamen bangunan-bangunan di Kaltim. Juga seni ukiran, motif busana sampai seni tari dan gaya hidup, yang bernilai tinggi.

Acara adat perkawinan suku Dayak Kenyah dikenal dengan sebutan Pekiban. Sejak 2019 Pekiban telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Indonesia. Waktu Kapolda Kaltara Irjen Daniel Adityajaya menikahkan putranya, Johan Nathaniel Ega dengan Elva Waniza, putri Kepala Adat Besar Apau Kayan, Ibau Ala, Mei 2024 lalu, ritual Pekiban digelar sangat marak.

Prosesi Pekiban dipimpin oleh ketua adat. Ada pemasangan gelang manik, penyerahan mandau, taweq (gong yang diduduki kedua mempelai), hiasan manik-manik (aban), beloko aban (topi), antang (guci), piring putih, tikar lampit sampai rantai besi.

Semua mengandung makna dan filosofi kehidupan yang dalam. Menjaga keutuhan keluarga, tahan bantingan kehidupan, sampai berjuang mencapai kehidupan keluarga yang sejahtera, bahagia, dan sarat kesinambungan.

Saya beruntung bisa menyaksikan prosesi acara perkawinan suku Dayak Kenyah dipadu Dayak Lundayeh. “Ini adat budaya nenek moyang kami, yang harus dijaga dan dipelihara sampai kapan pun,” kata Syaharie Ja’ang.

Betaria banyak menjelaskan kepada saya adat perkawinan keluarga suku Dayak Kenyah. Dia salah seorang wanita Kenyah yang sangat maju. Menjadi anggota Dewan dan berpendidikan tinggi. “Bulan depan saya akan menyelesaikan program S3 saya di Surabaya,” katanya bersemangat.(*)

« Previous PageNext Page »

  • vb