Riding dan Nobar ARRC Round 2 di Sirkuit Buriram Thailand, Bareng Yamaha Kaltim! Tetap Semangat Meski Diguyur Hujan

May 11, 2026 by  
Filed under Gaya Hidup

BALIKPAPAN – Puluhan pecinta balap dan pengguna motor Yamaha di Balikpapan mengikuti kegiatan Riding dan Nobar Asian Road Racing Championship (ARRC) Round 2 di  sirkuit Buriram Thailand , Bareng Yamaha yang digelar pada Minggu, (10/5/2026). Kegiatan ini menggabungkan agenda sunmori (Sunday Morning Ride) dengan nonton bareng Asian Road Racing Championship (ARRC) untuk mendukung para pembalap Yamaha Indonesia yang berlaga di kancah Asia.

Kegiatan dimulai pukul 10.00 WITA dengan titik start di Sentral Yamaha Balikpapan dan berakhir di Kedai Kopi Hitam Manis Bonto Bulaeng. Meski hujan deras mengguyur saat keberangkatan, antusiasme peserta tetap tinggi. Sebanyak 40 peserta hadir sesuai kuota yang disediakan panitia, dengan berbagai tipe motor Yamaha yang ikut meramaikan kegiatan. Mayoritas kendaraan yang mengikuti riding ini didominasi oleh Maxi Series.

Rombongan peserta melakukan rolling city menuju lokasi finish dengan rute Jalan Jenderal Sudirman – MT Haryono – Balikpapan Baru – Sungai Ampal sebelum akhirnya tiba di Hitam Manis Bonto Bulaeng untuk melanjutkan kegiatan nobar.

Selain riding dan nobar, peserta juga mendapatkan berbagai keuntungan menarik, seperti free berupa T-shirt dan gantungan kunci, free food and beverage, free check service motor, serta kesempatan mendapatkan doorprize yang telah disiapkan panitia.

Dalam nobar tersebut, para peserta bersama-sama memberikan dukungan kepada pembalap Yamaha Indonesia yang berlaga di ARRC, yakni Wahyu Nugroho, Candra Hermawan, Fadhil Musyavi, dan M. Faeroz.

Jamel dari KMC Beruang Balikpapan berharap kegiatan seperti ini dapat terus diselenggarakan secara berkelanjutan.
“Harapannya acara seperti ini bisa terus kontinyu dan Yamaha semakin solid serta semakin di depan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Handoko dari komunitas Wirabuana yang menilai kegiatan tersebut sangat positif bagi komunitas pengguna Yamaha.

“Eventnya luar biasa. Semoga ke depan bisa lebih ditingkatkan lagi dan komunitas semakin solid. Terima kasih Yamaha karena kami merasa dihargai. Mungkin nanti bisa dibuat lebih besar lagi. Teman-teman Yamaha juga luar biasa dalam memberikan dukungan,” katanya.

Sementara itu, Hendra dari klub Ausi juga mengapresiasi jalannya acara yang dinilai sangat menarik.
“Acara saat ini sangat baik, sangat bagus dan menarik. Banyak doorprize dan hadiahnya. Ke depan semoga event Yamaha semakin baik dan semakin banyak peserta yang ikut,” ungkapnya.

Perwakilan Yamaha MX Club Indonesia (YMCI) Chapter Balikpapan, Syahrul Ramadan, mengatakan kegiatan ini menjadi momen penting untuk mempererat silaturahmi antar biker Yamaha di Balikpapan.

“Kesannya mengikuti agenda hari ini sangat bagus untuk agenda ke depan. Kita bisa rolling city, nobar Asian Road Racing Championship, sekaligus silaturahmi bersama teman-teman biker Yamaha Balikpapan. Semoga event ini terus terjaga,” terang Syahrul.

Melalui kegiatan ini, Yamaha bersama komunitas berharap solidaritas antar pengguna Yamaha di Balikpapan semakin kuat sekaligus meningkatkan semangat untuk mendukung pembalap Indonesia di ajang balap internasional. (*)

IPA Samarinda Seberang Kuras Bak Sedimentasi

May 11, 2026 by  
Filed under PDAM Samarinda

IPA Samarinda Seberang

SAMARINDA – Perumdam Tirta Kencana Samarinda menjadwalkan pengerjaan pengurasan bak sedimentasi, lagoon dan reservoir Instalasi Pengolahan Air (IPA) Samarinda Seberang, Selasa, 12 Mei 2026.  Dampak dari pengurasan ini akan membuat layanan distribusi air kepada pelanggan mengalami gangguan.

Humas & Kesekretariatan Perumdam Tirta Kencana Samarinda, Taufik mengatakan kegiatan pengurasan ini sudah rutin dilakukan untuk  menjaga kualitas produksi air.

Dikatakan, pengurasan akan dimulai pada pukul 08.00 Wita dengan estimasi lama pengurasan 1 x 10 jam.

Taufik menyebutkan sejumlah wilayah yang nantinya akan terdampak gangguan aliran air yaitu Jalan Sultan Hasanuddin, Jalan Bung Tomo, Jalan Pangeran Bendahara, Jalan Hos Cokroaminoto, Jalan KH Harun Nafsi, Perumahan Keledang Mas Baru, Perumahan UKA, Jalan Mangkupalas dan sekitarnya.

Mewakili manajemen ia menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan selama perbaikan pipa berlangsung, terutama kepada pelanggan yang terdampak, pelanggan yang hendak melakukan pelaporan dapat menghubungi hotline 0541 – 2088100 atau melalui pesan pribadi WhatsApp ke 0811553536. (*)

Media “Homeless” vs Verifikasi Dewan Pers, SMSI Dorong Regulasi Pers Lebih Adaptif di Era Digital

May 11, 2026 by  
Filed under Nusantara

JAKARTA – Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia, Firdaus, didampingi Sekretaris Jenderal Makali Kumar, menyatakan dukungannya terhadap perkembangan media digital independen atau yang disebut sebagai “media homeless” atau New Media di Indonesia.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital dan media sosial telah melahirkan pola baru dalam penyebaran informasi yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada model media konvensional dengan kantor fisik dan struktur organisasi besar.

Pernyataan tersebut disampaikan Firdaus di sela-sela Fun Walk Dewan Pers bersama awak media dan masyarakat dalam rangka memperingati World Press Freedom Day (WPFD) 2026 yang secara internasional diperingati setiap tanggal 3 Mei, Dewan Pers pada hari ini, 10 Mei 2026.

Pada kesempatan tersebut, Firdaus menilai fenomena media homeless merupakan realitas baru dalam dunia pers dan komunikasi publik yang tidak dapat dihindari di tengah perkembangan era digitalisasi. Ia berharap keberadaan media jenis tersebut dapat diterima oleh masyarakat pers nasional, termasuk oleh Dewan Pers, sebagai bagian dari ekosistem media massa modern.

“Perkembangan media digital saat ini sudah sangat terbuka. Banyak kreator informasi yang bekerja secara mandiri, tanpa kantor fisik, tetapi mampu menghadirkan informasi secara cepat dan menjangkau audiens luas. Fenomena ini tidak bisa diabaikan,” ujar Firdaus.

Fenomena Media “Homeless”

Istilah “media homeless” atau Media Baru merujuk pada saluran informasi atau kreator konten digital yang menyajikan berita maupun informasi layaknya media massa, namun tidak memiliki struktur redaksi konvensional, kantor tetap, maupun sistem administrasi sebagaimana perusahaan pers pada umumnya.

Model ini berkembang pesat melalui platform digital seperti YouTube, TikTok, Instagram, podcast, maupun media sosial lainnya. Sebagian besar dijalankan secara mandiri dari rumah atau secara remote dengan dukungan perangkat digital sederhana.

Selain menyampaikan informasi aktual, sebagian kreator juga mengembangkan konten berbasis gaya hidup, home living, dekorasi rumah, hingga aktivitas keseharian yang dikemas secara informatif dan menarik.

Dengan kreativitas dan pemanfaatan teknologi, konten tersebut mampu membangun audiens yang besar meskipun diproduksi tanpa fasilitas perusahaan media besar.

Menurut Firdaus, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat kini memiliki alternatif baru dalam memperoleh informasi. Karena itu, regulasi pers dinilai perlu lebih adaptif terhadap perubahan zaman.

Evaluasi terhadap Sistem Verifikasi Media

Dalam kesempatan itu, Firdaus juga menyinggung sistem verifikasi administrasi media yang diterapkan Dewan Pers. Ia menyebut masih banyak perusahaan pers, khususnya media siber daerah dan media kecil, yang mengalami kesulitan memenuhi persyaratan verifikasi.

Firdaus menggambarkan kondisi tersebut sebagai bentuk “hambatan administrasi” karena persyaratan yang dianggap cukup berat bagi sebagian pelaku media di tengah tekanan ekonomi industri pers saat ini, sehingga dapat menjadi penghambat kemerdekaan pers.

Sehingga syarat verifikasi media, antara lain, harus dievaluasi dan disesuaikan dengan ruh UU Pers. Secara administratif, cukup berbadan hukum dan operasionalnya fokus pada penegakan Kode Etik dan Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Dewan Pers tidak perlu masuk ke ranah konstituen seperti urusan newsroom, kompetensi wartawan, apalagi cawe-cawe ikut mengurusi masalah Departemen Tenaga Kerja dan Departemen Kesehatan.

Verifikasi wajib, dalam rangka pendataan, syarat cukup perusahaan harus berbadan hukum dan Dewan Pers sebagai fasilitator fokus saja pada penegakan etika jurnalistik dan Pedoman Pemberitaan Media Siber. Syarat dan ketentuan verifikasi saat ini, menurut Firdaus, banyak kendala.

“Banyak media yang tetap menjalankan fungsi jurnalistik dan memberikan informasi kepada masyarakat, tetapi terkendala syarat administratif yang cukup berat. Ini perlu menjadi perhatian bersama,” kata Firdaus.

Dorong Revisi Regulasi Pers

Firdaus berharap Dewan Pers dapat melakukan penyesuaian regulasi agar lebih relevan dengan perkembangan teknologi informasi dan pola kerja media digital modern.
Menurutnya, verifikasi media sebaiknya tetap menjaga kualitas dan profesionalisme pers, namun tidak menjadi hambatan yang memberatkan bagi perusahaan pers kecil maupun media digital independen. Ia menegaskan bahwa perusahaan pers tetap harus berbadan hukum dan terdata di Dewan Pers sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, namun mekanisme verifikasi perlu disederhanakan agar lebih inklusif.
“Yang terpenting adalah media tetap menjalankan fungsi pers secara bertanggung jawab, menjunjung etika jurnalistik, dan memiliki legalitas sesuai undang-undang. Regulasi harus mampu mengikuti perkembangan zaman,” ujarnya.

Perdebatan mengenai keberadaan media independen dan standar verifikasi pers diperkirakan akan terus berkembang seiring pesatnya transformasi digital di Indonesia. Di satu sisi, verifikasi dinilai penting untuk menjaga kredibilitas dan profesionalisme pers, namun di sisi lain muncul tuntutan agar regulasi lebih fleksibel terhadap model media baru yang lahir dari perkembangan teknologi digital.

Firdaus juga menyampaikan, ketika syarat dan ketentuan verifikasi media telah disesuaikan dengan ruh UU Pers, diharapkan media baru dapat menjadi bagian dari organisasi konstituen Dewan Pers. Sehingga dengan adanya evaluasi tersebut, tangan Dewan Pers dapat menjangkau media baru, sehingga pendataan yang diamanatkan UU Pers dapat membangun iklim pers Indonesia yang sehat dan merdeka.(*)

Mengapa Generasi Z Tidak Bisa Jauh dari Kopi?

May 10, 2026 by  
Filed under Opini

Oleh : Riyawan S,Hut

Pagi hari buat sebagian orang dimulai dengan mandi, olahraga, atau buka notifikasi WhatsApp kantor. Tapi buat banyak anak muda sekarang, rutinitas dimulai dari satu hal yang sama yakni kopi. Bukan sekadar minum, tapi ritual wajib.

Hal itu dirasakan juga oleh M. Faris, mahasiswa semester akhir di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo. Sebelum membuka laptop atau mulai revisi skripsi, dia hampir selalu memesan kopi susu gula aren favoritnya lewat aplikasi.
Kadang ukuran large, kadang ditambah extra shot kalau deadline lagi brutal.

“Kalau belum ngopi tuh rasanya otak belum nyala,” katanya sambil tertawa.

Dan Faris bukan satu-satunya. Fenomena ini terjadi hampir di seluruh Indonesia. Dari Jakarta, Bandung, Surabaya, sampai Samarinda dan Balikpapan, budaya ngopi sudah menjadi bagian dari identitas Generasi Z.

Anak muda yang lahir sekitar tahun 1997–2012 tumbuh bersama budaya coffee shop, kopi kekinian, dan kebiasaan nongkrong yang berbeda total dibanding generasi sebelumnya.

Hari ini kopi bukan lagi sekadar minuman penghilang kantuk. Kopi sudah berubah jadi gaya hidup, ruang sosial, bahkan simbol eksistensi.

Coffee Shop Bukan Sekadar Tempat Nongkrong, Tapi Rumah Kedua Gen Z

Kalau dulu warung kopi identik dengan bapak-bapak ngobrol politik sambil merokok, sekarang suasananya berubah total. Masuk ke coffee shop modern hari ini, yang terlihat justru mahasiswa buka laptop, freelancer meeting online, pasangan muda ngobrol santai, atau anak-anak nongkrong sambil bikin konten TikTok.

Fenomena ini berkembang sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir. Kedai kopi muncul hampir di setiap sudut kota. Bahkan di Kalimantan Timur saja jumlah coffee shop sudah mencapai lebih dari 1.700 tempat, dengan Samarinda menjadi salah satu pusat pertumbuhan budaya kopi modern di wilayah tersebut.

Buat Generasi Z, coffee shop bukan Cuma tempat beli minuman. Tempat ini sudah berubah jadi third place atau ruang ketiga. Apa maksudnya?

Kalau rumah adalah ruang pertama dan kampus atau kantor adalah ruang kedua, maka coffee shop menjadi tempat netral untuk mencari kenyamanan di tengah rutinitas yang melelahkan. Di sana orang bisa jadi diri sendiri.

Mau serius kerja bisa. Mau bengong sambil dengar playlist galau juga nggak masalah. Mau ngobrol sampai lupa waktu pun bebas. Banyak Gen Z merasa lebih nyaman bekerja di kafe dibanding di kamar sendiri. Alasannya sederhana, suasananya lebih hidup dan bikin semangat.

Fenomena work from cafe atau WFC akhirnya menjadi budaya baru. Daripada duduk di kos yang bikin ngantuk, mereka memilih membeli kopi Rp25 ribu demi mendapatkan tempat nyaman, Wi-Fi, colokan listrik, dan suasana produktif selama beberapa jam. Secara psikologis, ada efek unik juga.

Ketika seseorang sudah keluar rumah dan membeli kopi, muncul dorongan untuk “masa iya nggak jadi produktif”. Makanya jangan heran kalau coffee shop sekarang sering terlihat seperti kantor mini penuh laptop dan charger berserakan.

Kopi, Konten, dan Eksistensi: Kenapa Gen Z Suka Banget Ngopi?

Jujur saja, sebagian budaya kopi modern memang nggak bisa dipisahkan dari media sosial. Coba ingat-ingat sendiri. Berapa kali kamu memotret kopi sebelum diminum?

Buat Gen Z, visual adalah bahasa komunikasi utama. Instagram, TikTok, dan media sosial lainnya membuat tampilan menjadi bagian penting dari pengalaman sehari-hari. Kopi akhirnya bukan Cuma soal rasa, tapi juga soal estetika.

Gelas transparan dengan es batu berembun, latte art cantik, interior kafe industrial minimalis, sampai playlist sendu di sudut ruangan, semua itu jadi paket lengkap yang terasa Instagramable. Dan dari situlah budaya kopi makin meledak.

Data survei beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa sekitar 66 persen Gen Z Indonesia mengonsumsi kopi setiap hari. Bahkan sebagian di antaranya minum dua sampai tiga kali sehari. Jenis kopi yang paling populer pun berubah.

Kalau generasi lama identik dengan kopi hitam panas, Gen Z lebih dekat dengan kopi susu gula aren, iced latte, caramel macchiato, atau cold brew. Selain rasanya lebih ringan, tampilannya juga lebih menarik buat konten.

Tapi ada alasan lain yang lebih dalam dari sekadar estetik. Banyak anak muda sebenarnya menjadikan ngopi sebagai bentuk pelarian kecil dari tekanan hidup sehari-hari. Deadline kuliah menumpuk. Tekanan kerja makin tinggi.

Overthinking soal masa depan datang hampir tiap malam. Belum lagi tekanan media sosial yang bikin semua orang merasa harus sukses cepat. Di tengah situasi itu, ritual ngopi menjadi semacam jeda yang menenangkan.

Mulai dari menunggu pesanan dibuat, mencium aroma kopi, duduk santai beberapa menit, sampai tegukan pertama, semua itu memberi efek grounding yang bikin pikiran sedikit lebih tenang.

Buat sebagian orang, ngopi adalah bentuk self-reward paling sederhana.

“Setelah revisi skripsi dibantai dosen, biasanya aku langsung cari kopi,” cerita Merlina, freelancer 22 tahun asal Balikpapan.

“Bukan karena kopinya aja, tapi suasana duduk santai itu bikin kepala lebih ringan.”

Dan mungkin itulah alasan kenapa budaya ngopi begitu melekat pada Gen Z. Karena di balik secangkir kopi, ada kebutuhan untuk merasa tenang, diterima, dan tetap waras di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat.

Budaya Ngopi Kekinian Punya Sisi Gelap, Tapi Tetap Bisa Dinikmati dengan Sehat

Walaupun terlihat seru dan estetik, budaya ngopi modern juga punya sisi yang mulai mengkhawatirkan. Masalah pertama tentu soal kesehatan.

Banyak kopi kekinian sebenarnya mengandung gula yang sangat tinggi. Kadang satu gelas kopi susu manis memiliki kandungan gula hampir setara minuman soda. Kalau dikonsumsi terus-menerus tanpa kontrol, risikonya cukup serius.

Mulai dari gangguan tidur, asam lambung, kecemasan berlebih, sampai peningkatan risiko diabetes dan obesitas. Belum lagi kebiasaan minum kopi malam hari yang sekarang makin populer.

Banyak coffee shop buka sampai tengah malam, bahkan dini hari. Akibatnya budaya begadang jadi terasa normal dan malah dianggap keren. Padahal kualitas tidur yang buruk bisa berdampak besar terhadap kesehatan mental dan produktivitas.

Selain kesehatan, ada juga masalah finansial yang sering nggak terasa. Coba hitung sederhana. Kalau satu kopi seharga Rp25 ribu diminum setiap hari, dalam sebulan totalnya sudah sekitar Rp750 ribu.

Kalau ditambah nongkrong, cemilan, atau coffee hopping tiap akhir pekan, pengeluaran bisa tembus jutaan rupiah tanpa sadar. Ironisnya, banyak anak muda lebih disiplin membeli kopi dibanding menabung dana darurat.

Tapi bukan berarti solusinya harus berhenti ngopi total. Kopi tetap punya manfaat kalau dikonsumsi dengan bijak. Kandungan kafein dalam jumlah wajar bisa membantu meningkatkan fokus, energi, dan mood.

Yang penting adalah cara menikmatinya. Ada beberapa langkah sederhana supaya budaya ngopi tetap sehat dan nggak bikin dompet menangis:

Batasi konsumsi kopi 1–2 cangkir per hari.
Hindari terlalu sering minum kopi malam.
Pilih kopi dengan gula lebih sedikit.
Tentukan budget khusus untuk nongkrong dan kopi bulanan.
Gunakan waktu di coffee shop untuk benar-benar produktif.
Sesekali coba alternatif lain seperti teh atau minuman rendah gula.

Karena sebenarnya yang dicari banyak orang bukan hanya kafein. Kadang yang dibutuhkan Cuma suasana tenang dan kesempatan untuk berhenti sebentar dari hiruk-pikuk hidup.

Budaya ngopi Generasi Z pada akhirnya memang lebih dari sekadar tren minuman. Ini adalah gambaran tentang generasi yang tumbuh di tengah tekanan besar, dunia digital yang serba cepat, dan kebutuhan kuat untuk menemukan ruang nyaman bagi diri sendiri.

Coffee shop menjadi tempat bertemu, tempat bekerja, tempat healing, sekaligus tempat mencari identitas. Kopi menjadi simbol kecil bahwa hidup, sesibuk dan seribet apa pun, masih bisa dinikmati pelan-pelan.

Dan mungkin itu sebabnya kalimat “ngopi dulu, baru hidup” terasa begitu relate buat banyak anak muda hari ini.

Karena di balik kopi yang terlihat sederhana, ada cerita tentang orang-orang yang sedang bertahan, mengejar mimpi, menyembuhkan diri, dan mencoba tetap kuat menjalani hidup.

Secangkir kopi mungkin tidak bisa menyelesaikan semua masalah. Tapi kadang, itu cukup untuk membuat seseorang merasa siap menghadapi hari sekali lagi.

Tito, Tiyo dan Rudy Mas’ud

May 9, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

ADA dua tokoh hampir bersamaan datang ke Kaltim. Yang satu bernama Tito Karnavian dan yang satu bernama Tiyo Ardianto. Semua orang tahu, Tito adalah Mendagri sejak era Presiden Jokowi sampai sekarang. Sedang Tiyo adalah tokoh mahasiswa yang lagi viral.

Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto mendapat sertifikat penghargaan di Kampus Universitas Mulia Balikpapan.

Tiyo adalah Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gajah Mada (UGM) 2025-2026. Dia belakangan terkenal dan banyak diunggah di media sosial karena keberaniannya mengkritik kebijakan Presiden Prabowo.  Dia bilang MBG bukan Makan Gizi Gratis, tetapi Maling Berkedok Gizi. Lalu dia berkirim surat ke Unicef terkait tragedi siswa bunuh diri di NTT karena tak mampu membeli alat tulis seharga Rp10 ribu.

Mahasiswa Filsafat ini sempat diteror, tapi dia tak gentar. Berani bicara di mana-mana. Karena itu dia diundang datang ke Samarinda dan Balikpapan, pekan lalu. Dia sempat bersuara mengkritik adanya dinasti politik di Kaltim dari keluarga Bani Mas’ud. “Rudi Mas’ud itu bisa jadi Runtuhnya Dinasti Mas’ud,” katanya begitu.

Mendagri Tito hanya datang ke Balikpapan, Selasa (5/5) dalam rangka Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Regional Kalimantan serta bersama Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruar Sirait meninjau Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di Kelurahan Teritip dan dialog dengan pengembang serta warga penerima bantuan perumahan.

Berkaitan dengan program perumahan terutama rumah MBR (Masyarakat Berpendapatan Rendah),  Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud dan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud dapat laporan tak nyaman. Sejumlah pengembang mengatakan izinnya masih terlalu  lama. “Kita perlu kemudahan,” kata Ketua DPD Apersi Kaltim, Sunarti Amirullah.

Sunarti mengungkapkan, realisasi pembangunan rumah MBR di Kaltim pada tahun 2026 ini masih jauh dari target. Baru 800-an unit terbangun dari target 5.000 unit. “Dari 15 izin yang diajukan pengembang, baru satu yang keluar izinnya,” jelasnya.

Sedang Rudy Mas’ud dapat sentilan dari penerima bantuan perumahan dan pengembang. Bahkan dia sempat disoraki. Rudy dalam janji kampanyenya Gratispol akan membebaskan biaya administrasi. Tapi faktanya sampai sekarang masih membayar. Jadi tidak sesuai dengan janjinya Gubernur.

Tito sempat ditanya wartawan berkaitan situasi politik di Kaltim yang memanas menyusul adanya aksi demo 214 dan tuntuan Hak Angket yang ditujukan kepada Gubernur Rudy Mas’ud. “Kami terus memonitor terhadap situasi politik di Kaltim termasuk soal pengajuan Hak Angket,” katanya serius.

Dengan bergulirnya usulan Hak Angket, dia berharap terjadi komunikasi yang baik antara eksekutif dan legislatif. “Harapan kami komunikasi eksekutif  dan legislatif tetap terjaga agar setiap persoalan bisa dicarikan solusi terbaik,” kata Tito.

Dalam keterangan terpisah, Wamendagri Bima Arya mengatakan, Kemendagri telah memberikan pendampingan khusus dan teguran keras kepada Gubernur Katim Rudy Mas’ud terkait serangkaian kontroversi kebijakan anggaran. “Pemimpin itu perlu mengedepankan etika dan moral dan mengesampingkan kepentingan pribadi. Apalagi dalam penggunaan APBD,” tandasnya.

Rudy Mas’ud disorot netizen se Indonesia terutama rakyat Kaltim karena dianggap boros dalam penggunaan anggaran yang sifatnya bukan untuk kepentingan rakyat banyak. Mulai soal mobil dinas Rp8,5 miliar, renovasi rumjab Rp25 miliar, honor tim ahli (TAGUPP) mencapai Rp10 miliar lebih sampai urusan kursi pijat dan mencuci pakaian dalam, yang juga menguras APBD. Dia juga dinilai menebarkan nepotisme dan dinasti politik yang sangat berlebihan.

PEMIMPIN YANG BODOH

Tiyo Ardianto datang ke Samarinda, Rabu (6/5) atas undangan BEM Keluarga Mahasiswa (KM) Universitas Mulawarman. Dia diajak diskusi yang digelar di Teras Samarinda, persis di depan Kantor Gubernur dan Lamin Etam, rumah dinas Rudy Mas’ud yang lagi disorot.

Namanya Tiyo, ucapannya memang nyerocos keras. Dia bilang hanya ada dua jenis manusia yang masih berprasangka baik pada penguasa hari ini. “Mereka yang bungul atau mereka yang menikmati kekuasaan,” katanya mendapat aplaus dari para mahasiswa.

Dia juga melontarkan pernyataan yang keras kepada Gubernur Rudy Mas’ud yang akrab dipanggil HARUM. Dia berpendapat keberhasilan HARUM memenangkan Pilgub dengan membagi ratusan ribu rupiah kepada jutaan pemilih, akan berujung pada tindakan korupsi dalam melaksanakan pemerintahan. “Saya ulangi lagi, mana mungkin dengan gaji resmi hanya puluhan miliar dalam lima tahun, bisa mengembalikan modal politik yang ratusan miliar,” ucapnya lantang.

Tiyo juga mengingatkan kepada masyarakat bahwa menerima uang politik sama saja dengan memberikan izin kepada pemimpin untuk merampok uang negara di masa depan.

Berkaitan dengan keberadaan 43 atau 47 tenaga ahli gubernur Kaltim, Tiyo menilai sebagai pengakuan implisit akan ketidakmampuan seorang pemimpin.

“Memilih pemimpin yang bodoh adalah kesalahan, tapi membiarkan pemimpin yang salah adalah kebodohan. Dan saya tahu masyarakat Kaltim tidak bodoh,” ucapnya lagi.

Saat berada di Samarinda, Tiyo sempat bertemu dengan Irma Suryani, salah seorang penggerak demo 214 dari Aliansi Rakyat Kaltim (ARK). Gara-gara terlibat aksi demo itu, perkara Irma diungkit lagi. Dia jadi tersangka dalam kasus perampasan aset dan dokumen, setelah terlibat konflik utang piutang dengan Nurfadiah, istri Ketua DPRD Kaltim Hasanuddin Mas’ud.

Awalnya Irma memberikan dukungan dana Rp2,7 miliar untuk kerjasama bisnis solar. Lalu dia mendapat jaminan lima BPKB dan enam sertifikat tanah. Belakangan pengembaliannya seret, itulah yang menjadi biang tuduhan dan dugaan munculnya tuduhan cek kosong, yang berbalik jadi tuduhan perampasan aset. “Mereka yang menyerahkan sendiri, bukan saya yang merampas,’ kata Irma menjelaskan.

Tiyo menggambarkan Mami Irma  menjadi korban dari bagaimana dinasti kekuasaan itu bekerja mempermainkan hukum sebagai alat politik. “Semoga kasus ini cepat selesai, dan kebenaran yang akan menang,” ucapnya.

Irma sendiri menyatakan tetap terus berjuang untuk kepentingan masyarakat Kaltim. “Saya tetap berjuang untuk masyarakat Kaltim dan saya lebih baik berjuang untuk masyarakat Kaltim ketimbang diri saya sendiri,” katanya tegar.

Selain di Samarinda, Tiyo juga tampil di Kampus Universitas Mulia Balikpapan. Dia tetap lantang berbicara menyorot kekuasaan baik secara nasional maupun yang terjadi di Kaltim.(*)

« Previous PageNext Page »

  • vb