Menjenguk  “Riska” di Teritip

October 15, 2023 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

SEPULANG menghadiri acara Maulid di Masjid Nurul Qila milik Pak Andi Mappapuli, Sabtu (14/10/2023) sore kemarin, saya singgah ke penangkaran buaya yang ada di Teritip, Balikpapan Timur. Niatnya mau melihat “buaya Riska” yang dititipkan di sana. Saya tak mengira enam petugas yang ada di sana masih kenal saya. “Eh ‘Pak Wali’ datang, alhamdulillah,” kata salah seorang di antara mereka menyambut saya.

Bersama buaya kecil di Teritip

Mereka tahu saya bukan wali kota lagi. Tapi dulu saya sering ke sana. Maklum pemiliknya, pasangan pengusaha Tarto dan Susan teman saya. Dia pemilik Mitra Grosir (CV Raya), agen toko kelontongan terbilang besar di Balikpapan. Sekarang penangkaran buaya itu ditangani anaknya bernama Adrian, yang akrab dipanggil Sinyo.

Dulu saya sempat makan sate buaya dan dikasih tangkur buaya. Satenya tidak terlalu cocok dengan lidah saya. Makanya saya hanya menyantap satu dua tusuk saja. Jauh lebih enak sate kambing dan ayam. Tapi tangkurnya oke juga ceritanya.

Tangkur buaya ada yang menyebut berasal dari kelamin buaya jantan yang konon berkhasiat meningkatkan vitalitas pria. Cerita ini sebenarnya antara fakta dan mitos. Bahkan lebih banyak mitosnya. Sebab, boleh dibilang belum ada penelitian yang menegaskan dengan pasti bahwa tangkur buaya bisa membuat laki-laki tambah “greng.” Kecuali buaya darat, he…he.

“Tapi sekarang sudah tidak ada lagi penyembelihan buaya di sini. Jadi tidak ada sate dan tangkur buaya. Bos kita tidak mengizinkan meski banyak yang mencari,” kata sang petugas kepada saya, yang datang bersama Pak Hafni dan Pak Unding.

Sudah lama saya nggak pernah menjenguk penangkaran buaya Teritip. Ternyata buayanya masih banyak. Sekitar 800-an ekor. Sayang kandang-kandangnya kurang terawat termasuk bangunan Lamin. Gajahnya dua ekor yang pernah dinaiki cucu saya waktu kecil, ternyata masih hidup. Namanya Hepi dan Mira. Dua-duanya betina. Usianya hampir 20 tahun.

Malah kemarin saya didaulat menaiki Hepi. Soalnya “buaya Riska” yang saya mau lihat ternyata kandangnya ditutup seng. Masih diisolasi jadi tidak boleh dilihat orang.  Dari atas gajah saya baru  leluasa melihat Riska dari atas. Walaupun naiknya agak susah, karena badan saya cenderung menggajah juga.

Seperti kita ketahui “buaya Riska” belakangan sangat terkenal dan viral. “Buaya Riska” adalah buaya alam dari Sungai Guntung, Bontang Utara yang bersahabat dengan penduduk setempat bernama Ambo. Bertahun-tahun dia dirawat Pak Ambo.

Menurut cerita Pak Ambo, dia mengenal “Riska” sejak tahun 1998. Berarti 25 tahun silam. Ketika dia mau memancing di muara, mendadak muncul seekor buaya. Kira-kira panjangnya satu meter (sekarang Riska sudah empat meter lebih). Awalnya Pak Ambo takut, tapi belakangan dia jadi berani dan memberi makan ikan karena sang buaya nongol terus dan memberi kesan bersahabat.

Pak Ambo memberi nama kepada buaya itu Riska. Padahal sang buaya ternyata jantan. Dia menganggap Riska seperti anaknya sendiri. Benar-benar dia memberi perhatian terutama kebutuhan pangan bagi Riska. Mulai makan ikan sampai ayam potong. “Selama 25 tahun Riska aku rawat. Aku kasih makan. Aku elus-elus. Kumandikan dan kugosok-gosok bagian belakangannya,” jelasnya.

Pak Ambo sedih termasuk si Riska karena tiba-tiba harus dipisahkan. Gara-gara ada tuduhan penduduk bahwa “buaya Riska” menerkam seorang emak-emak sampai tewas. Tadinya Pak Ambo bersikeras tidak mau, tapi akhirnya menyerah juga. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim mengevakuasi “buaya Riska” ke penangkaran buaya di Teritip.

Menurut Lurah Guntung Denny Febrian, selain “buaya Riska” masih ada  buaya lain yang harus dievakuasi karena membahayakan masyarakat. “Buaya Riska” adalah buaya kedua yang berhasil di relokasi. Buaya pertama berukuran 3 meter ditangkap 21 Agustus lalu. Masih ada dua buaya lagi yang masih dicari.

Kepala BKSDA Ari Wibawanto menyebutkan “buaya Riska” panjangnya 4,42 meter dengan lebar perut 70 centimeter. “Kami mengevakuasi Riska sejak Selasa (3/10) dinihari karena ada permintaan masyarakat,” jelasnya.

DITENGOK PJ GUBERNUR

Di sela menghadiri upacara HUT ke-24 Kota Bontang, Kamis (12/10) lalu, Pj Gubernur Kaltim Dr Akmal Malik menyempatkan diri menemui Pak Ambo di Kelurahan Guntung bersama Lurah Denny Febrian. Dia menghibur lelaki berusia 59 tahun itu karena bersedih dipisahkan dengan “anaknya” yang dikenal sebagai “buaya Riska.”

Pj Gubernur Akmal Malik bersama Pak Ambo

“Saya dengar Pak Ambo sangat sayang dengan Riska, yang sudah dirawat puluhan tahun. Tapi Bapak harus ikhlas buaya Riska direlokasi demi keselamatan semua warga. Itu sudah pilihan yang tepat,” kata Akmal duduk santai dengan Pak Ambo.

Kedatangan Akmal ternyata juga diinstruksi Mendagri Tito Karnavian, yang sering mengikuti cerita “buaya Riska” melalui video YouTube. “Saya dihubungi Pak  Menteri untuk mendatangi Pak Ambo. Karena Pak Menteri juga senang lihat video buaya Riska sekalian mencarikan solusi,” jelasnya.

Menurut Akmal, berkat “buaya Riska” Sungai Guntung jadi terkenal dan bisa dikembangkan menjadi objek wisata. Banyak orang luar tertarik dengan cerita itu.  “Jika ingin dijadikan objek wisata, maka masyarakat wajib dilibatkan. Biar benar-benar bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat,” jelasnya.

Ketika Pj Gubernur berdialog dengan Pak Ambo, ada seorang wanita di tempat itu mendadak kesurupan. Dia seperti menari. Tangannya diangkat ke atas sambil membaca salawat. “Ibu itu kesurupan,” kata seorang warga. Barangkali sang penunggu tak rela “buaya Riska” dipindahkan.

Pak Ambo sempat menjelaskan perjalanan panjang kebahagiaannya bersama Riska. Dia sudah menengok Riska di Teritip, yang tampak dilanda murung. Riska tidak mau makan sepertinya protes karena kehilangan “induknya” Pak Ambo.

Dia berharap suatu saat Riska dikembalikan kepadanya. Pak Ambo juga menyangkal kalau Riska yang menerkam warga. “Riska itu ompong giginya jadi tidak mungkin menerkam. Saya juga tidak pernah disakiti Riska,” jelasnya.

Sampai saya tengok kemarin, “buaya Riska” belum mau makan teratur. Juga tidak banyak bergerak. Kata petugas diberi seekor ayam hanya dimakan separuh. Terkadang dimuntahkan. Ayamnya juga tidak mau yang masih berbulu, harus ayam yang sudah disiangi.

Selain kesedihan tak bersama Riska lagi, Pak Ambo juga kehilangan penghasilan sekitar Rp 15 juta sebulan. Sebab konten buaya Riska yang dibuat anaknya, Fitriani di kanal YouTube  Fitriani Riska  banyak ditonton orang termasuk Mendagri. Sudah 300-an video yang dibuatnya selama 25 tahun. Jadi mendatangkan cuan besar bagi keluarganya. “Sekarang tak bisa lagi, jadi saya kehilangan segalanya. Kehilangan Riska dan kehilangan piring nasi,” katanya dengan suara berat.

(Penulis wartawan senior Kalimantan Timur. Wali Kota Balikpapan dua priode, 2011-2021)

Wisuda di Hutan Km 15

October 13, 2023 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

Saya menyambut Vibra di gerbang kampus ITK

PUKUL 07.00 pagi saya di Kampus Institut Teknologi Kalimantan (ITK) di Km 15, Jl Soekarno–Hatta, Balikpapan. Tapi saya masuknya lewat Km 13, jalan ke Kariangau. Di situ ada jalan pintas, meski berlubang-lubang. Saat kemarau seperti sekarang masih bisa dilewati. Tapi kalau musim hujan, jalan pintas itu jadi kubangan besar.

Kampus ITK yang di tengah hutan dan dekat Kebun Raya Balikpapan itu, lagi hajatan. Mereka mewisuda 563 lulusannya dari 14 program studi, 7 Oktober lalu. Bersamaan dengan peringatan Dies Natalis ke-9 ITK. Institut ini diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tanggal 6 Oktober 2014.

Acaranya sengaja mengambil tempat di kampus.  Tidak di ballroom hotel. Biar keluarga tahu di mana kampus ITK itu berada. Maklum di tengah hutan, tapi asyik juga meski terbilang jauh dari kota.

Saya datang ke sana bukan sebagai undangan. Hanya menemui anak muda bernama Vibra Wijaya, yang sering bersama saya. Vibra yang bertubuh bongsor ini juga diwisuda. Wajahnya tampak ceria dan penuh semangat. “Alhamdulillah, Pak, Vibra akhirnya diwisuda juga,” katanya bangga.

Saya juga tidak bisa menghadiri acara resminya lantaran  ada kegiatan di Samarinda dalam waktu yang sama. Jadi Vibra saya cegat di pintu gerbang kampus. Setelah saya kasih ucapan selamat dan bunga wisuda plus foto bareng, saya meneruskan perjalanan. Bunga wisudanya berwarna ungu  ternyata matching dengan baju toga yang dikenakan Vibra bercorak hitam dan ungu.

Dalam psikolog warna, warna ungu memberi kesan keanggunan dan kebijaksanaan. Warna ungu juga mampu memberikan gambaran akan sifat kesenangan dan kebahagiaan dalam hidup. Ungu juga punya reputasi sebagai salah satu warna yang paling romantis.

Wisuda yang diiikuti Vibra itu adalah wisuda angkatan ke-15. Wisuda ke-14 dilaksanakan lima bulan lalu, 6 Mei diikuti 250 wisudawan. Lokasi acara juga sama, di kampus. Tepatnya di Auditorium Laboratorium Terpadu. “Perjuangan berat, Pak untuk bisa mengenakan toga ini,” katanya terharu.

Suasana wisuda ke-15 berlangsung meriah dan haru. Banyak orang tua menitikkan air mata melihat anaknya sukses. Siapa yang tidak bangga melihat anaknya memakai baju toga. Sementara sejumlah mahasiswa ITK di luar tempat acara menyambut kakak-kakak seniornya dengan aksi khusus, bernyanyi dan mengibarkan bendera kegembiraan.

Aksi menyambut wisudawan ITK

Vibra kuliah di Jurusan  Sains Teknologi Pangan dan Kemaritiman program Teknik Perkapalan. Empat setengah tahun dijalaninya.  Bahkan dia sempat dua bulan tinggal di Makassar mengikuti program kuliah lapangan di PT Industri Kapal Indonesia (IKI).  “Soalnya belum ada di Balikpapan, jadi saya harus ke sana,” jelasnya.

Jurusan Teknik Perkapalan adalah program studi (prodi) yang mempelajari seluk beluk yang berkaitan dengan kapal. Di antaranya mempelajari cara merancang kapal, mesin kapal, dan berbagai alat navigasi kapal.

ITK juga membuka fakultas dan jurusan Ilmu Kebumian dan Lingkungan, Teknik Lingkungan dan Teknik Metalurgi; Matematika dan Teknologi Informasi; Teknologi Sipil & Perencanaan serta Teknologi Industri dan Proses.

Ketika Vibra menjalani ujian sidang tugas akhir dan skripsi, saya juga sempat hadir. Saya menunggu Vibra di warung seberang kampus. Wajahnya semringah ketika dinyatakan lulus di hadapan dosen penguji. Kita sempat “pesta bakso” di warung itu.

ITK UNTUK IKN

Rektor ITK Prof Dr.rer.nat Agus Rubiyanto, M.Eng.Sc tampak ceria mendampingi para dekan dan ketua jurusan ketika mewisuda para lulusan. Prosesi wisuda berlangsung cukup panjang, maklum jumlahnya lebih dari 500 orang.

Di depan para mahasiswa dan wisudawan, guru besar Departemen Fisika, Fakultas Ilmu Alam ITS ini menegaskan bahwa ITK komit mencetak para sarjana yang mempunyai daya saing yang kuat. “ITK harus berperan besar dalam menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul untuk Ibu Kota Nusantara (IKN) dan Indonesia,” tandasnya.

Prof Rubi adalah orang terbaik ke-3 dari ITS yang dipercaya menjadi rektor ITK. Sejak didirikan, ITK memang di bawah bimbingan ITS. Prof Rubi meraih gelar doktor ilmu sains di Jerman. Bahkan pernah bertugas sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Kedubes RI di Berlin.

Kampus ITK saat ini adalah kampus terdekat dengan lokasi IKN di Sepaku, Penajam Paser Utara (PPU). Karena itu banyak pihak berharap kebutuhan tenaga dalam pembangunan berbagai infrastruktur di IKN seyogianya diisi oleh anak-anak jebolan ITK. Rektor ITK didorong segera menjalin kerjasama dengan Otorita IKN dalam berbagai bidang terutama pemenuhan tenaga terlatih.

Sampai wisuda ke-15, ITK telah berhasil meluluskan 2.916 alumni dari berbagai jurusan. Sebagian besar telah bekerja di berbagai perusahaan dan industri. “Tentu ini menjadi kebanggaan kita semua, kampus dan keluarga,” kata Rubi.

Ada salah satu alumnus ITK angkatan pertama yang sukses bekerja di Kementerian PUPR. Dia adalah Melinda Atika Rachman, ST, MT, yang ditempatkan di Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Kalimantan Timur di bidang pembangunan.

“Pekerjaan saya sekarang linier dengan jurusan yang saya ambil waktu kuliah, yaitu teknik sipil. Tetapi lebih spesifik lagi di bidang jalan dan jembatan,” kata Melinda seperti ditulis Kompas.com.

Melinda mengaku bidangnya saat ini harus fokus untuk percepatan pembangunan di IKN utamanya untuk jalan tol, jalan nasional dan jembatan. “Tetapi juga tetap memerhatikan pembangunan jalan nasional dan jembatan di luar IKN di seluruh wilayah Kaltim,” jelasnya.

Ia sangat berharap adik-adiknya para mahasiswa ITK mampu bersaing dengan mahasiswa dari perguruan tinggi lain dan mampu menunjukkan kalau lulusan ITK juga memiliki soft skill dan hard skill yang bisa dibanggakan.

Saya pernah bertemu dengan Rektor ITK Prof Rubiyanto. Saya menyebutnya “rektor bonek.” Maklum dia pendukung berat tim sepakbola Persebaya Surabaya. Lelaki kelahiran Surabaya 19 Juni 1965 ini  mengantongi kartu anggota Bonek Persebaya. Tentu kita berharap dengan “kebonekannya” Prof Rubiyanto membawa kemajuan pesat bagi ITK.

(Penulis wartawan senior Kalimantan Timur. Wali Kota Balikpapan dua periode 2011-2021).

“Tiga Srikandi” Berbagi

October 11, 2023 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

Foto bersama di resepsi pernikahan Alissa Varliana dengan Julio Rubby Pradana

ADA “tiga srikandi” di Balikpapan lagi punya hajatan. Kebetulan saya diundang. Mereka adalah Hj Yusdiana Hakim, Hj Sri Asril, dan Hj Erna Gafar. Latar belakang mereka pengusaha.  Sama-sama hebat dan gemar berbagi kepada orang lain. Saya sangat mengapresiasi dan salut ataskepedulian mereka.

Yusdiana adalah istri pengusaha sukses H Abdul Hakim Rauf. Ketua Kerukunan Keluarga Pinrang (KKP) yang  pernah ikut Pilkada Balikpapan 2015. Dia calon wakil wali kota mendampingi Andi Burhanuddin Solong (ABS), mantan ketua DPRD. Sekarang Hakim lagi mendorong istrinya berebut kursi DPRD Kota Balikpapan. “Biar keterwakilan perempuan  tetap ada di legislatif dan bisa memperjuangkan aspirasi masyarakat,” katanya.

Sebagai wanita aktif dan peduli, Yusdiana mendirikan  Yayasan Dian Insana Mandiri. Ini wadah untuk memberdayakan kaum perempuan terutama yang berusaha di bidang UMKM. Selain juga bergerak di bidang sosial dan keagamaan.

Kemarin, dia  menggelar  acara sosialisasi pendampingan program sertifikat halal gratis (Sehati) bagi pelaku UMKM. Narasumbernya Miss Egi dan istri saya, Bunda Arita. Miss Egi adalah relawan dari Halal Center Unmul. Ada 60-an pesertanya, ibu-ibu UMKM dari berbagai kelurahan. Kegiatan ini masih terus berlanjut di waktu-waktu mendatang tanpa dipungut bayaran.

Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama lagi membuka program sejuta Sehati pada tahun 2023 ini. Melalui aplikasi Pusaka, pelaku UMKM dari mana pun bisa ikut mendaftar. Syaratnya, produk tidak menggunakan bahan yang tidak halal, memiliki NIB serta memiliki surat izin edar dan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

Pelaku usaha terutama makanan dan minuman wajib punya sertifikat halal agar konsumen tenang mengonsumsi produk mereka. Bagi umat Islam tentu saja tak boleh menelan barang haram. Selain juga ada sanksi dari undang-undang, jika ada yang mengabaikan.

Sehari sebelumnya Yusdiana juga menggelar peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Besar-besaran, di rumahnya yang luas di Gang Aryo Penangsang 99, Kelurahan Gunung Samarinda, Balikpapan Utara.

Dia mengundang Ustaz Abdil Muhadir Ritonga dari Medan. Gaya dakwahnya ceria dan penuh humor.  Sekitar 3.000-an ibu-ibu pengajian dari berbagai pelosok kota Balikpapan berdatangan. Ketika pulang ibu-ibu itu diberi paket beras gratis. “Saya ingin berbagi beras karena harganya di pasar cenderung naik terus,” katanya.

Seperti kita ketahui akibat badai El Nino, kekeringan terjadi di mana-mana. Petani tak bisa menanam padi dengan baik. Pemerintah Indonesia terpaksa mengimpor beras. Semula 2 juta ton, sekarang ditambah lagi 1,5 juta ton. Jadi totalnya 3,5 juta ton.

Harga beras di pasar memang cenderung naik. Ketika meninjau Pasar Merdeka di Kecamatan Sungai Pinang Samarinda, 21 September lalu, Presiden Jokowi secara khusus mengecek harga beras  di sana. Dia mengakui harga beras premium cenderung naik. Tapi berkat adanya bantuan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari Bulog, dirasakan cukup membantu untuk menurunkan harga.

Berbagi beras juga dilakukan Ibu Sri Asril, pengusaha tangguh yang tinggal di Balikpapan Baru (BB). Sembari merayakan miladnya ke-51, Selasa (10/10) kemarin, dia juga berbagi beras kepada kerabat, teman, dan warga. Hal yang sama dia lakukan lagi, Sabtu (14/10) mendatang dalam acara olahraga pagi bersama di halaman rumahnya. “Saya beli berasnya dari petani di Samboja,” kata ibu 4 anak  kelahiran Trenggalek, Jawa Timur ini. Suaminya, Asril Bijaksana juga mendukung usaha yang dibangun istrinya. “Alhamdulillah, kita bisa berkembang dan berkah,” ujarnya.

Menurut Sri, menjadi kewajibannya untuk berbagi. “Itu ajaran agama kita, Islam. Apalagi kalau kita dimurahkan rezeki oleh Allah SWT jangan lupa dengan orang-orang di sekitar kita,” katanya.

Ibu Sri Asril sangat dihormati dan disayangi teman-temannya. Karena dia sangat peduli. Menurut Pak Alfi, mantan Kamenag, dulu Sri selain sekolah di SD, sorenya belajar di madrasah. “Katanya waktu di sekolah istri saya aktif dan provokator,” kata Pak Asril tersenyum.

Milad Ibu Sri Asril di kediamannya yang asri di RT 23 Kompleks Perumahan BB berlangsung meriah. Teman-temannya dari “Sahabat Kecil” membawa macam-macam kado. Ada yang menyelempangkan selendang “happy birthday,” memasang mahkota di kepalanya sampai yang membawa buket bunga, kado dan bahkan ada yang membawa bunga bonsai hidup. “Terima kasih, kawan-kawanku semua,” kata Sri berlinang air mata penuh kebahagiaan.

JUGA LANGKA AIR

Tidak saja beras yang mulai langka dan naik harganya, kelangkaan air bersih juga terjadi di mana-mana termasuk di Balikpapan. Distribusi air bersih PDAM sudah digilir. Beli air tanah juga tidak gampang. WTP di beberapa kompleks perumahan juga sudah ngadat. Ada yang mengusulkan segera dilakukan salat istisqa, minta diturunkan hujan.

Tidak saja pada musim kemarau, di saat normal  Balikpapan juga kekurangan air baku sekitar 1.000 liter per detik. Waduk Manggar, Waduk Teritip dan sejumlah sumur dalam  yang disedot tidak mampu mencukupi kebutuhan warga kota. Karena itu Balikpapan menunggu tambahan distribusi air baku dari Waduk Sepaku. Sesuai dengan rencana, Balikpapan diberi 500 liter per detik, sisanya sekitar 2.000 liter per detik untuk kebutuhan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Di tengah kemarau yang panjang, kegiatan pernikahan keluarga tetap berlangsung. Saya masih menerima sejumlah undangan terutama Sabtu dan Minggu. Selain undangan Maulid, yang juga ramai. Salah satu undangan resepsi pernikahan  yang saya hadiri akhir bulan lalu adalah  hajatan dari keluarga Hj Ernawaty Gafar, ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Kaltim.

Erna bersama suaminya H Abdul Gafar menggelar resepsi pernikahan anaknya, Alissa Varliana, DCA (Diploma Aplikasi Komputer) dengan M Julio Robby Pradana, ST, putra pertama dari keluarga Agus Awaludin dan  Sukmawati Azis.

Acaranya berlangsung meriah di Hotel Gran Senyiur Balikpapan. Erna dan keluarga sangat happy. Saya sempat bertemu Adam Sinte dan istrinya, Ani Adam serta beberapa pejabat dan pengusaha lainnya, yang memberikan ucapan selamat kepada pengantin. Adam adalah ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Balikpapan dan juga anggota DPRD Kaltim.

Seperti juga Asri Asril, Erna Gafar juga banyak ikut pelelangan kegiatan proyek di Pertamina. Termasuk di RDMP. Erna bersama saya juga duduk sebagai pengurus Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Balikpapan. Hebatnya, mereka suka berbagi terutama kepada mereka yang tidak punya. Terima kasih, para srikandi yang baik hati. Berkah dan sukses terus.(*)

Wartawan di “Kota Kuntul”

October 10, 2023 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

SAYA lama tidak ke Bontang. Jalan daratnya dari Samarinda sudah mulus. Tapi saya ngeri, jalurnya sudah padat dan sering berselisihan dengan truk-truk besar. Ada yang mengangkut BBM, kelapa sawit, batu bara, dan berbagai barang lainnya. Mudah terjadi kecelakaan, meski di beberapa ruas lagi dilakukan pelebaran.

Gunung Menangis yang dulu jadi momok para pengendara tidak ekstrem lagi. Tanjakan terjal itu sudah dipangkas dan dilebarkan. Pantas Gubernur Awang Faroek Ishak waktu itu bilang: “Bukan gunung menangis lagi, sudah kita ubah menjadi Smiling Hill alias bukit tersenyum,” katanya setelah dilakukan pemangkasan dan penataan oleh Dinas PU Provinsi.

Dari cerita para sopir, bulu kuduk mereka berdiri jika melintas di ruas itu terutama malam hari. Mobil bisa mogok dan kerap terdengar seperti ada suara orang menangis. Itu sebabnya disebut “gunung menangis.”

Saya datang ke Bontang Sabtu (7/10) sore. Malamnya menghadiri penutupan Festival Media Digital dan penganugerahan Wartawan Legend Award yang berlangsung di Hotel Grand Mutiara. Lalu hari Minggu mengikuti plant tour ke kilang Badak NGL.

Sayang saya tak sempat bertemu Wali Kota Bontang Basri Rase. Dia teman saya. Waktu saya wali kota, dia masih wakil. Saat dia menjamu para wartawan di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota, Jumat (6/10) malam, saya belum datang. Besoknya dia terbang ke Tarakan mengikuti kegiatan Asosiasi Pemerintah Kota (APEKSI) di sana.

Ada yang khas dari penampilan Basri. Ke mana-mana dia selalu mengenakan ikat kepala bernama udeng. Seperti yang dipakai lelaki Bali. “Ini udeng Bontang,” katanya menjelaskan. Dia mewajibkan semua pejabat mengenakannya baik di lingkungan kerja maupun di masyarakat.

Bahan kain yang dibuat menjadi Udeng Bontang  adalah batik khas Bontang. Salah satu motif yang terkenal adalah Batik Kuntul Perak. Burung kuntul perak (Ardea intermedia) adalah maskot fauna  kota Bontang.

Diberi nama kuntul perak karena bulunya yang keperak-perakan. Dia sejenis burung bangau langka yang memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri. Karena itu menjadi salah satu jenis fauna yang dilindungi. Di salah satu sudut kota Bontang ada dibuat patung atau ornamen burung kuntul perak.

Burung kuntul perak hidup  di  perairan pesisir hutan bakau Bontang. Itu memang habitatnya. Ada yang lihat beberapa waktu lalu terbang di kawasan Guntung. Belakangan ini Guntung terkenal dengan kehadiran “buaya Riska,” yang selama 25 tahun hidup dengan Ambo, warga setempat. Kabarnya Ambo dan buayanya sama-sama murung karena dipisahkan. Sekarang buaya Riska dititipkan di penangkaran buaya Teritip, Balikpapan.

Pada malam penganugerahan Wartawan Legend Award,  saya hanya bertemu dengan wakil wali kota, Ibu Najirah. Dia teman istri saya ketika sama-sama di Bank BCA Samarinda. Almarhum suaminya, Adi Darma teman akrab saya. Dia mantan wali Kota Bontang yang meninggal dunia karena serangan Covid-19. Dalam berbagai acara saya selalu bersama termasuk bermain tenis dan golf.

Setengah bercanda, Ibu Najirah menyentil saya. “Pak Rizal itu sering bermain golf dengan suami saya. Meski saya tidak tahu golfnya di mana,” katanya tersenyum. Yang mendengar jadi gerr. Ternyata ibu wakil wali kota pandai juga stand up dan me-roasting saya.

Sempat hadir di acara itu Danrem 091/ASN Brigjen TNI Yudhi Prasetyo, SIP didampingi Dandim 0908/Bontang Letkol Inf Priyo Handoyo. Yang menarik  datang juga mantan wagub Hadi Mulyadi. Selain menerima penghargaan, dia menampilkan aksi nyanyi dan main drum habis-habisan. Plus sawernya. Sempat juga adu cerita humor dengan saya.

KESETIAAN WARTAWAN

Banyak pihak yang mengapresiasi digelarnya Festival Media Digital dan Wartawan Legend Award. Acara ini hasil kerja  wartawan Charles Siahaan dan H Hamdani didukung Pemkot Bontang dan sejumlah mitra. Juga perhatian dari Kadis Kominfo Kaltim Muhammad Faisal, Kadis Kominfo Bontang Anwar Sadat, SP dan wartawan Nursalam, yang sekarang jadi anggota DPRD Bontang.

Basri Rase menyambut baik digelarnya acara ini. Dia juga mengaku berutang budi dengan wartawan dan media. “Terima kasih rekan-rekan media. Tanpa media tidak mungkin saya dikenal seperti sekarang,” katanya sesaat setelah menerima penghargaan “Wartawan Legend Award” bidang pemerintahan di kediamannya.

Hal yang sama diungkapkan Hadi Mulyadi. Dia bersama Gubernur Isran Noor dan HM Faisal menerima penghargaan kategori Kemerdekaan Pers Kaltim. Maklum atas kebijakannya, Kaltim menempati peringkat pertama Indeks Kebebasan Pers (IKP) secara nasional tahun 2022.

Putra Hadi, Muhammad Al Fatih yang dikenal sebagai penulis, sekarang juga sudah resmi jadi wartawan. “Jangan lupa undang Ibu Myrna Asnawati Safitri, deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN. Ayahnya, almarhum HM Fuad Arieph salah satu tokoh pers di Kaltim,” kata Hadi mengingatkan.

Saya berterima kasih dianugerahi “Wartawan Legend Award” kategori Loyalty Journalism atas  kesetiaan saya menekuni dunia wartawan berpuluh tahun sejak sebelum menjadi wali kota sampai sesudah purnatugas. Karena itu saya sudah menerbitkan dua buku kumpulan tulisan saya berjudul “Bukan Pak Wali Lagi.”

“Kai hebat, abang Dafa, Defa, Dafin, Jena, dan Kylo bangga atas prestasi dan penghargaan yang diterima Kai,” kata cucu saya dari Balikpapan, Jogyakarta, dan Sentul, Bogor.

Yang tak kalah hebat, dua tokoh pers penerima penghargaan seumur hidup (Lifetime Appreciation Award) KH Sayid Alwi AS dan Ibrahim Konong (Iko). Soalnya mereka masih segar dengan usia di atas kepala 8. Meski tak bisa datang, Pak Alwy yang dulu pemimpin surat kabar Mimbar Masyarakat dan pernah menjadi anggota DPRD Kaltim dan pengurus MUI  sempat menyapa dari kediamannya di Samarinda melalui koneksi zoom.

Wartawan lainnya yang menerima penghargaan adalah Haris Syamtah (kriminal dan hukum), Sa’adillah Hasbulah (olah raga), Sarkowi V Zahri (politik dan pemerintahan), Hamdani (budaya dan pariwisata), Intoniswan (ekonomi bisnis), AR Sjarifuddin Hs  (Hankam), Misman RSU (Inspirative Environment Award/ Lingkungan) serta Nursalam (Special Jurnalism Award).

Penghargaan partisipasi dan mitra juga diberikan kepada Kapolda Kaltim, Kepala Basarnas Kaltim,  PT Pertamina Hulu Sanga Sanga, PT Pertamina Patra Niaga, PT Berau Coal, PT Indominco Mandiri, Diskominfo Bontang, PT Pertamina Hulu Mahakam dan PT Bankaltimtara.

Charles sempat meminta pendapat saya apakah acara Wartawan Legend Award masih bisa dilanjutkan? Menurut saya tetap perlu. Saya menyarankan tahun depan pilihannya di Balikpapan, PPU atau di lokasi IKN. Kebetulan Presiden Jokowi juga menyarankan Hari Pers Nasional 9 Februari tahun 2024 di IKN Sepaku.

Selamat juga kepada Ketua PWI Kaltim Endro Surip Effendi, yang terpilih sebagai Wakil Komisi Kompetensi Wartawan dalam kepengurusan PWI Pusat yang baru masa bakti 2023-2028. Dalam kongres XXV PWI di Bandung, beberapa waktu lalu terpilih sebagai ketua umum, Hendry Ch Bangun menggantikan Atal S Depari.

“Banggalah menjadi wartawan, karena kita salah satu pilar demokrasi. Karena itu tetap teguh dan independen dalam membela kebenaran, keadilan dan demokrasi,” kata Pak Alwy penuh semangat.

(Penulis wartawan senior Kalimantan Timur. Wali Kota Balikpapan dua periode 2011 – 2021)

Hari Pertama Akmal

October 8, 2023 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

Kantor Gubernur Kaltim

JIKA tak ada perubahan, Senin (9/10) ini adalah hari pertama Pj Gubernur Kaltim Dr Akmal Malik, M.Si masuk kantor. Orang menyebut Kantor Gubernur Kaltim di Jl Gajah Mada No 2, RW 01, Kelurahan Jawa, Kecamatan Samarinda Ulu itu, “Gedung Putih.” Seperti kantornya Presiden AS di Washington. Karena warnanya yang dominan putih.

Akmal boleh dibilang tidak perlu naik kendaraan. Sebab dia tinggal di Lamin Etam, yang letaknya bersebelahan.  Jadi cukup jalan kaki saja. Dia bersama istrinya dr Yulia Zubir, M.Epid (Magister Epidemiologi) segera mendiami tempat tersebut. “Alhamdulillah Lamin Etam bakal ramai lagi,” kata seorang staf yang bertugas di situ.

Staf Akmal, Makmur Marbun yang sekarang menjadi Pj Bupati Penajam Paser Utara (PPU) beberapa hari sebelumnya ikut sibuk mempersiapkan Lamin Etam. Ada juga Dr Esmeralda, tenaga ahli dan beberapa staf yang dibawa dari Jakarta.

Kabarnya malam Jumat kemarin, ada grup pengajian dari Masjid Pemprov Nurul Mu’minin melakukan doa selamat di tempat itu. Seperti kita ketahui, Lamin Etam selama lima tahun ini dalam keadaan kosong. Sebab Gubernur Isran Noor tetap tinggal di kediaman pribadinya di Perumahan Karpotek Jl Adipura 21, Sungai Kunjang Samarinda.

Lamin Etam terakhir ditinggali Gubernur Awang Faroek Ishak ketika dia menjabat selama 10 tahun (2008-2018). Rumah resmi gubernur ini direnovasi pada masa Gubernur Soewarna AF di tahun 2000-an ketika Kepala Dinas PU Kaltim dijabat Awang Dharma Bhakti (ADB).

Menurut informasi yang saya terima, Akmal terbang dari Jakarta ke Balikpapan Senin pagi.  Pukul 14.00 dia memimpin rapat pimpinan (Rapim) bersama Sekdaprov, para asisten, kepala biro sampai kepala dinas di Kantor Gubernur.

Dapat dipastikan Akmal akan memberikan pengarahan dan menyampaikan berbagai kebijakan terutama berkaitan dengan pelaksanaan APBD 2023 yang tinggal beberapa bulan lagi, kemudian tindak lanjut dari pesan Mendagri Tito Karnavian ketika dia dilantik sebagai Pj Gubernur, Senin lalu.

“SENIOR SAYA”

Dalam acara pisah sambut di “Gedung Semangka” Plenary Hall Sempaja, Rabu (4/10), Akmal sudah memberikan gambaran sekilas beberapa sikap dan pembawaannya dalam menjalankan tugas dan memimpin daerah.

“Tolong disapa saya, soalnya saya banyak belum kenal dengan semua staf. Silakan,  tak ada masalah,” katanya penuh keterbukaan.

Dia sempat menyebut Sekdaprov Sri Wahyuni sebagai seniornya. Mungkin dari latar belakang angkatan pendidikannya. Kalau tidak salah, Akmal alumnus Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) tahun 1993 dan  Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) tahun 1998. Sedang Sri alumnus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) 1992, setahun lebih dulu.

Perjalanan karier kedua tokoh ini cukup moncer. Sama-sama berprestasi. “Yang terhormat saudara Sekdaprov Ibu Dr Sri Wahyuni. Dia senior saya,” kata Akmal tanpa ragu-ragu.

Akmal juga menjelaskan kepada staf bahwa nanti dia  banyak bekerja di lapangan. Mungkin dia perlu suasana baru. Maklum ketika menjadi Dirjen Otda, hampir pasti dia banyak duduk di belakang meja membuat berbagai konsep dan usulan kebijakan kepada Mendagri. Dia termasuk Dirjen super sibuk di Kemendagri karena hubungannya dengan semua kepala daerah.

Dia sempat menyentil Pj Bupati PPU Makmur Marbun, yang sebelumnya Direktur Produk Hukum Direktorat  Jenderal Otonomi Daerah bahwa apa yang mereka putuskan di atas tidak serta merta gampang dilaksanakan kepala daerah. “Sekarang kita sendiri yang merasakan,” jelasnya.

Akmal juga mencermati beberapa pesan Gubernur Isran dan Mendagri  yang perlu diresponnya. Misalnya soal tata kelola pemerintahan,  penanganan kemiskinan, penuntasan stunting, mengendalikan inflasi, menyukseskan pelaksanaan Pilpres, Pileg, dan Pilkada serentak.

“Saya tidak akan melakukan pemecatan kecuali ada staf yang melakukan pelanggaran dan sudah melalui proses,” katanya memberikan jaminan menanggapi permintaan Isran agar tidak terjadi pencopotan seperti kasus Sekda di DKI.

Dari Karang Paci saya mendengar DPRD Kaltim Senin ini juga menjadwalkan sidang paripurna penyampaian visi misi Pj Gubernur.  “Kita akan berkoordinasi dengan Pj Gubernur untuk percepatan pembangunan daerah,” kata Ketua Dewan Hasanuddin Mas’ud.

Saya tidak tahu persis apakah visi misi wajib disampaikan Pj Gubernur? Sebab waktunya pendek hanya setahun. Pj Gubernur Bali Sang Made Mahendra Jaya menyatakan tidak mengajukan visi misi baru melainkan memperkuat visi misi gubernur sebelumnya.

Seorang anggota DPRD DKI Jakarta, Syarif berkomentar, Pj Gubernur tidak memiliki visi misi. Pasalnya tanpa melewati Pilkada. “Visi misi kepala daerah ‘kan dituangkan dalam RPJMD dalam bentuk Perda. Kalau ini Pj Gubernur tidak ada visi misi,” jelasnya.

Ada juga pernyataan dari Deputi IV Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Juri Ardiantoro kepada 5 Pj Gubernur yang baru dilantik beberapa waktu lalu. “Pj Gubernur perpanjangan tangan pemerintah pusat. Karena itu harus mengimplementasikan visi misi, kebijakan dan arahan Bapak Presiden di daerah,” tandasnya.

Menurut saya, Pj Gubernur Akmal Malik juga tidak akan menyampaikan visi misi seperti lazimnya gubernur definitif. Tapi dia akan merumuskan beberapa kebijakan, yang diinspirasi dari visi misi gubernur yang ada, masukan dari Dewan dan masyarakat serta pesan dari Pemerintah Pusat.

Akmal juga tidak leluasa lagi dalam penuangan program di APBD Kaltim. APBD 2023 sudah dalam pelaksanaan. Tinggal beberapa bulan lagi selesai. APBD 2024 sudah diketok Dewan sebesar Rp 20,67 triliun pada 25 September lalu.  Dia hanya terlibat dalam penyusunan APBD Perubahan 2024 di masa akhir tugasnya tahun depan.

Tugas berat Akmal seperti juga Pj kepala daerah lainnya adalah menyukseskan pelaksanaan Pilpres dan Pileg yang memasuki tahap penting dan tinggal beberapa bulan lagi, menyusul kemudian pemilihan kepala daerah serentak September tahun 2024 mendatang. Selamat bekerja dan berkarya.(*)

« Previous PageNext Page »

  • vb