Nyamuk “Bill Gates” Ditebar di Bontang

November 22, 2023 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

LAGI heboh di Indonesia. Jutaan nyamuk ciptaan miliarder Amerika Serikat, Bill Gates ditebarkan di Indonesia. Banyak yang kaget dan tidak percaya. Biasanya nyamuk kita bunuh, kita semprot dengan Baygon atau sebangsanya. Tapi ini malah ditebarkan jutaan ekor secara resmi oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI).

Apalagi yang membuat atau menciptakan nyamuk itu adalah Bill Gates. Salah satu orang terkaya di dunia. Tokoh bisnis, investor, filantropis, penulis serta mantan CEO, yang saat ini menjabat sebagai ketua Microsoft.

Setelah dilakukan uji coba di Yogyakarta, Kemenkes tahun ini memutuskan menyebarkan nyamuk tersebut di 5 kota. “Sesuai SK Kemenkes, 5 kota itu adalah Jakarta Barat, Bandung, Semarang, Kupang termasuk Bontang di Kalimantan Timur,” kata Ngabila Salama, staf teknis Komunikasi Transformasi Kesehatan Kemenkes seperti diberitakan CNN Indonesia, Senin (20/11).

Wali Kota Bontang Basri Rase me-launching nyamuk wolbachia di kotanya

Lalu nyamuk jenis apakah itu? Dalam berbagai siaran resmi disebutkan, nyamuk itu disebut nyamuk wolbachia atau nyamuk Bill Gates. Nyamuk ini dibuat untuk mematikan virus Aedes aegypti (demam berdarah), yang telah banyak menelan korban sejak dulu kala termasuk di Indonesia.

Nyamuk wolbachia dikembangkan oleh World Mosquito Program (WMP), yaitu perusahaan milik Monash University. “Mungkin karena proyek ini mendapatkan dukungan dana dari Bill & Melinda Gates Foundation, maka banyak dikenal sebagai nyamuk Bill Gates,” kata pakar kesehatan IDI, Prof Zubairi Djoerban dikutip dari akun media sosial X miliknya @Profesor Zubairi.

Pabrik nyamuk wolbachia dikembangkan di sebuah laboratorium di pusat kota Medelin, Kolombia.  Dari sini setiap minggunya dihasilkan sekitar 30 juta nyamuk dengan ciri bintik-bintik putih khas di kaki hitamnya yang kurus.

Nyamuk wolbachia yang ditebar di Bontang

Nyamuk wolbachia dianggap sebagai jenis nyamuk Aedes aegypti yang istimewa karena mereka dapat membawa sejenis bakteri yang dapat menetralisir virus mematikan tersebut. “Jadi wolbachia menjadi counter bagi virus yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti,” kata Prof Zubairi.

Di lapangan, nyamuk wolbachia yang dilepas nantinya akan kawin silang dengan nyamuk Aedes aegypti. yang membawa DBD. Setelah kawin silang berlangsung akan menghasilkan keturunan nyamuk ber-wolbachia.

Kenapa Bontang dipilih sebagai daerah satu-satunya di Kaltim menjadi Pilot Project Teknologi Wolbachia (PPTW)? Ternyata alasannya karena Bontang menjadi salah satu kota dengan jumlah kasus demam berdarah Dengue (DBD) yang cukup tinggi dan adanya kasus kematian pada tahun 2023.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI, Dr Maxi Rein Rindonuwu sudah turun ke Bontang untuk melakukan sosialisasi dan pengecekan. Jangan terulang kasus di Bali, di mana rencana serupa ditunda karena ada penolakan. Padahal rencananya 20 juta nyamuk wolbachia bakal disebar di Pulau Dewata.

“Saya percaya Kota Bontang memiliki komitmen yang tinggi dengan projek ini. Apalagi Dinas Kesehatan Kota (DKK) Bontang sudah studi banding ke Yogyakarta dan menyediakan anggaran sendiri dalam pelaksanaannya melalui APBD,” puji Dirjen.

Hasil uji coba pelepasan  nyamuk wolbachia di Kota Gudeg mampu menurunkan 77 persen incidence rate (IR) Dengue dan mengurangi pasien DBD masuk rumah sakit sebesar 86 persen.

Sekretaris Daerah Kota Bontang Aji Erlynawati menegaskan, pihaknya siap melaksanakan dan menyukseskan pelaksanaan PPTW di daerahnya. “Itu sudah menjadi komitmen Pak Wali Kota Basri Rase,” ujarnya.

Menurut Kepala DKK Bontang drg Toetoek Pribadi Ekowati, pelaksanaan PPTW di Bontang dilaksanakan dua tahap. Tahap pertama dilaksanakan di enam kelurahan. Meliputi Gunung Telihan, Gunung Elai, Kanaan, Belimbing, Api-Api, dan Bontang Baru. “Delapan kelurahan lainnya menyusul,” jelasnya.

Launching penyebaran nyamuk wolbachia di Bontang sudah dilaksanakan awal September lalu oleh Wali Kota Basri Rase. Ada 100 kader diturunkan untuk menerbangkan ribuan nyamuk tersebut. Selain dibiayai APBD, Pemerintah Pusat juga menyalurkan dana Rp 10 miliar untuk program ini.

ISU NYAMUK BIONIK

Ada yang mengabarkan bahwa penyebaran nyamuk wolbachia merupakan misi Bill Gates untuk membentuk genetik LGBT. Bahkan ada juga yang menduga bisa menjadi senjata pemusnah massal.

Tapi Prof Zubairi menegaskan, tujuan dikembangkannya proyek ini adalah untuk menurunkan penyebaran DBD, demam kuning dan chikungunya. Berdasarkan Environmental Protection Agency (EPA), katanya, nyamuk transgenik atau wolbachia ini tidak menimbulkan risiko bagi manusia, hewan atau lingkungan.

Beredar juga di media sosial TikTok adanya nyamuk bionik dengan ciri-ciri tidak bisa terbang dan hanya bisa berjalan. Tidak jelas apakah ini dikaitkan dengan isu nyamuk wolbachia. “Seorang pegawai di salah satu kantor mendapati seekor nyamuk yang hanya berjalan bukan terbang,” tulis keterangan dalam unggahan tersebut.

Peneliti teknologi wolbachia dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Riris Andhono Ahmad membantah dugaan tersebut. “Tidak benar . Tidak ada istilah nyamuk bionik. Penyebutan nyamuk bionik adalah disinformasi yang ingin dibuat oleh pihak tertentu saja,”  katanya kepada KOMPAS.com.

Dalam keterangan terpisah, mantan menteri kesehatan  Siti Fadilah Supari juga mempertanyakan penyebaran jutaan nyamuk wolbachia untuk mencegah DBD. “Upaya ini mengusik kedaulatan bangsa Indonesia lantaran belum tahu bagaimana dampak penyebaran wolbachia ke depannya,” katanya seperti diberitakan tvonenews.com.

Menurut Siti Fadilah, teknologi nyamuk wolbachia adalah program World Mosquito, bukan program kita, tapi program filantropi. Nah, dari luar mereka peneliti, tapi yang diteliti adalah kita sendiri. “Ini yang membuat ketidaknyamanan kita sebagai bangsa yang berdaulat,” jelasnya.

Teknologi wolbachia juga pernah dilaksanakan di 9 negara lain untuk mencegah peningkatan kasus DBD. Adapun negara  yang dimaksud adalah Brasil, Australia, Vietnam, Fiji, Vanuatu, Mexico, Kiribati, New Caledonia, dan Sri Lanka.

Menurut para ahli, keberadaan inovasi teknologi wolbachia tidak serta merta menghilangkan metode pencegahan dan pengendalian Dengue yang telah ada di Indonesia.

Masyarakat tetap diminta melakukan Gerakan 3M Plus seperti Menguras, Menutup dan Mendaur Ulang serta tetap menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

Rustam, warga di Kelurahan Api-Api Bontang mengaku belum bisa mengenali mana yang nyamuk DBD, mana nyamuk wolbachia dan mana nyamuk hasil perkawinan silang dari kedua jenis nyamuk itu. “Tapi saya yakin DBD cepat musnah di kelurahan kami, kalau nyamuk itu tahu lagi terbang di Api-Api,” katanya setengah bercanda.(*)

Aman, Persiba Menang

November 20, 2023 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

Pemain Persiba merayakan kemenangan

SAYA datang terlambat. Baru pada babak kedua saya sampai di Stadion Batakan. Persiba lagi bertanding melawan Persipura Jayapura, Sabtu (18/11) sore.  Pertandingan dimulakan pukul 15.00. Bukan malam hari. Kabarnya atas permintaan keamanan. Menghindari kemarahan pendukung Persiba karena tim kesayangannya kalah terus.

Di luar stadion, petugas kepolisian memang cukup banyak. Mereka diperintahkan berjaga-jaga. Tidak seperti biasanya. Akhirnya ketegangan para petugas luruh karena hasil pertandingan Persiba menang meyakinkan 3-1.

Saya duduk di tribun Selatan. Di kubu pendukung fanatik Persiba, Balistik. Suasana haru dan gembira menyatu di wajah mereka. Apalagi ketika diperdengarkan antem Persiba, “Berjanji untuk Setia,” yang menandai kemenangan dari tim Beruang Madu.

Pertandingan lawan Persipura itu pertandingan krusial. Pertandingan pertama Persiba di bawah penanganan manajemen baru dari Pak Gede Widiade ke tangan Mohammad Rafii Perdana (MRP).

MRP bukan orang baru di sepakbola. Putra mantan wakapolri Komjen Pol (Purn) Dr (HC) Syafruddin Kambo ini bersama Pak Gede pernah menangani Persija Jakarta. Prestasinya sangat bagus di antaranya membawa Persija Juara Liga 1 Tahun 2018/2019. Selain Piala Presiden dan semifinalis AFC Cup.

Persiba turun ke lapangan tanpa pelatih Nil Maizar. Maklum pelatih asal Payakumbuh itu sudah didepak. Jadi yang bertugas menggantikannya sementara adalah asisten pelatih Zainal Abidin.  Tapi tim Selicin Minyak ternyata bisa licin kembali bermain.  Mampu menggilas tim Mutiara Hitam dengan telak 3-1. Tiga gol itu dicetak oleh Ibnu Mareza, Nevy Alexander, dan striker asing Sunday Song Longji.

Kemenangan ini awal dari tekad manajemen baru akan berjuang sapu bersih kemenangan untuk menyelamatkan Persiba tidak jatuh ke Liga 3. “Kami akan berjuang sekuat mungkin agar Persiba tetap eksis di Liga 2,” ujar Ichsan Rachmansyah,  CEO baru Persiba

Sebelumnya Persiba dalam posisi genting. Dari 8 kali pertandingan, hanya sekali memetik kemenangan. Puncaknya ketika melawan Persewar Waropen di kandang sendiri pekan lalu. Hasilnya  kalah memalukan 1-3. Pendukung Persiba marah, mobil bus pembawa pemain sempat dikepung.

Dengan modal kemenangan kemarin, Persiba menggeser Persipura dari urutan buncit klasemen sementara Liga 2 Grup D. Persiba naik satu tingkat ke urutan 6 dari 7 peserta. Sementara Sulut United  berada di posisi puncak.

Tim Persiba masih menyisakan 3 pertandingan. Dua laga di kandang sendiri, yaitu menjamu PSBS Biak pada Kamis (23/11) dan Persipal Babel United pada 10 Desember serta satu pertandingan away atau tandang melawan Kalteng Putra FC, Kamis (30/11).

“Kami akan mendatangkan pelatih dan pemain baru, untuk memberikan dampak positif pada penampilan Persiba di masa datang,” kata MRP.

“BUMI PERTIWI”

Tantangan manajemen baru sangat berat. Selain menaikkan kembali prestasi Persiba, juga mencari sponsor untuk dukungan dana operasional. Sebab pemasukan dari tiket penonton sangat terbatas. Pertandingan Persiba lawan Persipura sepertinya tak sampai dua ribu orang yang menonton.

Kepada wartawan, Ichsan mengharapkan dukungan Pemerintah Kota dan pengusaha atau perusahaan di Balikpapan agar manajemen Persiba mempunyai kekuatan lebih maksimal dalam memajukan prestasi tim.

“Untuk mendapat dukungan dari Pemkot Balikpapan, kami sangat terbuka untuk menjalin komunikasi dan mengenal satu sama lain,” katanya serius.

Mengutip pemberitaan apahabar.com, mantan bos Persiba Gede Widiade sempat menggambarkan kurangnya dukungan pemerintah Balikpapan kepada Persiba. Sampai akhir kepemimpinannya, dia menyatakan hanya Balistik yang mempunyai andil dukungan yang begitu besar. “Yang lain termasuk pemerintah kota terasa kurang,” ungkapnya.

Menurut Ichsan, pihaknya juga sangat berharap para pengusaha atau perusahaan yang banyak beroperasi di Balikpapan ikut berpartisipasi menjadi sponsor. “Kami sudah mendapat beberapa sponsor baru dari luar, tapi juga sangat berharap yang dari Kaltim terutama dari Balikpapan,” tambahnya.

Dalam keterangan terpisah kepada wartawan, Walikota Balikpapan Rahmad Mas’ud terkesan kurang sreg dengan pengalihan manajemen dari Gede Widiade langsung ke MRP. “Seharusnya serahkan dulu ke Pemkot. Kembalikan saja ke ‘Ibu Pertiwi.’ Biar Pemkot yang cari solusinya. Saya siap datangkan investor dan orang yang siap mengelola Persiba,” katanya seperti diberitakan Kaltimkita.com.

Rahmad menyangkal kalau dirinya dianggap tidak peduli dengan Persiba. Dia mengaku pernah menjadi manajer Persiba. Demi Persiba, dia banyak mengeluarkan dana pribadi waktu itu. Tapi sekarang Persiba merupakan tim profesional, yang sudah berbadan hukum sebagai perseroan. “Jadi bukan saya tidak peduli, tapi memang kondisinya sudah berbeda,” jelasnya.

Ketika masih sebagai wakil wali kota tahun 2019, Rahmad sempat menjadi presiden Klub Persiba menyusul mundurnya manajemen lama yang dipimpin H Syahril  HM Taher. Tapi hanya dua bulan, tiba-tiba dia menulis surat  pengunduran diri. Pemkot sempat meminta Rahmad tidak mundur. Tetapi gagal. Salah satu alasannya waktu itu karena keterlambatan kontrak pemain akibat legalitas peralihan yang belum tuntas dengan manajemen lama. Sementara manajemen lama menganggap sudah selesai, kecuali soal pemenuhan kesepakatan tentang sisa pembayaran.

“Sebagai investor terpilih dengan berat hati kami menyerahkan kembali pengelolaan Persiba kepada Pemerintah Kota Balikpapan,” kata Rahmad dalam surat pengunduran dirinya, yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Dalam keadaaan yang benar-benar genting, Persiba akhirnya terselamatkan dengan kehadiran Gede Widiade. Dia berkenan mengelola Persiba setelah ditemui Sekda Pemkot saat itu, Sayid Fadli di Jakarta. Hampir 4 tahun menangani Persiba, akhirnya  Gede juga melepas dengan berat hati. Syukur ada MRP, yang bersedia menjadi penggelola baru.

“Sejak Senin, 13 November 2023, saya mengambil alih manajemen Persiba dan melanjutkan perjuangan Pak Gede demi menyelamatkan dan memajukan Persiba di masa datang,” kata MRP penuh semangat.

Pak Gede sendiri optimis di tangan MRP, Persiba bisa lebih berkembang lagi. Meski tak lagi berada di manajemen, Pak Gede mengaku masih berada di dalam unsur kepemilikan. “Nanti anak saya Rheza masuk dalam holding company,” jelasnya.

Ketika menonton Persiba lawan Persipura kemarin, ada yang mengusulkan kepada saya agar logo dan nama Persiba diganti. Biar ada suasana baru.  “Kalau mungkin dilombakan logo baru Persiba yang lebih modern dan menjual. Namanya juga  diubah. Misalnya menjadi Balikpapan City FC. Seperti Manchester City. Biar lebih tajam dan kuat,” ujarnya.

Tapi usul ini tidak gampang. Usman, salah seorang pendukung Persiba dari Batakan bilang, nama dan logo Persiba sudah menjadi satu dengan darah daging orang Balikpapan. “Tidak mudah menghilangkan sejarah. Malah nanti kita kehilangan arah,” katanya mengingatkan.(*)

Mantau  Ke-7 Arul

November 19, 2023 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

ADA tiga alasan mengapa saya mesti datang ke outlet mantau yang baru milik pengusaha muda Bung Arul. Pertama, karena semangat bisnisnya yang hebat dan sukses. Kedua, karena mantaunya yang memang lezat. Dan ketiga, karena gerai mantau yang baru adalah gerai ke-7. Kebetulan saya caleg DPR RI Dapil Kaltim No 7. Jadi pas untuk memotivasi dan mengampanyekan saya. He.

Arul (paling kanan) bersama istrinya memotong pita peresmian

Grand opening outlet mantau ke-7 milik Bung Arul itu berlangsung Minggu (12/11) lalu. Lokasinya sangat strategis. Di sudut halaman kantor Telkom Kalimantan di Jl MT Haryono Balikpapan. Arul memang menyewa lokasi tersebut dari Telkom. Di samping Indo Maret dan boks pengambilan uang ATM.

Nama outlet-nya “Straat Kitchen.” Tapi yang di Balikpapan Baru (BB) bernama Straat Mantau. Sama saja, katanya. Karena produk utamanya adalah roti mantau. Tapi dengan nama Straat Kitchen, ada menu lain yang tak kalah menarik ikut ditawarkan.

Itu sebabnya Arul mendatangkan koki pastry  atau chef baru yang hebat. Namanya Wahyu Widodo. Dia punya pengalaman di mancanegara. Di hotel bintang lima.  Di antaranya Apollo Chandler Ship-Florida, Le Pain Quotidian Qatar, Sollitel Al Khobar Hotel Dammam, Mandarin Oriental Jakarta, JW Marriot Jakarta, dan Whyndam Hotel.

Menurut Arul, Chef Wahyu mau diboyong ke Balikpapan karena tertarik melihat perkembangan Straat Mantau yang tumbuh pesat. Apalagi berada di daerah  penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). “Silakan, menu apa saja yang enak buat pelanggan saya siap membuatnya,” katanya  menantang.

Selain roti mantau yang dicocol daging sapi lada hitam, Straat Mantau juga menyediakan menu Balikpapan Breakfast sampai menu makan siang. Di antaranya sop buntut, yang menjadi menu best seller-nya. Juga risoles mayo yang gurih. Dengan berbagai macam minuman, termasuk minuman cocktail, segar dan sehat.

Di Straat Kitchen Telkom, juga ada menu baru yang menarik. Yaitu pisang gapit. Pisang bakar yang dijepit. Di Pantai Losari Makassar dikenal dengan nama pisang epe’. Jajan tradisional yang in lagi. Saya usul kalau bisa ditambah dengan lempeng. Ini belum ada di Balikpapan. Saya suka makan lempeng kalau singgah di Kedai Kong Djie Citra Niaga Samarinda.

Bahan baku utamanya sama, pisang kepok. Lalu dicampur tepung dan beberapa bumbu. Setelah menjadi adonan dimasukkan dalam wajan atau teflon seperti membuat telur dadar. Sangat baik kalau dilapisi daun pisang. Terasa aromanya. Sedap. Makanan saya waktu kecil.

Saya lihat ada sejumlah pejabat Telkom datang. Juga komunitas motor besar Harley Davidson Balikpapan (HDCI) diketuai Denny Yusni Arman. Bersama dengan klub Pajero Indonesia One. Komandannya Denmas Eko.

Saya duduk bersama Pak  Aries Adriyanto, GM Plaza Balikpapan yang datang bersama anak istrinya. Aries memuji usaha pesat yang dibangun Bung Arul. “Hebat Mas Arul, usahanya cepat berkembang dan sukses,” katanya.

Saya bersama GM Regional 6 Telkom Property Eko Budi Susianto didaulat Bung Arul dan istrinya ikut menggunting pita. Tamu dan undangan bertepuk tangan memberi apresiasi atas dibukanya outlet baru Straat Kitchen yang ke-7.

Cucu saya Deffa dan Daffin suka sekali saya bawa ke Straat Mantau. Dia lahap sekali menikmati menu yang disajikan termasuk roti mantaunya. Tapi dia tak berani pesan minuman yang dingin. Kecuali ada izin bundanya. “Deffa dan Daffin minum air putih aja,” katanya kompak. Diam-diam Daffin membawa satu kotak roti mantau ke rumahnya.

GELARNYA BANYAK

Nama sesungguhnya Bung Arul adalah Khairul Anam. Tapi sering dipanggil Bung atau Mas Arul. Gelar akademiknya sangat istimewa dan banyak. SH, S.Tr.Par, M.Par dan MH. Ada empat. Kalau tidak salah, S.Tr.Par dan M.Par adalah sarjana terapan dan magister pariwisata. Ini membuktikan bahwa dia pengusaha muda yang cerdas dan ahli kepariwisataan. Ditambah lagi ada sarjana dan magister hukum.

Dia dilahirkan di Sampit, Kalteng, 16 April 1983. Tapi sukses di Balikpapan, Kaltim. Istrinya bernama Ayu Renia Putri. Buah perkawinan mereka, ada tiga anak. Agler Cordelia Zaviera Anam adalah anak pertama. Cewek. Menyusul dua adiknya laki-laki, yaitu Muhammad Al-Fayyadz Sarfaraz Anam dan Muhammad Rafassya Sagufta Anam.

Sebelum membuka usaha sendiri, Arul sudah melanglang buana ke berbagai hotel berbintang. IBIS Jakarta dan Bali, Mercure Grand Mirama Surabaya, Sheraton, Fave Hotel Wahid Hasyim, sampai Blue Sky dan Aston Balikpapan.

Saya dan Pak Dahlan Iskan di Straat Mantau Bandara Sepinggan

Di bawah bendera PT Agler Etam Jaya, Arul mengembangkan usahanya sejak Agustus 2020.  Berkat ketekunan, kerja keras disertai semangat inovasi dan kreativitas yang dibangunnya, usaha bidang kuliner itu berkembang. Sekarang Arul punya 71 karyawan yang bertugas di 7 outlet. Gerai pertamanya dibuka di Straat 1 Jl Soekarno Hatta Balikpapan. Itu sebabnya dia memakai nama “Straat.” Itu Bahasa Belanda yang berarti jalan.

Arul tidak berhenti sampai di sini saja. Dia sudah punya rencana pengembangan usahanya. Tahun ini satu gerai lagi akan dibuka di Bandara Sepinggan. “Insya Allaah bulan Desember. Dan 2 lagi di bulan Maret 2024 termasuk outlet baru di Samarinda,” katanya.

Sekarang dia lagi mengikuti tender lounge di Bandara Sepinggan. Nama lounge-nya “Nusantara Executive Lounge.” Dia juga buka brand baru bernama “HAN SOE Tiam HAN.” Kaya nama China. Padahal hanya perpaduan nama orang tuanya. HAN dari nama ibunya, Siti HANiyah dan SOE dari nama ayahnya, Muhammad SOEparto. Saya bilang harus buka juga gerai baru di sekitar lokasi IKN, Sepaku.

Hari Jumat (17/11) saya  berada di Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan. Menemani Pak Dahlan Iskan yang transit ke Sangatta, Kutim. Saya ajak dia ke gerai Straat Mantau. “Cocok itu,” katanya. Seorang karyawati  datang membawa daftar menu. Dia menawari menu roti mantau. “Coba ini, Pak, ini makanan istimewa dari Balikpapan,” katanya. Pak Dahlan tersenyum. “He, aku sudah sering mencoba. Tapi ya memang enak,” katanya sambil  memesan satu biji. Alhamdulillah, kata sang karyawati juga tersenyum.(*)

“Adiwiyata”  di BIS

November 18, 2023 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

SAYA tidak banyak lagi mengikuti perkembangan sekolah Adiwiyata. Maklum sudah tak lagi menjadi wali kota. Tapi saya dengar ada 26 sekolah di Balikpapan menerima penghargaan Adiwiyata Mandiri dan Nasional dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2023 ini.

Ada 15 sekolah menerima Adiwiyata Mandiri. Yaitu SDK Santa Theresia, SDN 002 dan 027  Balikpapan Tengah, SDN 003, 007 dan 009 Balikpapan Utara, SD 004 dan 010  Balikpapan Selatan, SDN 006  Balikpapan Timur,  SDN 015 Balikpapan Kota, serta SMPK Santo Mikail, SMPN 5 dan SMPN 10.

Selanjutnya 11 sekolah menerima Adiwiyata Nasional. Mereka adalah SDIT Istiqamah, SDN 005 dan 018 dari Balikpapan Utara, SDN 011 Balikpapan Selatan, SDN 013, 015, 017 dan 018 dari Balikpapan Barat, SDN 013 Balikpapan Timur,  SDN  020 dari Balikpapan Tengah serta SMAN 2.

Sekolah Adiwiyata adalah sekolah yang peduli lingkungan yang sehat, bersih serta lingkungan yang indah. Lingkungan yang sehat dan bersih itu, di antaranya berkaitan dengan urusan pengelolaan sampah. Ada tiga prinsip yang harus dianut. Biasanya disebut 3R, yaitu Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan ulang) dan Recycle (mendaur ulang). Sedang konsep indah di antaranya adanya taman dan pepohonan yang membuat sekolah menjadi nyaman dan segar.

Anugerah Adiwiyata itu ada empat tingkatan. Mulai Adiwiyata tingkat kabupaten/kota, tingkat provinsi, tingkat nasional dan puncaknya Adiwiyata Mandiri. Sekolah yang sudah meraih Adiwiyata Mandiri atau Utama diberikan kesempatan mencapai Asean Eco School atau Adiwiyata tingkat Asean.

Belum saya ketahui apakah sekolah cucu saya sudah meraih Adiwiyata. Minimal tingkat kota. Tapi saya apresiasi di sekolah cucu saya, Deffa dan Daffin kepedulian tentang sampah cukup baik  ditanamkan kepada semua siswa. Bagaimana membangun perilaku yang tidak banyak menghasilkan sampah sampai cara menggunakan dan memanfaatkan sampah tetap berguna dan bernilai ekonomi.

Nama sekolah cucu saya itu, Sekolah Dasar Islam Terpadu Balikpapan Islamic School (SDIT BIS). Lokasinya masih satu kompleks di Balikpapan Baru (BB). Lengkapnya di Jl Alamanda Sel. No 18, Damai, Kecamatan Balikpapan Kota.

Cucu saya Deffa (nama lengkapnya Muhammad Rizky Deffaldi) duduk di kelas 4B Salman Al Farisi. Wali kelasnya Bunda Tia.  Sedang Daffin (Muhammad Daffin Rizaldi) masih di kelas 2C Abdurrahman bin Auf dengan wali kelasnya Bunda Kiki dan Uswah.

Tiap kelas diberi nama tokoh Islam. Salman Al Farisi adalah sahabat Nabi Muhammad yang berasal dari Jayyun, Kota Isfahan, Persia pada tahun 568 M. Di kalangan sahabat dia dikenal dengan panggilan Abu Abdullah. Sedang Abdurrahman bin Auf  juga sahabat Nabi. Dari Bani Zuhrah. Dia salah seorang dari 8 orang pertama yang menerima agama Islam, yaitu dua hari setelah Abu Bakar.

SDIT BIS  adalah sekolah Islam yang punya tekad menghasilkan karya terbaik melalui peningkatan kualitas pembelajaran dan melakukan berbagai inovasi pendidikan yang seimbang (tawazun), menyeluruh (syamil) dan terpadu. Visinya adalah membentuk generasi Qur’ani. Cerdas, Berjiwa Riset dan Peduli Lingkungan.

Untuk mencapai visi tersebut, maka SDIT BIS mengombinasikan kurikulum yang dikeluarkan Dinas Pendidikan dengan kurikulum khas, yang menjadi nilai tambah bagi anak-anak dalam proses belajar dan pembentukan karakter dirinya.

Kurikulum khas itu di antaranya dikembangkannya dengan  sistem belajar Qur’an dengan metode UMMI, belajar Bahasa Inggris BIEC, asah bakat, life skill dan pengembangan program Champion Class.

BIS didirikan pada tanggal 30 Januari 2004 oleh Yayasan Al-Ikhwan Balikpapan Baru. Ketua Yayasan sekarang dipercayakan kepada Akhmad Bustaman Mansyur, sedang kepala sekolahnya Bunda Ratna. Lengkapnya Ratnawati, S.Pd.

Sebagai SDIT, BIS juga memiliki program PAUDIT dan SMPIT Modern. Jadi lulusan SDIT bisa meneruskan ke SMPIT, yang bangunannya berdampingan. Jadi tidak perlu repor-repot lagi.

Pada tahun 2011 SDIT BIS berhasil mendapatkan Akreditasi A dari tim Badan Akreditasi Nasional (BAN) di bawah kepemimpinan Bunda Hj Fitri Maisyarah ST.

MEJA PLASTIK

Beberapa hari lalu saya menyempatkan hadir di acara sekolah kedua cucu saya. Di kelas Daffin diadakan acara Puncak P5 Bhinneka Tunggal  Ika. P5 itu adalah Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Beberapa hari kemudian di kelas Deffa diadakan acara bertema “Kurangi Plastik Hidup Jadi Asyik.”

Deffa dan Daffin dipercaya gurunya menjadi pembawa acara atau MC. Agak kaget juga saya. Kok mirip bakat saya. Dulu saya juga sering jadi MC dan moderator. Di sekolah dan kampus. Malah saya pernah jadi MC konser dari beberapa artis Ibukota yang datang ke Samarinda. Di antaranya Marrisa Haque, Ebiet G Ade dan Koes Plus.

Acara Bhinneka Tunggal Ika ditandai dengan peragaan seni budaya Nusantara. Mulai presentasi  lagu dan tari daerah, bahasa daerah sampaikan makanan daerah. Saya senang ada penyajian  barongko, kue pisang orang Bugis. Itu kesukaan saya. Selain menjadi MC, Daffin juga ikut tampil bersama teman-temannya menampilkan seni budaya Nusantara.

Daffin tampil mengenakan busana Jawa. Pakai sarung batik dan beskap lurik. Lalu mengenakan blangkon. Lucu sekali. Apalagi badannya bongsor. Tapi dia tidak bisa bahasa Jawa. Bundanya berdarah Bugis, sedang ayahnya berdarah Banjar-Jawa. Rekannya yang putri, yang pandai berbahasa Jawa.

Yang seru acara Deffa di kelas 4 tentang lingkungan. Mengenakan rompi Dayak, dia duet sama ibu gurunya membawa acara. Ada penampilan Pahlawan Lingkungan, tarian berbusana plastik bekas sampai puisi tentang sampah dan lingkungan.    Juga dipamerkan sejumlah karya anak-anak kelas 4 dari bahan plastik bekas seperti bunga, tas sekolah dan lainnya.

Tak kalah menariknya  kursi dan meja yang diduduki Deffa. Semuanya dari plastik bekas. “Ini sesuai dengan tema acara kita, tentang pengurangan dan pemanfaatan plastik bekas,” katanya dengan wajah berseri-seri.

Saya berharap di tahun depan SDIT BIS sudah masuk penilaian sekolah Adiwiyata. Sekolah berbasis lingkungan yang sehat, bersih dan indah. Seperti motonya Kota Balikpapan, BERIMAN. Beriman kepada Allah SWT, Malaikat, Kitab-kitabNya, Nabi dan Rasul, Hari Akhir serta Qada dan Qadar. Juga Beriman dalam arti  Bersih, indah, aman dan nyaman. Aamiin.(*)

Boikot dan Pizza Arita

November 17, 2023 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

Anak-anak Kelompok Bermain Tulip Balikpapan Regency

SEBELUM Presiden Jokowi terbang ke Arab Saudi dan Amerika Serikat, Majelis Ulama Indonesia atau MUI lebih dulu mengeluarkan fatwa haram dalam upaya mendukung perjuangan bangsa Palestina, yang saat ini tengah dihabisi (genosida) oleh negara Israel laknatullah.

Fatwa haram itu dirilis MUI pada 10 November setelah dilaksanakan Sidang Rutin Komisi Fatwa MUI, yang dipimpin Ketua MUI Bidang Fatwa KH Asrorun Niam Sholeh. Tegasnya, fatwa itu diberi label Fatwa MUI No 83 Tahun 2023 tentang Hukum Dukungan terhadap Palestina.

Berdasarkan fatwa tersebut, mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina hukumnya wajib. Sementara mendukung Israel hukumnya haram. MUI juga menegaskan bahwa umat Muslim diharamkan membeli produk dari produsen yang terafiliasi dan mendukung agresi Israel ke Palestina.

Aksi boikot atau mengharamkan produk yang terafiliasi Israel itu sejalan dengan Gerakan Boikot, Divestasi dan Sanksi atau BDS (Boycott, Divestment, Sanctions), yang  sudah dijalankan di berbagai belahan dunia terutama negara Islam selama beberapa tahun terakhir.

Mengutip akun Instagram @hijrahpedia, disebutkan ada 121 produk yang beraroma terafiliasi dengan Israel. Produk itu beredar di Indonesia dan sebagian besar menjadi pilihan konsumen terbesar. Gerainya dibuka hampir di seluruh pelosok Tanah Air.

Lihat saja. Dari makanan fast food di antaranya ada McDonald’s, KFC, Pizza Hut dan Burger King. Dari minuman dan makanan ringan di antaranya Starbucks, Oreo,  Cheetos, Milo, Nescafe,  Coca Cola, Pepsi, Fanta termasuk Aqua. Sedang dari produk perawatan pribadi di antaranya terdapat Rinso, Molto, Pepsodent, Close Up, Colgate, Sunsilk, Lifeboy, Lux, Sariwangi, Listerine,  Lipton, Royco, Nivea, Loreal dan Maggi.

Menurut Direktur Utama LPPOM (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika) MUI, Muti Arintawati,  adanya fatwa haram penggunaan produk yang diklaim terafiliasi Israel  tidak berarti menghilangkan status halal  dari produk tersebut. “Kehalalan produk tidak mengalami perubahan sepanjang seluruh persyaratan Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH) terus diimplementasikan oleh pihak perusahaan atau pabrik,” jelasnya.

Menurut pakar marketing Yuswohady, boikot ini bersifat Fear of Missing Out (FOMO) atau perasaan takut tertinggal karena tidak mengikuti aktivitas tertentu.  Setelah terjadi gencatan senjata dan perdamaian di Israel dan Palestina nanti, maka FOMO akan hilang.

Dia juga mengungkapkan, adanya aksi boikot MUI, menjadi momentum baik untuk brand lokal dan pelaku UMKM untuk menggaet pasar. “Ini kesempatan baik  brand lokal berkembang, tinggal pendekatannya dilakukan dengan baik,” jelasnya kepada Republika.

Adanya aksi boikot menekan Israel membuat Danone  kaget dan resah. Danone adalah perusahaan yang beroperasi di 120 negara termasuk di Indonesia. Salah satu produknya adalah minuman mineral kemasan Aqua, yang sudah mendarah daging di tubuh kita.

Menurut Corporate Communication Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin, Danone tidak memiliki afiliasi dengan politik di mana pun. Danone juga tidak memiliki pabrik di Israel dan juga tidak beroperasi di sana.

Di Indonesia, Danone memiliki 25 pabrik dengan 13 ribu karyawan dan melayani lebih dari 1 juta pedagang di seluruh negeri. “Danone terus berkomitmen untuk mengembangkan investasinya di Indonesia demi turut membantu ekonomi, sosial dan kesehatan bangsa Indonesia,” jelasnya seperti diberitakan WARTAKOTALIVE.COM.

Sementara itu MUI membantah merilis daftar produk Israel dan terafiliasi seperti yang beredar di internet atau media sosial. “MUI tidak berkompeten,  itu yang merilis pihak lain,” kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI Miftahul Huda kepada detiknews.

Gara-gara adanya ajakan aksi boikot, ada pemilik toko dengan akun @ud.syafaatpromo melakukan aksi membuang-buang isi sabun produk pro Israel yang dijual di tokonya. “Fatwa MUI itu sudah saya tunggu-tunggu. Saya tidak merasa rugi, ini semua dari Allah. Saya bela saudara kita di Palestina,” katanya seperti diberitakan KILAT.COM.

JADI LARIS

Sementara itu, seruan boikot dari MUI itu memang berdampak positif bagi sejumlah produk lokal. Ada  yang kebanjiran pesanan. Misalnya pizza buatan istri saya, Bunda Arita. Belakangan banyak ibu-ibu dan anak-anak datang ke Balikpapan Regency.

Ada yang belajar membuat pizza, ada juga yang langsung pesan barang jadinya. “Ampun… saya kewalahan. Tiap hari ada yang datang ke rumah atau pesan lewat WA,” kata Bunda Arita, yang sejak subuh sudah mempersiapkan adonan pizza-nya.

Beberapa ibu mengaku bersyukur bisa belajar membuat pizza dari Bunda Arita. Ada yang untuk konsumsi di rumah sendiri, tapi ada juga yang membuka usaha baru dengan jualan pizza. “Alhamdulillah anak-anak suka buatan saya sendiri dan tidak khawatir dengan adanya imbauan boikot produk dari luar,” kata Ibu Suparni bersemangat.

Hal yang sama  juga disampaikan oleh Ibu Hasto. Jualan pizza-nya jadi laris dan bisa bersaing. Dia senang saja ada gerakan pemboikotan produk pro Israel,   karena membuka kesempatan kepada UMKM berkembang. “Ada berkahnya saya belajar membuat pizza dari Bunda Arita,” jelasnya.

Pekan terakhir ini ada beberapa grup yang belajar pizza Bunda Arita. Di antaranya ibu-ibu dari Balikpapan Regency, ibu-ibu dari gabungan majelis taklim dari Balikpapan Kota dan Tengah, Majelis Taklim Jami Ar Rahim, IWAPI, Taudsaqu Istiqomah dan Paud Kusuma.

Suasananya berlangsung meriah. Mereka dipandu Bunda Arita mulai menyiapkan bahan terutama tepung berikut bahan-bahan lain untuk topping-nya. Kemudian cara  memasaknya dengan memasukkan adonan tepung ke dalam oven.

Lantaran sibuk melayani ibu dan anak yang belajar membuat pizza, kegiatan Bunda Arita melakukan sosialisasi pencalegannya ke pelosok-pelosok agak berkurang. Ada yang me-WA dia kapan datang ke lingkungannya. Bunda Arita menjadi caleg DPRD Kaltim No 3 dari Partai Nasdem Dapil Balikpapan. “Mohon sabar ya, Bu. Mohon doa dan dukungannya,” katanya menjawab.(*)

« Previous PageNext Page »

  • vb