Pecelnya Mas Perri

October 24, 2023 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

SAYA sudah dua kali mampir ke warung Nasi Pecel Mas Perri. Kunjungan saya kedua, Minggu (22/10) siang, setelah  menghadiri undangan resepsi pernikahan. Saya bilang ke Vibra, anak muda yang menemani saya, kita makan nasi pecel di Mas Perri saja. Cita rasanya cocok dengan lidah saya.

Lokasi Nasi Pecel Mas Perri di Jl Praja Bakti 61. Tepatnya di belakang Kantor Dinas PUPR Balikpapan. Tak jauh dari Dome. Suasana warungnya diseting Mas Perri seperti Warung Kopi Klotok di Kaliurang, Yogyakarta. Suasananya khas Jawa dan sebagian pengunjung menikmati makan di bawah pohon. Ada pohon ketapang, pohon pisang kipas, bambu, dan kelapa sawit.

Memilih lauk dan aneka gorengan

Warung Kopi Klotok sudah terkenal sampai ke Istana Negara. Presiden Megawati, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan Presiden Jokowi sudah pernah singgah di sana. Saya lihat fotonya dipajang di dalam warung bersama sejumlah artis terkenal.

Tapi Warung Kopi Klotok menu utamanya bukan nasi pecel. Sayur lodeh. Ada lodeh tempe, lodeh terong, dan lainnya. Orang boleh ambil sendiri sepuasnya. Menu utama lainnya ya Kopi Klotok plus pisang goreng. Makannya sambil melihat hamparan sawah yang menguning.

Kopi klotok itu adalah cara pembuatan kopi secara tradisional di Jawa. Kopi tidak diseduh. Tapi direbus dalam panci di atas tungku arang sehingga mengeluarkan bunyi klotok-klotok ketika mendidih. Karena itu namanya Kopi Klotok. Kata orang, cara ini mirip pembuatan kopi tradisional di Turki.

Di Mas Perri juga ada pisang goreng. Bahkan tak jarang ada cempedak goreng kesukaan saya.  “Ya itu musiman kalau lagi ada,” jelasnya. Pisang goreng di Mas Perri ada bumbunya. Enak juga. Kebiasaan saya orang Banjar, zaman dulu menikmati pisang goreng dengan mentega dan gula pasir.

Juga agak lain di Nasi Pecel Mas Perri soal minuman yang ditawarkan. Misalnya ada es strup jadul dan strup susu.  Minuman lain ada “Es Coklat Selamat Pagi.”

Kemarin, maunya saya santai saja. Tapi sebagian pelanggan Mas Perri tetap kenal saya. Ada yang minta foto. “Saya pendukung Pak Rizal,” katanya tersenyum. Alhamdulillah. Kebetulan saya lagi nyaleg lewat Nasdem. No 7 di kursi DPR RI. Istri saya, Bunda Arita untuk DPRD Kaltim No 3.

Saya juga bertemu Asisten 1 Pemkot Balikpapan Drs Zulkifli yang datang bersama anak istrinya. Dia ternyata juga penggemar Nasi Pecel Mas Perri. Kalau hari kerja, banyak staf di PUPR, BPBD, Perizinan dan PDAM yang datang ke situ.

Ketika saya menikmati pecelnya plus peye dan telur dadar, Mas Perri lagi memutarkan lagu Walang Kekek. Penyanyinya Waldjinah, “Ratu Keroncong” yang lahir di Surakarta, 7 November 1945. Dia masih hidup. Berarti usianya 78 tahun. Saya bilang ke Vibra, anak muda sekarang pasti tidak tahu. Waldjinah itu hebat. Penyanyi langgam Jawa. Cantik pada zamannya. Bisa mengalahkan Dwi Persik.

Syukurnya anak muda sekarang termasuk di Balikpapan lagi keranjingan lagu Jawa. Terutama koplo dan campur sari. Konser Happy Asmara di Kilang Mandiri beberapa waktu lalu dijejali ribuan anak muda. Penampilan Denny Caknan juga mendapat panggung meriah. Saya kaget anak muda di kota ini bisa mengiringi lagu-lagu Jawa yang dibawakan Denny.

Happy Asmara dengan Denny Caknan pernah pacaran selama 3 tahun. Tapi hubungan itu tak nyambung lagi di akhir tahun 2022. Denny malah menikah dengan Bella Bonita. Waktu  cinta mereka bersemi, para fansnya disebut “Pastenan.” Gabungan dari Pasukan Happy Asmara Sejati (Pashati) dengan Tenanan (Teman Caknan).

Saya tidak tahu apakah lagu-lagu Jawa Denny Caknan di antaranya “Cundamani, Jajalen Aku” dan “Kalih Welasku” pernah diputar di warung Mas Perri? Tapi yang pasti makan nasi pecel itu lebih pas diiringi lagu-lagu langgam Jawa yang melankolis. Nah, itu banyak dibawakan Waldjinah di zamannya.

DIKIRIM DARI MOJOSARI

Menurut Mas Perri, warungnya sudah dibuka beberapa bulan lalu. Dia tak menyangka langsung viral. Mulai menjelang siang sampai pukul 21.00 malam selalu penuh. Banyak yang memuji menunya cocok dan sesuai selera. “Alhamdulillah bisa diterima masyarakat,” ujarnya.

Mas Perri bersama istrinya bahu membahu untuk memberikan kepuasan kepada pelanggannya. Yang tidak gampang, katanya, soal bumbu nasi pecelnya. Sebab, sampai saat ini tidak dibuat di Balikpapan. Tapi dibuatkan ibunya yang tinggal di Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. “Hampir dua hari sekali dikirim lewat kapal. Kalau mendesak terpaksa naik pesawat,” jelasnya.

Kenapa dibuat di sana? Ternyata berkaitan dengan beberapa bahan bumbu. Misalnya soal bawang putih dan gula merah. Entah bagaimana, bawang putih dan gula merah yang ada di Jawa, kampung ibunya jauh lebih cocok dipakai untuk menaikkan cita rasa bumbu pecelnya.

Sepertinya sang ibu juga jual nasi pecel di desanya. Makanya di Nasi Pecel Mas Perri ada ditulis tagline: “Asli Mojosari sejak 2019.”

Mengutip dari Wikipedia, pecel atau pecal itu merupakan makanan kuno yang sudah ada sejak abad ke-9 Masehi, era Kerajaan Mataram Kuno di bawah pemerintahan Raja Rakai Watukura Dyah Balitung (898-930 M) yang tercatat dalam Kakawin Ramayana.

Konon hidangan pecel juga muncul ketika gencarnya penyebaran agama Islam di Jawa. Suatu hari Sunan Kalijaga terkesan dengan makan siang berupa pecel, yang dihidangkan oleh Ki Gede Pemanahan di kediamannya di Mataram.

Menurut Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada (UGM), Murdijati Gardjito, istilah pecel dari bahasa Jawa. Artinya, diperas setelah direbus. Mungkin maksudnya sayur-mayur seperti kacang panjang, bayam, taoge dan lainnya itu direbus dulu baru diperas. Kemudian disiram dengan kuah sambal kacang.

Saya suka nasi pecel Mas Perri.  Ada sayur bunga turinya. Dari aspek kesehatan, bunga kembang turi mengandung kalsium, zat besi, zat gula, vitamin A serta vitamin B, yang mempunyai manfaat untuk melembutkan kulit, pencahar dan penyejuk. Juga untuk mengobati sakit tenggorokan.

Waktu saya masih menjabat wali kota, menu makan siang saya sering disiapkan ajudan nasi pecel. Terkadang dibelikan nasi pecel di Warung Tulung Agung, nasi pecel pincuk khas Madiun Pak Kumis atau nasi pecel daging Bu Tia di Stal Kuda. Semuanya enak.

Kalau lagi kangen makanan Jawa khususnya Yogyakarta  saya sering ke Warung Jogja Istimewa punya Ibu Endang Susilowati di Balikpapan Baru (BB). Malah saya yang meresmikan warung cabangnya di Klandasan, Jl Jend Sudirman. Di situ ada gudeg, wedang uwuh dan juga nasi pecel. Ada juga Dapur Jogya yang sama menunya di belakang Mall Fantasi.  Kebetulan istri saya, Bunda Arita juga orang Jogja. Jadi ya senang juga makanan dari Jogja termasuk pecelnya. Tapi nasi pecel Mas Perri memang “Ojo Dibandingke.” Memang nyaman banar, kata orang Banjar.(*)

Menanti Air, Ketimpa Tandon

October 23, 2023 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

Mobil tandon air yang sekarang jadi buruan masyarakat

DARI Jakarta saya meluncur ke Sentul Bogor, Jumat (20/10) sore. Alhamdulillah udaranya sangat sejuk. Sentul barusan disiram hujan. Jalan dan hutan di sekitarnya tampak basah. Bogor diguyur hujan sebenarnya hal biasa, maklum curah hujan di kawasan ini biasanya memang tinggi. Karena itulah Bogor dijuluki “Kota Hujan.”

Tapi saya kaget ketika sampai di rumah cucu saya, Jenna. Ternyata distribusi air PDAM di rumahnya lagi ngadat. “Sudah beberapa lama air digilir di sini, Kai, ya salah satunya  karena dampak kemarau. Hujan tadi yang pertama,” ujar Mas Akbar, ayah Jenna.

Kawasan Bogor ternyata juga dilanda kemarau akibat badai El Nino. Bukan saja Kalimantan dan daerah lainnya. El Nino adalah fenomena alam yang menyebabkan  berbagai wilayah termasuk Indonesia dilanda kekeringan yang berkepanjangan.

Nama El Nino itu unik juga. Konon dari Bahasa Spanyol. Artinya anak laki-laki. Lawannya La Nina, anak perempuan. Kalau El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut menjadi lebih hangat, maka La Nina terjadi ketika suhu permukaan laut menjadi lebih dingin. Terutama di Samudera Pasifik.

Kekeringan akibat El Nino  membawa berbagai dampak yang berat. Di antaranya krisis air bersih di mana-mana, krisis pangan dan gagal panen, yang menyebabkan Indonesia harus mengimpor beras 3,5 juta ton serta terjadinya kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan.

Di mana-mana orang kesulitan mendapatkan akses air karena sejumlah waduk dan sungai mengering. Pemandangan tak lazim terlihat di Waduk Kedungombo, Kecamatan Kemusu, Boyolali, Jawa Tengah. Bayangkan eks kompleks pemakaman yang sudah ditenggelamkan bertahun-tahun silam kini muncul lagi.

Dari Makassar, mantan wapres Jusuf Kalla (JK) secara khusus meminta PMI di kota itu membagi-bagikan air bersih kepada masyarakat. Nipah Park, salah satu mall terbesar di kota ini terpaksa tutup karena tak dapat distribusi air.

Patok kayu bermunculan di Waduk Manggar

Di Balikpapan, air Waduk Manggar dan Teritip juga menyusut. Ratusan tonggak kayu dari waduk bermunculan. Kabarnya ketinggian air sudah di bawah 10 meter. PDAM sudah melakukan penggiliran. Karena kapasitas air baku dari 1.400 liter per detik menurun ke angka 900-an. Kompleks perumahan yang menggunakan WTP juga kelabakan. Termasuk di kediaman saya, kompleks Balikpapan Regency. Warga mau tak mau harus membeli air tanah, yang harganya naik berlipat-lipat. Itu pun harus menunggu giliran.

Kita memang sudah merasakan kekeringan berbulan-bulan.  Puncaknya pada  Agustus dan September lalu. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), El Nino diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir Oktober ini.

Tapi ini sudah ada tanda-tanda turun hujan. Malah di Aceh terjadi hujan lebat yang membuat bencana banjir. BMKG memperkirakan  wilayah Kalteng berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai angin kencang dan petir hingga tiga hari ke depan.

Di Balikpapan dalam minggu ini ada dua kali hujan, meski durasi atau intensitasnya tidak terlalu panjang. Tapi setidaknya memberi harapan kalau hujan bakal datang  dan mengakhiri musim kemarau yang sudah terjadi berbulan-bulan.

Hanya saja Sabtu (14/10) malam  lalu terjadi peristiwa memilukan.  Seorang warga di Balikpapan Barat meninggal ketika membenahi tandon untuk pengisian air di rumah saudaranya. Fondasi tandon itu mungkin sudah lapuk, ketika air sudah terisi tiba-tiba runtuh dan menimpa warga tersebut.

Upaya pertolongan diberikan. Sang warga sempat dilarikan ke rumah sakit, tapi nyawanya tidak tertolong. Pemakaman dilakukan Minggu siang dalam suasana penuh dukacita. Padahal keluarga tersebut tengah persiapan menggelar acara Maulud, sehingga acara Mauludnya dirangkai dengan tahlilan kematian. Sungguh tragis, semoga Allah SWT menerimanya husnul khotimah.

KESADARAN AIR KURANG

Mengatasi kekurangan air  memang tidak mudah. Ini menjadi isu dunia. Makanya ada peringatan Hari Air Sedunia (World Water Day)  setiap tanggal 22 Maret sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dunia tentang pentingnya air bersih bagi keberlangsungan hidup.

Peringatan Hari Air Sedunia ditetapkan melalui Sidang Umum PBB ke-47 tanggal 22 Desember 1992 di Rio de Janeiro, Brazil. Sejak itu kampanye dan upaya membangun kesadaran masyarakat tentang penggunaaan dan pengelolaan sumber daya air terus digaungkan. Termasuk di Indonesia.

Dari situs PBB disebarluaskan tema Hari Air Sedunia Tahun 2023, yaitu “Be The Change” atau “Menjadi Perubahan.” Cukup singkat, tapi bermakna dalam. Yaitu suatu upaya mendorong masyarakat untuk mengambil peran dan tindakan dalam hidup mereka untuk mengubah cara mereka dalam menggunakan, mengonsumsi, dan mengelola air bagi keberlangsungan kehidupan mereka.

Sayang kampanye tentang air di masyarakat sangat kurang. Masih kalah dengan sampah. Padahal dari tahun ke tahun kebutuhan air meningkat karena pertambahan penduduk dan ragam pemakaian. Sedang sumber air baku terbatas dan belum dikelola secara maksimal dan efisien. Warga seperti cuek, seakan-akan air akan datang dengan sendirinya.

Pada waktu normal sekali pun, Balikpapan misalnya, masih kekurangan suplai air baku. Catatan saya kurangnya sekitar seribu liter per detik. Pasti sudah bertambah.  Selama ini sumber air baku hanya dua. Dari waduk dan embung serta sumur atau air tanah. Ada Sungai Wain, tapi selama ini dipakai oleh Pertamina. Kapasitasnya juga terbatas.

Tempo hari sebenarnya mau dicoba pemanfaatan air laut (desalinasi). Investornya sudah berkali-kali datang ke Pemkot. Berbagai perizinan sudah diselesaikan. Sayang di detik terakhir partner dari luarnya ada masalah, sehingga rencana itu jadi batal atau tertunda. Saya sering mengatakan cepat atau lambat Balikpapan harus menempuh program desalinasi sambil menunggu teknologi yang lebih murah.

Dalam waktu singkat ini, Balikpapan tentu berharap banyak janji dari Kementerian PUPR ditunaikan. Waduk Sepaku di Ibu Kota Nusantara (IKN) sudah mulai diisi air. Rencananya 500 liter per detik akan dikirim ke Balikpapan. Tinggal persoalan siapa yang menanggung biaya pemasangan pipa transmisi. Biayanya cukup besar karena panjang pipa dari Sepaku ke Balikpapan di atas 50 km.

Selama ini mengatasi kekurangan air baku, PDAM dan warga di Balikpapan menggunakan sumber air tanah. Apakah bersumber air dari mata air, sumur dangkal atau sumur dalam. Yang perlu diwaspadai penggunaan air tanah berlebihan bisa menimbulkan dampak baru.

Anjloknya tanah atau penurunan permukaan tanah di sekitar kawasan Puskib (eks RSU lama) beberapa tahun lalu memberi indikasi karena pengurasan air tanah yang sudah berlebihan. Itu juga berdampak terhadap kuantitas dan kualitas air tanah jadi menurun. Belum lagi kemungkinan terjadinya intrusi air laut.

Izin penggunaan air tanah memang tidak bisa  diumbar. Apalagi produksinya dalam skala besar. Karena itu dulu ada pemikiran untuk membatasi penggunaan air tanah untuk keperluan sekunder seperti pencucian kendaraan dan sejenisnya. Di Jakarta ada Pergub yang mengatur pengendalian air tanah di zona bebas air tanah.

Pemkot juga harus mengendalikan penentuan tarif penjualan air tanah, yang belakangan tidak terkendali dan ada kesan semau-maunya. Masa harga per tandonnya sampai di atas Rp 200 ribu. Tentu sangat mencekik kantung warga tak mampu.

Harus kita sadari bahwa seyogianya sesuai UUD, air dikuasai negara dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Dalam pandangan Islam mengutip dari Rumah Zakat, menjual air dalam kondisi normal masih bisa dibenarkan. Tapi dalam kondisi darurat dan krisis air, sebenarnya harus  dibagi cuma-cuma sebagai bentuk sedekah. Kecuali biaya pengangkutannya. Adalah sangat zalim jika ada orang yang berpikiran peluang besar mengeruk keuntungan dari menjual air di tengah krisis air.(*)

Bunda Arita dan LKK NU

October 18, 2023 by  
Filed under Opini

Catatan  Rizal Effendi

Ketua PCNU KH Muslih Umar, Bunda Arita, dan pengurus LKK NU Balikpapan

BUNDA ARITA atau lengkapnya Hj Yohana Palupi Arita,  istri saya diminta jadi ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga  Nahdlatul Ulama (LKK NU) Kota Balikpapan. Pelantikannya berlangsung Selasa (17/10) malam di Balikpapan Islamic Center (BIC) bersamaan dengan pengajian akbar dalam rangka peringatan Hari Santri Tahun 2023, yang menghadirkan KH Zulfa Mustofa, wakil ketua umum PBNU.

Tidak saja LKK, tapi masih ada 11 lembaga lain di lingkungan NU Balikpapan yang juga dikukuhkan. Ke-11 lembaga itu adalah Lembaga Perekonomian dengan ketuanya Dhino Nofian Abdi, Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah (Arif Abdullah Firdaus, SE), Lembaga Bahsul Masail (Abdullah Wafa, S.Pd.I), Lembaga Wakaf dan Pertanahan (Drs Imam Waros) serta Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM (Kurniadi).

Selain itu ada Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Muhajirin), Lembaga Falakiyah (Abdurrohim, S.Kom), Rabithan  Ma’ahid al-Islamiyah (Adrian, MSi), Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (Adv. Bambang Wijanarko, SH, CIL), Lembaga Perguruan Tinggi (Khoirul Anam Siddeh, MSi) dan Lembaga  Pendidikan Ma’arif yang diketuai H Muhammad Ishak, S.Ag, M.Pd.

Sejak kepengurusan KH Muhammad Muhlasin, Bunda Arita  terbilang aktif dalam berbagai kegiatan NU terutama di kegiatan muslimat. Tapi Ketua PCNU yang baru KH Muslih Umar memintanya aktif sebagai ketua LKK masa khidmat 2023-2028.

Bunda Arita didampingi wakil ketua Legiyem, SS, MM (Mis Egi), sekretaris Hj Umu Hidayah, S.Ag, wakil sekretaris Mis Asdiani, S.Kom, bendahara Hj Irma Ahmad Basir dan wakilnya Hj Asniar, SE.

Ada 3 bidang melengkapi kepengurusan. Bidang Kesejahteraan Keluarga terdiri dari Siti Khalimah, S.Pd, Siti Fatimah, M.Si dan Hj Masratu, S.Ag. Bidang Kemaslahatan Umat terdiri dari Artika Eka Prihatini, M.Pd, dr Lis Indrayati dan Mas’udah. Bidang Lingkungan Hidup terdiri Eko Prasetyo Lampard, SH, Hj Fitriani dan Binti Miftahul Fariha.

Sebagai Pembina LKK adalah KH M Muhlasin, Hj Kasriah, SE dan Hj Azizah. Sementara sebagai penasihat adalah Rois Syuriah PCNU Balikpapan KH M Abbas Alfaz AR dan Ketua Tanfidziyah PCNU KH Muslih Umar.

Ke-11 lembaga itu dilantik serentak oleh KH Muslih Umar. Acara berlangsung lancar dan khidmat disaksikan pengurus dan tokoh NU se-Balikpapan. “Kita semua berharap agar ke-11 lembaga ini berjalan aktif dan lancar, sehingga misi NU untuk membentuk pribadi muslim ahlussunnah wal jamaah yang beriman dan bertakwa dapat tercapai,” harapnya.

LKK NU merupakan perangkat teknis NU untuk pemberdayaan masyarakat. Tujuannya adalah untuk kemaslahatan keluarga,  umat, dan kemaslahatan bangsa secara utuh (holistic) dan berkelanjutan.  Di antaranya melalui pilihan program isu kependudukan dan kesejahteraan sosial (social welfare).

Secara nasional, LKK NU memberi prioritas mengampanyekan program hidup sehat di lingkungan madrasah, agar kualitas kesehatan di lingkungan madrasah mengalami peningkatan yang signifikan.

Bagi Bunda Arita tugas pemberdayaan masyarakat bukan hal baru. Maklum ketika dia menjadi istri wali kota, dia bertugas sebagai ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Balikpapan selama 10 tahun (2011-2021). Salah satu program utama PKK adalah pemberdayaan masyarakat.

Alhamdulillah tugas di LKK NU sejalan saja dengan tugas yang saya jalani selama ini ketika aktif di PKK. Mudah-mudahan saja LKK NU Balikpapan bisa berbuat banyak untuk kemaslahatan umat (Al mashalihul ummah),” kata Bunda Arita.

NOMOR DUA

LKK NU Balikpapan, Minggu (15/10)  lalu  ambil bagian dalam pawai mobil hias memeriahkan Hari Santri Nasional Tahun 2023 yang berlangsung dari Lapangan Merdeka Jl Jend Sudirman menuju Dome, Jl Ruhui Rahayu, Balikpapan Selatan.

Presiden Joko Widodo menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri. Pendeklarasiannya 22 Oktober 2015 di Masjid Istiqlal Jakarta. Hari Santri Nasional dimaksudkan untuk mengenang dan menghormati jasa perjuangan para ulama melalui tokohnya KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, HOS Tjokroaminoto dan lainnya.

Pawai berlangsung meriah dengan ratusan peserta yang melintasi panggung kehormatan di depan Kantor Wali Kota. Mobil hias LKK NU yang berada di urutan ke-4 dan 5 tampil dengan koreografer gunungan hasil bumi. Ada jagung, kacang panjang, terong, wortel, timun, tomat, lombok besar, dan daun kol. Di depan panggung kehormatan, Bunda Arita dan pengurus menyerahkan satu tampah sayur dan buah kepada Wali Kota H Rahmad Mas’ud, Kepala Kamenag H Johan Marpaung, Ketua PCNU KH Muslih Umar, dan KH Zulfa Mustofa.

Gunungan itu ramai diperebutkan ketika mobil sampai di Dome. Gunungan Hasil Bumi menjadi tradisi penuh berkah di Keraton Yogyakarta setiap tahun dalam rangka menyambut Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Tradisi sejak pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I itu sering disebut Grebeg Maulud.

Menurut Bunda Arita, tujuan gunungan juga untuk mengedukasi masyarakat  rajin mengonsumsi sayur mayur supaya  tubuh berkembang sehat dan cukup gizi. Agar pengeluaran lebih hemat dan sayur tetap ada, maka sebaiknya  warga masyarakat terutama keluarga NU perlu mengembangkan tanaman pekarangan yang dikenal di PKK sebagai program HATINYA PKK. “Jadi tidak melulu beli di pasar,” jelasnya.

Alhamdulilah, mobil hias gunungan LKK NU Balikpapan ditetapkan sebagai juara ke-2 penampilan terbaik. Juara satunya dari NU Balikpapan Tengah. Bunda Arita menerima hadiah dan piala di sela acara pelantikan dan pengajian akbar.

Bunda Arita mengaku senang bisa mengabdi untuk kepentingan NU. “Ini ikhlas saya lakukan dengan teman-teman tanpa ada muatan politik. Tujuannya benar-benar untuk kemaslahatan umat terutama warga NU,” jelasnya. Meski hari-hari ini Bunda Arita sibuk dengan berbagai kegiatan di bawah naungan Yayasan Bunda Arita dan Dapur Setia Sentuhan Tangan Ibu Arita. Di antaranya melatih pembuatan makanan pizza bagi ibu dan anak  serta mengawal para pelaku UMKM yang ingin mendapatkan  sertifikat halal gratis. Pada saat yang sama Bunda Arita juga menjadi caleg DPRD Kaltim dari dapil Balikpapan.(*)

Kado Rp 3,5 Triliun untuk HUT Bankaltimtara

October 16, 2023 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

BANKALTIMTARA merayakan hari jadinya ke-58, Senin (16/10) kemarin. Perayaan berlangsung di semua kantor cabang termasuk di   kantor pusat Bankaltimtara di Jalan Sudirman 33 Samarinda. Sayang Pj Gubernur Akmal Malik urung datang karena masih di Jakarta. Ia diwakili Sekdaprov Dr Sri Wahyuni, yang bakal menjadi anggota komisaris.

Kantor Pusat Bankaltimtara itu dulunya adalah kantor gubernur. Masih model bangunan lama dengan konstruksi yang sangat kukuh. Setelah kantor gubernur pindah, maka Bankaltimtara yang menempati dengan melakukan renovasi total.

Jajaran komisaris dan direksi serta serta staf lengkap  hadir di acara hut yang sejatinya jatuh hari Sabtu (14/10) lalu. “Tadinya kita berharap Pj Gubernur bisa hadir,” kata sang dirut M Yamin bersama komisaris utama (Komut) Zainuddin Fanani dan anggota komisaris lainnya.

Yamin bertugas sebagai dirut sejak  2020 menggantikan Zainuddin Fanani. Sebelumnya alumnus Fakultas Ekonomi Unmul ini adalah Direktur Operasional dan sempat menjadi Plt Dirut. Dua tahun setelah purnatugas, Zainuddin diangkat sebagai Komut setelah melalui seleksi yang dilakukan OJK.

HUT ke-58 ini adalah HUT yang paling bahagia bagi Bankaltimtara. Wajah jajaran pimpinan dan staf tampak semringah. Berbunga-bunga. Sebab, Gubernur Isran Noor sebelum berakhir masa tugasnya bersama DPRD sepakat menyisihkan dana APBD sebesar Rp 3,5 triliun untuk pertambahan modal di Bankaltimtara. Maklum APBD lagi surplus, bertambah Rp 8,12 triliun, sehingga total APBD Perubahan menjadi Rp 25,32 triliun. Angka tertinggi dalam sejarah APBD Kaltim selama ini.

Bankaltimtara memang membutuhkan tambahan modal. Untuk kecukupan modalnya yang ditetapkan Rp 10 triliun, Pemprov Kaltim sebagai pemegang saham mayoritas wajib menyetor Rp 5,1 triliun. Pemprov Kaltara Rp 490 miliar, Pemkab/Pemkot se-Kaltara Rp 1,47 triliun  serta Pemkab dan Pemkot se-Kaltim Rp 2,94 triliun.

Pemprov Kaltim sudah menyetor Rp 1,548 triliun, sehingga kekurangannya Rp 3,551 triliun akhirnya dipenuhi melalui APBD Perubahan 2023. Persetujuan penambahan modal ini lagi berproses di Kementerian Dalam Negeri.

Dengan tambahan modal sebesar itu, ditambah lagi dari Pemprov Kaltara bersama Pemkab/Pemkot-nya serta Pemkab/Pemkot se-Kaltim, maka Bankaltimtara memprediksi modal setor Bankaltimtara pada akhir 2023 mencapai Rp 8,1 triliun. Angka itu menyebabkan posisi Bankaltimtara terbesar se-Indonesia.

Belum lagi dilihat dari posisi aset, share dana pihak ketiga dan kredit, yang berkembang bagus. Bankaltimtara juga menjadi market leader perbankan di Kalimantan.

Dengan posisi kinerja yang bagus dan medan usaha yang berkembang sangat luas dan prospektif pada saat ini, maka sang dirut, M Yamin berani memasang patok kalau Bankaltimtara ke depannya bisa menjadi bank berskala nasional.

Melalui Sekdaprov, Pj Gubernur Akmal Malik berpesan, agar Bankaltimtara bekerja keras untuk terus meningkatkan kinerjanya. Bankaltimtara harus maju dan sehat. Hal yang sama juga disampaikan Gubernur Kaltara Zainal Arifin Paliwang.

BANK BUKU DUA

Meski tak lagi sebagai wali kota, saya tetap diundang pada perayaan HUT ke-58 Bankaltimtara  di kantor cabang Balikpapan di Jln Jend. A Yani No 372, Senin pagi kemarin. Saya datang bersama rekan saya Zaenal Abidin. Kepala cabangnya Raden Adi Sugiarto baru beberapa bulan bertugas. Sebelumnya di Bulungan, Kaltara. Tapi dia pernah main golf dengan saya satu pairing. “Saya sudah kenal Pak Rizal,” katanya.

Saya juga kirim karangan bunga papan atas nama ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Balikpapan. Tentu ISEI berharap terjalin kerjasama antara ISEI dan Bankaltimtara. Apalagi Dirut Bankaltimtara M Yamin juga anggota ISEI.

Walaupun agak pilek saya didaulat menyanyi. Ya terpaksa. Saya menyanyi lagunya Anji: “Menunggu Kamu.” Ditemani sang penyanyi, jadi tidak terlalu ketahuan kalau suara saya tak begitu menarik. Itu salah satu lagu kesukaan saya. Nada dan liriknya sangat menarik. Ya kita semua “menunggu kamu,” menunggu Bankaltimtara menjadi bank nasional. Apalagi tahun depan IKN sudah diresmikan. Syukur Bankaltimtara sudah membuka cabang di Sepaku.

Di kantor pusat di Samarinda, saya dikirimi foto oleh mantan Pj Sekdaprov Kaltim Dr Meiliana. Dia sedang menyanyi dengan istri Dirut, Ibu Dina Yoshida Yamin. Asyik betul sampai 4 lagu. Karena ada yang ikut berjoget. Mulai lagu Rungkat, Ikan di Dalam Kolam, Terajana sampai Bento.  

Acara HUT ke-58 di kantor pusat dihadiri sejumlah nasabah, pengusaha,  pejabat dan kepala dinas. Ada dua tamu istimewa, yaitu Ketua DPRD Kaltim Hasanuddin Mas’ud dan wakilnya Seno Aji. Yamin tentu patut berterima kasih kepada para wakil rakyat, yang meloloskan permintaan tambahan modal dari Pemprov Kaltim.

Ketua Komisi II Nidya Listiyono mengingatkan, dengan tambahan penyertaan modal sebesar Rp 3,5 triliun itu, maka Bankaltimtara masuk klafisikasi bank buku dua. “Itu artinya sudah harus memiliki value competitive di dunia perbankan,” tandasnya.

Saya tak bisa memonitor perayaan HUT ke-58 Bankaltimtara di berbagai daerah. Tapi saya lihat di Tenggarong, Bupati Edi Darmansyah hadir bersama Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji M Arifin. Dia disambut kepala cabang Eryuni Ramli Okol. Ayah sang kacab, Ramli Okol teman saya ketika dia masih bertugas di Balikpapan.

Bupati senang atas kemajuan yang diraih Bankaltimtara. Apalagi Pemkab Kukar pemilik saham terbesar kedua setelah Pemprov Kaltim. “Selamat ulang tahun, tingkatkan terus pelayanan kepada masyarakat dan para nasabah,” tambahnya.

Sebelum pulang dari kantor cabang Bankaltimtara Balikpapan, saya sempat menikmati soto banjar yang menjadi kesukaan saya. Tapi saya kaget, saya juga disodori  sepiring daging kambing guling. “Biar tambah kuat, Pak,” kata petugas bercanda. Mungkin maksudnya biar tambah kuat Bankaltimtara memberikan pelayanan terbaik kepada nasabahnya. Selamat dan mantap.(*)

Menjenguk  “Riska” di Teritip

October 15, 2023 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

SEPULANG menghadiri acara Maulid di Masjid Nurul Qila milik Pak Andi Mappapuli, Sabtu (14/10/2023) sore kemarin, saya singgah ke penangkaran buaya yang ada di Teritip, Balikpapan Timur. Niatnya mau melihat “buaya Riska” yang dititipkan di sana. Saya tak mengira enam petugas yang ada di sana masih kenal saya. “Eh ‘Pak Wali’ datang, alhamdulillah,” kata salah seorang di antara mereka menyambut saya.

Bersama buaya kecil di Teritip

Mereka tahu saya bukan wali kota lagi. Tapi dulu saya sering ke sana. Maklum pemiliknya, pasangan pengusaha Tarto dan Susan teman saya. Dia pemilik Mitra Grosir (CV Raya), agen toko kelontongan terbilang besar di Balikpapan. Sekarang penangkaran buaya itu ditangani anaknya bernama Adrian, yang akrab dipanggil Sinyo.

Dulu saya sempat makan sate buaya dan dikasih tangkur buaya. Satenya tidak terlalu cocok dengan lidah saya. Makanya saya hanya menyantap satu dua tusuk saja. Jauh lebih enak sate kambing dan ayam. Tapi tangkurnya oke juga ceritanya.

Tangkur buaya ada yang menyebut berasal dari kelamin buaya jantan yang konon berkhasiat meningkatkan vitalitas pria. Cerita ini sebenarnya antara fakta dan mitos. Bahkan lebih banyak mitosnya. Sebab, boleh dibilang belum ada penelitian yang menegaskan dengan pasti bahwa tangkur buaya bisa membuat laki-laki tambah “greng.” Kecuali buaya darat, he…he.

“Tapi sekarang sudah tidak ada lagi penyembelihan buaya di sini. Jadi tidak ada sate dan tangkur buaya. Bos kita tidak mengizinkan meski banyak yang mencari,” kata sang petugas kepada saya, yang datang bersama Pak Hafni dan Pak Unding.

Sudah lama saya nggak pernah menjenguk penangkaran buaya Teritip. Ternyata buayanya masih banyak. Sekitar 800-an ekor. Sayang kandang-kandangnya kurang terawat termasuk bangunan Lamin. Gajahnya dua ekor yang pernah dinaiki cucu saya waktu kecil, ternyata masih hidup. Namanya Hepi dan Mira. Dua-duanya betina. Usianya hampir 20 tahun.

Malah kemarin saya didaulat menaiki Hepi. Soalnya “buaya Riska” yang saya mau lihat ternyata kandangnya ditutup seng. Masih diisolasi jadi tidak boleh dilihat orang.  Dari atas gajah saya baru  leluasa melihat Riska dari atas. Walaupun naiknya agak susah, karena badan saya cenderung menggajah juga.

Seperti kita ketahui “buaya Riska” belakangan sangat terkenal dan viral. “Buaya Riska” adalah buaya alam dari Sungai Guntung, Bontang Utara yang bersahabat dengan penduduk setempat bernama Ambo. Bertahun-tahun dia dirawat Pak Ambo.

Menurut cerita Pak Ambo, dia mengenal “Riska” sejak tahun 1998. Berarti 25 tahun silam. Ketika dia mau memancing di muara, mendadak muncul seekor buaya. Kira-kira panjangnya satu meter (sekarang Riska sudah empat meter lebih). Awalnya Pak Ambo takut, tapi belakangan dia jadi berani dan memberi makan ikan karena sang buaya nongol terus dan memberi kesan bersahabat.

Pak Ambo memberi nama kepada buaya itu Riska. Padahal sang buaya ternyata jantan. Dia menganggap Riska seperti anaknya sendiri. Benar-benar dia memberi perhatian terutama kebutuhan pangan bagi Riska. Mulai makan ikan sampai ayam potong. “Selama 25 tahun Riska aku rawat. Aku kasih makan. Aku elus-elus. Kumandikan dan kugosok-gosok bagian belakangannya,” jelasnya.

Pak Ambo sedih termasuk si Riska karena tiba-tiba harus dipisahkan. Gara-gara ada tuduhan penduduk bahwa “buaya Riska” menerkam seorang emak-emak sampai tewas. Tadinya Pak Ambo bersikeras tidak mau, tapi akhirnya menyerah juga. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim mengevakuasi “buaya Riska” ke penangkaran buaya di Teritip.

Menurut Lurah Guntung Denny Febrian, selain “buaya Riska” masih ada  buaya lain yang harus dievakuasi karena membahayakan masyarakat. “Buaya Riska” adalah buaya kedua yang berhasil di relokasi. Buaya pertama berukuran 3 meter ditangkap 21 Agustus lalu. Masih ada dua buaya lagi yang masih dicari.

Kepala BKSDA Ari Wibawanto menyebutkan “buaya Riska” panjangnya 4,42 meter dengan lebar perut 70 centimeter. “Kami mengevakuasi Riska sejak Selasa (3/10) dinihari karena ada permintaan masyarakat,” jelasnya.

DITENGOK PJ GUBERNUR

Di sela menghadiri upacara HUT ke-24 Kota Bontang, Kamis (12/10) lalu, Pj Gubernur Kaltim Dr Akmal Malik menyempatkan diri menemui Pak Ambo di Kelurahan Guntung bersama Lurah Denny Febrian. Dia menghibur lelaki berusia 59 tahun itu karena bersedih dipisahkan dengan “anaknya” yang dikenal sebagai “buaya Riska.”

Pj Gubernur Akmal Malik bersama Pak Ambo

“Saya dengar Pak Ambo sangat sayang dengan Riska, yang sudah dirawat puluhan tahun. Tapi Bapak harus ikhlas buaya Riska direlokasi demi keselamatan semua warga. Itu sudah pilihan yang tepat,” kata Akmal duduk santai dengan Pak Ambo.

Kedatangan Akmal ternyata juga diinstruksi Mendagri Tito Karnavian, yang sering mengikuti cerita “buaya Riska” melalui video YouTube. “Saya dihubungi Pak  Menteri untuk mendatangi Pak Ambo. Karena Pak Menteri juga senang lihat video buaya Riska sekalian mencarikan solusi,” jelasnya.

Menurut Akmal, berkat “buaya Riska” Sungai Guntung jadi terkenal dan bisa dikembangkan menjadi objek wisata. Banyak orang luar tertarik dengan cerita itu.  “Jika ingin dijadikan objek wisata, maka masyarakat wajib dilibatkan. Biar benar-benar bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat,” jelasnya.

Ketika Pj Gubernur berdialog dengan Pak Ambo, ada seorang wanita di tempat itu mendadak kesurupan. Dia seperti menari. Tangannya diangkat ke atas sambil membaca salawat. “Ibu itu kesurupan,” kata seorang warga. Barangkali sang penunggu tak rela “buaya Riska” dipindahkan.

Pak Ambo sempat menjelaskan perjalanan panjang kebahagiaannya bersama Riska. Dia sudah menengok Riska di Teritip, yang tampak dilanda murung. Riska tidak mau makan sepertinya protes karena kehilangan “induknya” Pak Ambo.

Dia berharap suatu saat Riska dikembalikan kepadanya. Pak Ambo juga menyangkal kalau Riska yang menerkam warga. “Riska itu ompong giginya jadi tidak mungkin menerkam. Saya juga tidak pernah disakiti Riska,” jelasnya.

Sampai saya tengok kemarin, “buaya Riska” belum mau makan teratur. Juga tidak banyak bergerak. Kata petugas diberi seekor ayam hanya dimakan separuh. Terkadang dimuntahkan. Ayamnya juga tidak mau yang masih berbulu, harus ayam yang sudah disiangi.

Selain kesedihan tak bersama Riska lagi, Pak Ambo juga kehilangan penghasilan sekitar Rp 15 juta sebulan. Sebab konten buaya Riska yang dibuat anaknya, Fitriani di kanal YouTube  Fitriani Riska  banyak ditonton orang termasuk Mendagri. Sudah 300-an video yang dibuatnya selama 25 tahun. Jadi mendatangkan cuan besar bagi keluarganya. “Sekarang tak bisa lagi, jadi saya kehilangan segalanya. Kehilangan Riska dan kehilangan piring nasi,” katanya dengan suara berat.

(Penulis wartawan senior Kalimantan Timur. Wali Kota Balikpapan dua priode, 2011-2021)

« Previous PageNext Page »

  • vb