Rakernas Apeksi di Kota Penyangga

June 2, 2024 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

PRESIDEN Jokowi dijadwalkan membuka Rakernas Apeksi XVII di Kota Balikpapan, Selasa (4/6). Rakernas diikuti 98 wali kota se-Indonesia dengan 5.000 anggota rombongannya. Saya dengar Wali Kota Makassar Danny Pamanto membawa 250 orang. Sebagian naik kapal laut. Belum yang lain.  Banyak sekali. Pasti hotel penuh, kuliner dan UMKM laku berat dan bisnis transportasi panen.

Saya tak bisa membayangkan betapa susahnya dapat tiket pesawat. Sudah berapa bulan ini perjalanan ke Balikpapan lewat udara tidak gampang. Bisa berhari-hari baru dapat. Selain harganya juga mahal.

Ada yang menarik pada waktu pembukaan nanti di Dome. Kalau Wali Kota Medan Bobby Nasution dan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka datang, maka suasana pasti heboh. Bobby yang akan maju dalam Pilgub Medan adalah menantu Jokowi. Gibran yang menjadi calon wakil presiden terpilih adalah putra sulung Presiden. Semua pasti berebut mau selfie.

Rahmad Mas’ud bersama anggota Apeksi Korwil V Kalimantan.

Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud (RM) sebagai tuan rumah juga tak kalah menarik. Muda dan kaya. Bagian dari keluarga Bani Mas’ud, yang bermain di bisnis minyak. Adiknya Haji Rudy Mas’ud (Harum) anggota DPR RI yang akan ikut Pilgub Kaltim. Kakaknya, Hasanuddin Mas’ud (Hamas), Ketua DPRD Kaltim. Adiknya lagi, Abdul Gafur Mas’ud (AGM) sempat menjadi bupati Penajam Paser Utara (PPU). Saudara wanitanya, Hj Syahariah Mas’ud terpilih jadi anggota DPRD Kaltim 2024.

RM terpaksa menyambut tamunya sendiri. Soalnya Balikpapan sudah tiga tahun tak punya wakil wali kota. Calon wakilnya meninggal karena Covid. Proses penggantinya tidak berjalan lancar.

Berkaitan dengan Rakernas Apeksi, RM mengajak warganya menyambut dengan semangat dan penuh kegembiraan. Sejumlah baliho dan umbul-umbul sudah terpasang di berbagai sudut kota. Warga diimbau menjaga kebersihan dan kenyamanan kota. Apalagi Balikpapan salah satu kota pemegang penghargaan tertinggi kota bersih, Adipura Kencana.

Dalam acara gala dinner di halaman Pemkot, Senin (3/6) malam, RM kabarnya mendatangkan penyanyi dangdut Soimah Pancawati. Dalam sesi lain, dia juga mengundang pedangdut Nassar, mantan suami Muzdalifah. Biasanya Rhoma Irama. Saya suka lagunya: “Cuma Kamu.”

Saya lega kondisi Jl Ruhui Rahayu di sekitar RSS langsung diperbaiki saat ini. Proyek setengah mangkrak bernilai Rp8,9 miliar  itu sempat meresahkan karena berbahaya bagi yang melintas. Ada lubang menganga dan besi tajam yang menancap terbuka di beton drainase. Padahal dekat dengan Dome, yang dijadikan pusat kegiatan Apeksi.

Saya belum tahu apakah ke-98 wali kota itu akan diajak Presiden ke lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN). Mungkin tidak. Karena Jokowi sendiri  setelah membuka acara, langsung ke IKN untuk melakukan groundbreaking tahap 6, khusus investasi di bidang pendidikan.

Ada Stanford University yang akan membangun pusat riset dan pendidikan di sana. Ini universitas swasta di California, AS, tepat di jantung Lembah Silikon yang terkenal. Elen Musk yang baru saja datang ke Bali pernah kuliah di Stanford.

Selain itu, Jokowi akan melakukan pengecekan karena peringatan HUT  Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2024 untuk pertama kalinya berlangsung di IKN. Waktunya boleh dibilang tinggal dua setengah bulan lagi.

Apeksi itu adalah Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia. Ketuanya sekarang, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menggantikan Bima Arya Sugiarto, wali Kota Bogor yang berakhir masa tugasnya. Hebat juga. Wali Kota Bontang Basri Rase terpilih sebagai wakil ketua Bidang Pemerintahan & Otonomi Daerah.

Masa tugasnya sampai 2025. Jika pada Pilkada 2024 Eri tidak terpilih, maka posisinya sebagai ketua Apeksi harus diganti. Eri asli arek Surabaya. Sebelum jadi wali kota, dia pernah menjabat kepala Dinas Cipta Kerja dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Kota Surabaya.

Eri dikenal sebagai penggagas layanan e-procurement barang dan jasa. Karena itu dia pemegang Hak Kekayaan Intelektual Aplikasi E-Procurement. Berkat  itu, dia diangkat menjadi direktur eksekutif Layanan Pengadaan Secara Elektronik untuk memastikan pengelola APBD tidak melakukan praktik korupsi.

Sebelum Bima, ketua Apeksi adalah Airin Rachmi Diany, wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Saya sempat menjadi wakil ketua.  Ketika Munas VI Apeksi di Jakarta, 2021, saya memimpin sidang sampai terpilihnya Bima Arya. Dia bersaing dengan Wali Kota Jambi Syarif Fasha. Saya, Airin, dan Fasha sudah purnatugas.

Airin yang sekarang menjadi pengurus DPP Golkar bakal mengikuti Pilgub Banten. Dia baru saja terpilih sebagai anggota DPR RI Dapil Banten III dengan meraih  suara terbanyak.  Demikian juga Fasha dikabarkan bakal maju pada Pilgub Jambi.

Apeksi didirikan tahun 2000. Jokowi waktu itu sebagai wali Kota Solo. Dia juga menjadi anggota Apeksi. Pada tahun 2011, di awal jadi wali kota, saya pernah tampil bersama-sama dalam diskusi yang digelar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia di Jakarta.

Tujuan awal Apeksi adalah untuk membantu anggotanya mempercepat pelaksanaan otonomi daerah dan menciptakan iklim yang kondusif bagi kerjasama antar-Pemerintah Daerah. Sejak dini Apeksi dirancang untuk memenuhi kebutuhan yang benar-benar diperlukan kota-kota untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan.

Munas Apeksi II di Kota Surabaya, menetapkan Wali Kota Tarakan dr H Jusuf Serang Kasim sebagai ketua Dewan Pengurus Apeksi periode 2004-2008. Waktu itu saya masih menjadi wartawan dan Pimred Kaltim Post.

Jusuf dikenal sebagai salah satu ketua Apeksi yang aktif dan banyak punya gagasan. Apeksi sangat berkembang.  Dia juga sukses menjadi wali kota pertama Tarakan selama dua periode. Mulai 1999-2004 sampai 2004-2009. Tarakan saat itu masih menjadi bagian dari Provinsi Kaltim.

NASIB KOTA “WALI SONGO”

Rakernas Apeksi XVII mengangkat tema: “Kota Sejahtera, Indonesia Maju.” Karena tuan rumahnya Balikpapan, maka tidak terlepas dengan isu kesejahteraan yang dikaitkan dengan kota-kota penyangga atau kota satelit di sekitar IKN.

Pada Munaslub di Kota Bogor, 15 Desember 2023, Wali Kota Bogor Bima Arya, yang saat itu masih menjadi ketua Apeksi membuat pernyataan menarik di depan Presiden Jokowi. Selain mendukung pembangunan IKN, dia juga menyinggung nasib 9 kota se-Kalimantan di sekitar IKN.

Apeksi, kata Bima, yakin IKN bisa menjadi stimulus perkembangan kota, sehingga  kota-kota di Indonesia bisa semakin maju dengan pembangunan berkelanjutan.

Secara khusus Apeksi juga berharap IKN memberikan dampak yang positif bagi kota-kota di Kalimantan. “Bapak Presiden, teman-teman di Kalimantan  menamakan dirinya Wali Songo, karena ada 9 wali kota di wilayah ini. Mereka semua berharap IKN memberikan efek yang signifikan,” ungkap Bima.

Ke-9 wali kota di Kalimantan itu adalah Balikpapan, Samarinda dan Bontang di Kaltim, Tarakan di Kalimantan Utara (Kaltara), Banjarmasin dan Banjarbaru di Kalsel, Palangkaraya di Kalteng serta Pontianak dan Singkawang di Kalbar.

Bagaimana perkembangan 9 kota ini setelah ada IKN? Pada Raker Apeksi Komwil V Kalimantan di Balikpapan bulan Maret lalu, dibahas secara khusus pengaruh pembangunan IKN bagi Bumi Kalimantan.

Secara khusus, peserta Rakernas, wali kota se-Indonesia bisa melihat perkembangan kota Samarinda dan Balikpapan, yang langsung berdampingan dengan wilayah ibu kota negara yang baru itu. Jarak tempuh kedua kota tersebut ke IKN di Sepaku, Penajam Paser Utara (PPU) sekitar 2 jam lebih lewat jalan darat. Kalau nanti jalan tol IKN selesai, hanya sekitar 50 menit dari Balikpapan.

Jalan tol IKN sepanjang 57 kilometer dijadwalkan selesai sebelum 17 Agustus. Soalnya akan dipakai untuk mobilitas tamu undangan dari Jakarta dan daerah lain, yang jumlahnya lebih seribu orang. Juga bandara VVIP di lokasi IKN.

Kota Samarinda dan Balikpapan memang mendapat berkah besar dari IKN. Terutama dari aspek usaha. Bisnis perhotelan, transportasi, kuliner dan UMKM, bahan pokok, bahan bangunan dan material, konstruksi, berbagai peralatan lagi booming. Perekonomian tumbuh meroket.

Tapi dari segi daya dukung dan tata ruang, ini yang tengah dihadapi Samarinda dan Balikpapan. Tamu-tamu Apeksi yang datang hari-hari ini bakal melihat dan merasakan betapa kroditnya lalu lintas. Apalagi jalan-jalannya relatif sempit.

Jalan nasional di Balikpapan yaitu Jl Soekarno-Hatta harusnya dibenahi habis-habisan. Terutama dari Rapak sampai Km 13, Karang Joang. Tanjakan Rapak yang menjadi tanjakan maut harus segera direkayasa ulang. Karena kendaraan besar yang membawa material RDMP dan IKN sering lewat.

Saat ini sebagian warga Kota Balikapan lagi mengalami kelangkaan air bersih. Banyak yang mengomel dan menjerit. Produksi air PDAM merosot akibat kemarau. Pipa distribusi sudah tua dan sering bocor. Juga kekurangan air baku sekitar seribu liter per detik.

Janji air Waduk Sepaku IKN sebanyak 500 liter per detik dikirim ke Balikpapan semestinya segera direalisir. Kementerian PUPR juga harus membantu pipa transmisinya melalui APBN. Soalnya investasi yang dibutuhkan cukup besar.

Sementara daerah tangkapan air dari Hutan Lindung Sungai Wain dan Kebun Raya Balikpapan ke Waduk Manggar dan Teritip mulai terdesak. Daerah sekitarnya dibuka untuk kebun dan penambangan. Meski Balikpapan sendiri mengharamkan tambang batu bara.

Saya kaget Wakil Ketua DPRD Balikpapan Budiono, yang juga ketua DPC PDIP berbicara lantang. Seperti diberitakan TRIBUNKALTIM.CO, 30 Mei.  Dia bilang, di saat masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih, Pemerintah Kota Balikpapan justru mengalokasikan anggaran cukup besar Rp16 miliar untuk kegiatan Rakernas Apeksi.

“Saya tergelitik dengan Rp16 miliarnya, sementara kinerja PDAM yang tidak kunjung bagus. Masih banyak warga yang belum menikmati air bersih. Jangan-jangan ada peserta atau pengunjung Rakernas Apeksi yang tidak bisa mandi. Kan lucu itu,” katanya menyinggung.

Ada juga pemandangan terasa memalukan dan memilukan. Balikpapan dikenal sebagai Kota Minyak karena ada bercokol kilang minyak Pertamina. Malah kapasitas produksi sekarang ditingkatkan dari 260 jadi 360 ribu barel per hari melalui proyek, yang dikenal dengan sebutan RDMP (Refinery Development Master Plan). Biayanya sekitar Rp100 triliun.

Dengan kapasitas sebesar itu, maka kilang Pertamina Balikpapan terbesar di Indonesia. Tapi anehnya, terjadi antriean minyak di SPBU di mana-mana. Padahal pemandangan seperti ini jarang terlihat di kota lain.  Lalu ada apa?

Dengan alasan apa pun, Pemda, Pemprov, Pertamina, DPR dan Pemerintah Pusat harus menuntaskan masalah ini. Soalnya jumlah kendaraan yang masuk ke Kaltim terutama ke Balikpapan meningkatnya luar biasa. Malah sebagian kendaraan berat dan besar, yang minum BBM-nya lebih banyak.

Dalam urusan ketahanan pangan, Balikpapan tak ada masalah. Indeks Ketahanan Pangan (IKP) nya paling tinggi di Kaltim. Pasokannya datang dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulbar, Sulteng, Sulsel dan Kalsel. Tinggal yang harus dijaga kelancaran angkutan lautnya. Biar tak terjadi kelangkaan dan kenaikan angka inflasi.

Balikpapan dan Samarinda rawan longsor dan banjir. Karena daerah hulunya banyak terbabat. Wali Kota Rahmad Mas’ud sampai membuat proyek penataan DAS Ampal termasuk Jl MT Haryono, yang banyak mendapat sorotan. Anggarannya gemuk, Rp136 miliar, tapi pekerjaannya terbatuk-batuk, meski akhirnya selesai.

Saya setuju Bima Arya juga menyinggung  soal SDM yang unggul dan ASN terbaik di Kaltim, yang layak menyiapkan IKN untuk 2045. “Tentu kami juga berpendapat SDM di IKN adalah SDM di atas rata-rata yang dipersiapkan ke depan. Kami berpandangan bahwa ASN-ASN terbaik di Kalimantan layak untuk menyiapkan IKN untuk Indonesia Emas 2045,” jelasnya.

Presiden memang sudah memberi jatah untuk jabatan di Otorita IKN dan penerimaan ASN dari Kalimantan khususnya Kaltim. Tapi rasanya belum cukup. Sudah lama kita mengusulkan agar dibangun sekolah-sekolah unggul di Kalimantan. Termasuk Institut Teknologi Kalimantan (ITK) di Balikpapan menjadi proyek strategis nasional.

Menurut saya, salah satu rekomendasi Rakernas XVII Apeksi adalah menegaskan agar Presiden dan Pemerintah harus memberikan perhatian yang sama dan serius antara pembangunan IKN dengan kota-kota penyangganya. Jangan sampai di IKN terwujud Kota Hutan Berkelanjutan yang maju dan modern, sementara di sekitarnya khususnya Balikpapan dan Samarinda menjadi kota yang kelimpungan. Selamat ber-Rakernas. Selamat berdangdut ria dengan Soimah. He…he.(*)

Tiga Tahun Tanpa Wawali

May 31, 2024 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

TEPAT 31 Mei 2024 ini, tiga tahun usia jabatan Rahmad Mas’ud (RM) sebagai wali Kota Balikpapan. Dia dilantik 31 Mei 2021. Seharusnya masih tersisa dua tahun lagi.  Tapi karena ada Pilkada Serentak 27 November nanti, maka masa baktinya dipotong satu tahun. Kira-kira awal 2025 berakhir tugasnya  menyusul dilantiknya wali kota yang baru.

Apakah dia akan terpilih kembali? Kita tunggu hasil Pilkada nanti. Tapi banyak yang memperkirakan dia masih punya peluang. Sejauh ini masih ditunggu siapa lawan tangguhnya. Soalnya penjaringan partai-partai masih berproses. Sementara RM sudah memperkuat jaringan sampai ke tingkat RT.

Partai Nasdem (7 kursi), Gerindra (6), PDIP (4) dan PKB (4) memungkinkan mengusung lawan RM, meski harus tetap berkoalisi. Hanya Golkar (16) satu-satunya partai yang bisa melaju sendiri. Masih ada partai lain yang punya kursi, yaitu PKS (3), PPP (2), Hanura (2) dan Partai Demokrat (1).


Risti dan dua anaknya membawa foto Thohari Aziz saat pelantikan Rahmad Mas’ud jadi Wali Kota Balikpapan, 31 Mei 2021.

Ada sejumlah nama yang mendaftar ke beberapa partai. Di antaranya M Sa’bani (mantan sekprov Kaltim), drg Sukri Wahid (mantan anggota DPRD Balikpapan), Ir. Bagus Susetyo (anggota DPRD Kaltim dari Gerindra), Yaser Arafat (ketua Kadin), Syaima Alaydrus (putri bupati Kotabaru, Kalsel), Hj Wahidah (anggota DPRD Balikpapan dari PKS) dan Hj Nurliah Kadir (ketua LPM Manggar Baru). Juga Ketua DPD Nasdem Haji Ahmad Basir (HAB) dan Sabaruddin Panrecalle (wakil ketua DPRD Balikpapan dari Gerindra) serta Dr Rendi Ismail (ketua Yayasan Uniba).

Meski Basir optimis Pilwali kali ini tak ada “kotak kosong,” tapi namanya politik bisa saja terjadi hal yang di luar dugaan. Soalnya RM meski dengan Golkar-nya sudah cukup, 16 kursi, faktanya dia masih tetap mendaftar di sejumlah partai. Kecuali Nasdem.

Kalau aksi borong partai berhasil dia lakukan, bisa jadi RM melawan kotak kosong kembali. Atau dia memunculkan calon boneka, seperti pernah dilakukan Rita Widyasari dalam Pilbup Kutai Kartanegara. Kabarnya sudah ada nama dan pasangan yang akan diskenariokan begitu.

Sebagian nama-nama yang beredar saat ini juga berharap banyak digandeng RM sebagai wakilnya. Misalnya Ketua Partai Berkarya Kaltim H Karmin sebelum mundur pernah melirik kemungkinan itu. Kabar terakhir kader PDIP, Edy Tarmo yang saat ini masih menjadi anggota DPRD Kaltim juga begitu. Ada juga ketua partai dan beberapa calon lain punya syahwat yang sama.

Sejauh ini nama yang terungkap di sekitar RM adalah Ketua DPRD Abdulloh, Sekretaris Kota Muhaimin dan mantan wawali Heru Bambang. Belakangan ada juga disebut nama Risti Utami Dewi Nataris, istri almarhum Thohari Aziz, Bagus Susetyo dan Sabaruddin. Siapa yang akan dipilih? Untuk sementara kita tanyakan dulu pada rumput yang bergoyang.

Biasanya RM memutuskan siapa yang bakal menjadi wakilnya setelah dilaksanakan rapat keluarga. Mungkin setelah pulang haji nanti. Sekalian istikharah di sana untuk mendapatkan nama yang terbaik untuk pendampingnya.

Rapat keluarga Bani Mas’ud nanti diperkirakan cukup alot dan memerlukan waktu agak panjang. Maklum yang diputuskan tidak saja wakil RM, tapi juga wakil adiknya, Haji Rudy Mas’ud (HARUM), Ketua Golkar Kaltim dan anggota DPR RI yang maju dalam Pilgub Kaltim 2024.

Selain itu mereka juga membahas keputusan apa yang dipilih kakak mereka, Hasanuddin Mas’ud (HAMAS), yang saat ini ketua DPRD Kaltim. Apakah jadi maju dalam Pilbup Kukar atau tidak?. Kalau maju tentu juga dibahas siapa wakilnya. Jika opsi ini tidak dipilih, maka HAMAS dipastikan tetap diarahkan ke kursi ketua DPRD Kaltim.

Kursi ketua DPRD Balikpapan ke depan hampir dipastikan masih dalam lingkaran keluarga Bani Mas’ud. Setelah Abdulloh ke DPRD Kaltim atau dipilih menjadi bacawalinya RM, maka Alwi H Al Qadri, SP sebagai penggantinya. Dia keluarga RM dari Kampung Baru, yang saat ini menjadi ketua Komisi III DPRD Balikpapan.

Dalam Pileg 2024, Alwi dari Dapil III Balikpapan Barat meraih suara terbanyak. Sekitar 10 ribu suara atau tepatnya 10.156. Dia lahir di Balikpapan, 1 Maret 1977. Alwi baru satu periode menjadi wakil rakyat. Hobinya olahraga bulu tangkis. Makanya dia menjadi ketua PBSI Balikpapan. Jika dibolehkan dia juga bakal jadi ketua KONI. “Saya siap menjadi ketua DPRD Balikpapan, jika pimpinan Golkar Pak Rahmad mengamanahkan,” katanya begitu kepada media.

Ada kemungkinan rapat keluarga Bani Mas’ud juga membahas soal Pilbup di Penajam Paser Utara (PPU). Sepeninggal adik mereka Abdul Gafur Mas’ud (AGM) yang tersandung KPK, sepertinya Bani Mas’ud tetap ingin ada wakil keluarga bercokol di sana.

Tempo hari istri RM, Hj Nurlena Rahmad sempat disebut-sebut. Dia orang sana. Belakangan nama adiknya,  Siti Aisyah Mas’ud yang beredar. Juga kakaknya, Hj Syahariah Mas’ud. Tidak tertutup kemungkinan mereka dipasangkan dengan Pj Bupati Makmur Marbun.

Syahariah yang akrab dipanggil Umi Putri bukan politisi baru. Dia dua periode menjadi anggota DPRD Sulawesi Barat (Sulbar) dan pernah mengikuti Pilkada Majene 2020. Lalu hijrah ke PPU menjadi sekretaris DPC Golkar PPU dan terpilih menjadi anggota DPRD Kaltim hasil Pileg 2024 ini. Tidak tertutup kemungkinan dia akan didongkrak menjadi ketua Golkar PPU.

Keluarga Bani Mas’ud terdiri dari 8 orang. Mulai Hasanuddin Mas’ud (Hamas), Rahmat Mas’ud, Abdul Gafur Mas’ud, Rudy Mas’ud (Harum), Syahariah Mas’ud,  Yuliana Mas’ud, Siti Aisyah Mas’ud dan Hijrah Mas’ud. Hanya Aisyah yang jadi PNS, bendera lainnya adalah pengusaha dan politisi. Ayah dan ibu mereka adalah H Mas’ud dan Syarifah Ruwaidah Alqadri. Keduanya sudah berpulang.

Yuliana Mas’ud dan suaminya, Edy Salassa menjalankan perusahaan RM di bawah bendera Cindara Group. Mereka main di bisnis besar, mulai minyak, dermaga, kapal pengangkut minyak (tanker),  galangan kapal sampai cor-coran.  Juga jual air ke industri dan kapal-kapal.

Edy tadinya didorong menjadi ketua Kadin dan KKSS Balikpapan. Dia adalah ketua umum Dewan Pengurus Pusat Himpunan Masyarakat Sinjai (DPP Himas), Sulsel periode 2022-2027. Ketua LPM Teritip Andi Mappapuli juga dari Sinjai.

Belakangan ini nama Edy disebut-sebut di kampung halamannya untuk menjadi salah satu calon bupati Sinjai. “Sosok Pak Edy sangat tepat menjadi bupati kita,” kata praktisi hukum  Andi Sudhas dan mantan ketua umum Kesatuan Mahasiswa Sinjai UNM, Asfar Rusdi.

TETAP DINILAI SUKSES

Tiga tahun era kepemimpinan RM, genap tiga tahun juga dia menjalankan pemerintahan tanpa didampingi seorang wakil wali kota. Calon wakil wali kota terpilih, Thohari Azis, yang saat itu ketua PDIP dan wakil ketua DPRD Balikpapan meninggal dunia akibat Covid-19 sebelum pelantikan tanggal 31 Mei 2021.

Proses penggantiannya berlarut-larut. Dari dua calonnya tinggal satu, yaitu istri almarhum, Risti Utami Dewi. Tentu proses pemilihan tak bisa jalan karena sesuai ketentuan minimal 2 calon yang diajukan partai pengusung atau gabungan partai pengusung.

Satu calon lainnya, yaitu Budiono, ketua PDIP dan wakil ketua DPRD Balikpapan belakangan mengundurkan diri. Rekomendasi dari DPP juga ditarik. Mungkin dia mau fokus di Pileg. Buktinya dia terpilih kembali meski ada yang menuding dia yang membuat ulah proses pemilihan wawali jadi macet.

RM menginginkan Risti yang mendampinginya sebagai penghormatan atas perjuangan yang dilakukan suaminya bersama dia. Ibu 2 anak ini sehari-hari mengabdikan diri sebagai seorang guru. Profesi yang mulia.

Sebagian besar warga kota sudah lupa atau cuek soal kosongnya kursi wawali. Partai pengusung dan DPRD Balikpapan juga ademadem saja. Teguran dirjen Kemendagri juga tak terdengar lagi. Tak ada komentar dari Pj Gubernur Akmal Malik, yang juga dirjen Otonomi Daerah. Pers juga sudah jarang memberitakan. Apalagi menyorot. Masalah ini dianggap biasa-biasa saja. Bukan eksklusif lagi.

Satu-satunya lembaga yang masih mempersoalkan kursi wawali adalah gabungan organisasi Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi), Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI), Forum Silaturahmi Doktor Indonesia (Forsiladi) dan perkumpulan Ahli dan Dosen Republik Indonesia (ADRI) Balikpapan. Mereka mengajukan gugatan citizen law suit ke Pengadilan Negeri (PN) Balikpapan.

“Tujuannya agar hakim memutuskan segera dilakukannya pemilihan dan pengisian kursi jabatan wawali,” kata Dr Agung Sakti Pribadi, SH, MH dari tim penggugat. Agung juga sempat membuat konten yang menyentil PDIP. Kok dibiarkan jatahnya kosong? Malah dia mengundang Bambang Pacul dari PDIP datang ke Balikpapan. Pernyataannya masuk Tiktok di: @miqbal-story. Sekitar 18 ribu orang yang melihat.

Ada kabar baru dari Risti. Dia mengeluarkan pernyataan dijegal karena surat rekomendasi dari DPP PDIP tertanggal 27 September 2023, baru dia terima 6 Mei 2024 lalu. Jadi selama 8 bulan tak jelas mengendap di mana. “Saya dan keluarga serta seluruh pendukung dan simpatisan almarhum Thohari dizalimi,” tandasnya.

Meski tak ada  wawali, RM cukup sukses menjalankan pemerintahan. Buktinya berbagai penghargaan tetap saja bisa diraih. Dia juga mampu mempertahankan juara umum panji-panji keberhasilan pembangunan pada HUT Kaltim dan piala Adipura Kencana sebagai lambang supremasi tertinggi kota terbersih di Indonesia.

Balikpapan juga rutin mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK Kaltim. Jadi tak salah kalau ada yang menyebut RM itu pemimpin hebat dan mampu membuat sejarah dan rekor “kepala daerah tanpa wakil.” Meski dalam UU, pemerintah daerah itu dipimpin seorang kepala daerah dan wakil kepala daerah.

Hasil evaluasi SPBE 2023, Balikpapan meraih angka 3,75. Tertinggi di Kaltim. Mengalahkan Kutai Timur dengan angka 3,20 dan Samarinda 3,14. Angka itu juga di atas Kaltim. SPBE adalah Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) yang dievaluasi Kementerian PAN-RB tiap tahun. Balikpapan di urutan ke-13 dari 93 kota di Indonesia yang dinilai.

Hanya predikat Kota Layak Huni (The Most Livable City) yang hilang dari Kota Balikpapan. Hasil penilaian Ikatan Ahli Perencana (IAP) Indonesia tahun 2022, malah Kota Samarinda yang masuk 10 besar. Bisa jadi karena ada proyek RDMP dan IKN, sehingga kenyamanan Kota Beriman jadi menurun. Di antaranya soal kemacetan dan kelangkaan BBM dan air bersih.

Saya dengar sekarang ini Pemkot lagi mengasesmen 14 pejabatnya. Rencananya ada yang dirotasi, dipromosi dan setengah diparkir. Katanya sudah mendapat izin Mendagri. Jadi tak masalah. Sesuai ketentuan dan surat edaran Mendagri, 6 bulan sebelum Pilkada (batas terakhirnya 22 Maret lalu) tidak diperbolehkan lagi melakukan mutasi. Sayangnya ada frasa “kecuali mendapat izin dari Mendagri.”

Salah satu yang disasar Kadishub. Karena heboh soal Ojol. Selain mengisi jabatan yang kosong di antaranya staf ahli, kadis Kominfo dan kepala Dinas Pertanahan dan Penataan Ruang. Yang menarik dan membuat tim asesmen bingung, ketika ditanya pilihan jabatan, sebagian bilang mau jadi staf ahli saja. Tak ada risiko dan tidak ditekan-tekan.

RM dikenal hobi bermain golf dan kuda. Dia membangun lapangan golf mini di Kariangau, di kompleks dermaganya. Ada arena mini buat kudanya di depan rumah dinas dan belakang Gedung Kesenian. Dia menjadi ketua Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Kaltim.

Dalam Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN) Tahun 2022, harta RM tercatat Rp37,3 miliar. Kakaknya Hamas Rp254,56 miliar dan adiknya, Harum Rp346 miliar lebih dengan utang Rp87,6 miliar.

Saya sempat membaca pergunjingan warga kota dari salah satu grup Whatsapp (WA). Menarik juga disimak. Coba baca percakapan mereka di bawah ini:

  • Kelihatan kota ini sedang dilanda ujian besar. Karena itu butuh seorang pecundang yang mampu mendesain kota ini menjadi kota yang aman dan nyaman dihuni.
  • Warga Balikpapan tidak ada yang kelaparan. Kalau kurang ada KFC, Dandito, Bondy sampai angkringan. Memang kelaparan tidak ada, tapi kekurangan air, BBM dan gas iya.
  • Makanya dalam Pilkada nanti carilah pemimpin yang cinta dan mengerti kesusahan warganya. Bukan pemimpin yang hanya bersolek untuk citra dan memborong semua partai.
  • Yang dibutuhkan Balikpapan saat ini adalah “persekongkolan hari nurani” untuk menghadapi oligarki. Dengan menyatukan hati nurani dari individu-individu dan kelompok yang memiliki niat baik untuk kota ini, maka kita bisa melawan dan menolak dominasi dan pengaruh yang berusaha ditegakkan oleh oligarki.
  • Yang harus kau pahami dengan baik broo, runtuhnya wibawa masyarakat sehingga hilang daya kritisnya ketika para jurnalis dan aktivis seperti dirimu mengidap penyakit ketakutan, bungkam pada persoalan sosial yang terjadi. Demikian juga dengan orang-orang yang punya kemampuan, tapi sepertinya cari aman saja ketimbang ikut ngurusi kota.
  • Seharusnya petahana pede tanpa koalisi. Bukankah 35 persen kursi di DPRD sudah dikuasai? Jadi kalau saat ini petahana masih ingin memborong partai, ini akan menciptakan Kokos Jilid 2 di Balikpapan.
  • Kokos anak halalnya demokrasi. Kokos itu sesuatu yang mengasyikkan bang. Makanya masih dirindukan dalam Pilkada.
  • Tapi RM salah satu wali kota yang banyak menorehkan sejarah baru buat kota Balikpapan. Sampai saat ini belum ada yang mampu melawan. Suka atau tidak, dia pengusaha dan politisi yang tangguh.
  • RM juga seorang politisi muda yang mapan dan punya strategi yang hebat dalam membentuk karakter politiknya. Dia mampu membuat semua partai politik dan politisi kota ini bungkam, tanpa ada yang berani melawan.
  • Info dari penguasa: DO RT akan ditambah. Jabatan RT akan diperpanjang. RT bisa mengajukan pokir ke Dewan. RT terbaik akan diumrahkan. Baju seragam sudah dibagi. Kurang apa lagi?
  • Pakai topi warnanya merah. Mari ngopi agar pikiran cerah. Jangan melulu bicara Pilkada. Bikin badan lelah dan hati makin resah. Lebih baik nyanyikan lagu dangdut koplo Hesti Damara. Judulnya: Basah…Basah..Basah.(*)

Persiba Degradasi ke Liga 3

May 30, 2024 by  
Filed under Opini

Awal tahun 2024 dibuka dengan catatan buruk bagi klub sepak bola ternama Kalimantan, yakni Persiba Balikpapan. Klub sepak bola yang lahir pada 3 Agustus 1950 itu terpaksa gigit jari, karena mereka harus tela terdegradasi ke Liga 3 pada musim depan.

Kepastian ini didapat, setelah si Licin Minyak (julukan lain Persiba), menelan kekalahan 2-4 dari tamunya Persijap Jepara di kandang sendiri, Stadion Batakan Balikpapan, Sabtu (27/1/2024) silam, pada lanjutan Liga 2 2023/2024.

Padahal diawal musim Liga 2, mereka mematok target tinggi dengan ingin lolos ke Liga 1 guna menemani Borneo FC Samarinda dan Barito Putera Banjarmasin, yang lebih dahulu nangkring dijajaran klub elit Liga Indonesia.

Sayang beribu kali sayang, torehan emas Persiba Balikpapan kian tahun menurun drastis. Jika pada masa lalu, banyak tinta emas yang mereka ukir, usai pengelolaan klub diambil alih orang luar Balikpapan, tajam kuku Beruang Madu ikut tumpul.

Usai mereka terdegradasi dari Liga 1 pada tahun 2017 akibat hanya mampu finish di urutan 17 dari 18 kontestan kala itu. Beruang Madu memang menjadi tim pesakitan. Klub kebanggaan Balistik dan Persiba Fans Club itu tak kunjung membaik kondisinya, bahkan dari tahun ketahuan semakin memprihatinkan.

Minimnya bantuan dana guna menopang keikutsertaan Beruang Madu  di kompetisi sepak bola dalam negeri jadi faktor utama, faktor itu jadi penyebab utama sendatnya prestasi tim yang sempat tersohor dengan jersey biru-birunya sebagai warna kebesaranny.

Torehan kelam yang digapai Persiba Balikpapan beberapa tahun kebelakang memang ironi, Apalagi berdirinya Stadion Batakan yang dinilai banyak pihak, luar biasa dengan luar biasa, terlebih mampu menampung 40 ribu lebih penonton itu justru tak mampu dimanfaatkan Persiba.

Ini justru terbanding berbalik jika kita menoleh kehebatan Persiba Balikpapan, kala mereka masih memakai Stadion Parikesit, di Kawasan Komplek Pertaminan. Stadion yang juga dikenal sebagai Stadion Persiba itu memang dinyatakan jauh dari kata layak. Namun dari situlah pesepakbola hebat kota minyak lahir. Bima Sakti dan Ponaryo Astaman lahir dari rumput hijau stadion yang selalu diperolok ketika sering tergenang dan becek ketika hujan dalam pertandingan.

Dari Stadion Parikesit juga sepak bola Balikpapan harum dengan keberhasilan Persiba mengalahkan musuh-musuhnya. Kala itu, Stadion boleh disebut buruk, tapi jangan pernah anggap tim Persiba Balikpapan buruk. Justruk, torehan itu berbeda dengan gapaian emas mereka ketika berkompetisi.

Namun kini, Persiba Balikpapan dengan stadion yang bisa disebut termewah saat ini di Kalimantan, bahkan bagian Indonesia Timur, dengan Stadion Batakannya, justru tak berdaya. Isu bahwa mereka hanya berjuang sendiri tanpa bantuan pihak terkait pun gencar disuarakan. Pro kontra terjadi di pendukung setia mereka. Meski tak semua, banyak pula yang menyalahkan Pemerintah Kota Balikpapan yang dinilai tutup mata atas kiprah Persiba di sepak bola Indonesia. Bahkan sampai mereka kritis kemarin, Pemkot Balikpapan dianggap tak peduli.

Namun dari informasi yang didapat, Pemkot Balikpapan sendiri justru merasa tidak dilibatkan dari awal. Bahkan mereka dibuat terperangah karena Persiba Balikpapan justru dijual ke pihak lain tanpa melibatkan mereka. “Tiba-tiba sajakan Persiba dijual ke pihak lain, padahal kenapa tidak bicara dulu ke Pemkot Balikpapan, itu rasa tidak masuk akal, kalau mereka tidak mau mengelola tim daerahnya, apalagi tim ini sebelumnya kan memang punya masyarakat Balikpapan,” ujar Wahyu Alfiansyah, pecinta Persiba Balikpapan.

“Klub Borneo FC Samarinda datang ke Pemkot Balikpapan dan pinjam Stadion Batakan, sebab mereka mau bertanding disini. Bahkan PSM Makassar melakukan hal yang sama, dan infonya mereka sewa dapat diskon 50 persen soal biaya sewa, tapi ini Persiba kenapa mereka tidak melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan dua klub itu. Kalau Persiba datang tidak mungkin Pemkot Balikpapan tutup mata,” urainya lagi.

Manajemen baru Persiba Balikpapan memang diketahui sempat menemui Pemkot Balikpapan, kala itu Walikota Balikpapan, Rahmad Mas’ud bahkan yang langsung menerima kedatangan pengurus baru Persiba Balikpapan. Namun disinyalir, Dari informasi yang didapat, pertemuan itu terlambat dilakukan. Jika itu disusun lebih dini, dan melibatkan Pemkot Balikpapan sejak awal, Persiba Balikpapan bisa saja lebih sehat ketika berkompetis.

Bahkan kabar tak sedap, karena tertunggaknya gaji para pemain si Licin Minyak yang akhirnya keluar ke media, tak akan terjadi jika Persiba dikelola orang Balikpapan asli.

Duka Persiba bertambah kongrit, sebab tetangga mereka, Borneo FC Samarinda kini tampil perkasa pada Liga 1 2024 Reguler League. Mereka memastikan diri keluar sebagai juara Reguler Series dan akan berlaga pada babak Championship Series pada bulan Mei mendatang.

Keberhasilan Borneo FC ini luar biasa, meski pertandingan masih menyisakan dua pertandingan. Torehan 70 poin mereka saat ini tidak bisa lagi dapat dikejar dan dilewati tim lain. Sebab, Pesut Etam terpaut jauh, 59 poin dari Persib Bandung, sebagai tim yang menghuni peringkat kedua Liga 1.

Ironisnya lagi, Borneo FC berpesta pora di kandang milik Persiba Balikpapan, Stadion Batakan, Minggu (21/4/2024) malam tadi. Trofi Borneo FC dibopong mereka dihadapan pendukung setia Borneo FC yang datang dari Samarinda, dan tak sedikit pula dukungan datang dar pecinta sepak bola kota Balikpapan. Torehan ini memang kelam, terutama bagi penikmat bola generasi Y atau Milenial di Kaltim. Panasnya kisah perseteruan mereka, bahkan tak jarang berakhir aksi priski kedua belah pihak kala mereka  berbicara tentang sepak bola Samarinda dan Balikpapan.

“Mau diapa lagi, Borneo FC kini berjuang membawa nama Kalimantan Timur, bukan hanya Samarinda. Realistis saja, meski catatan panjang sepak bola Samarinda dan Balikpapan itu tak bisa ditepikan, tapi kita sebagai warga Balikpapan, senang aja ada tim Kaltim yang juara di Kota Balikpapan, meski tim Balikpapannya degradasi, jelas sedih sebenarnya,” ujar Ismed Syahbandi, gundah seorang Balikpapaners menyikapi capaian tim kebanggaannya.  (Hedly)

“Merdekakan” Saja Nadiem

May 29, 2024 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

BANYAK yang gregetan dengan menteri yang satu ini. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim (40). Lahir di Singapura. Dulunya dikenal sebagai bos pendiri Gojek. Sukses. Masuk 150 orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan 100 juta dolar AS.

Nadiem sukanya dipanggil “Mas Menteri.” Maksudnya biar lebih akrab dan merakyat. Tapi sejumlah kebijakannya justru terbalik. Bikin kita kesal, karena itu ada yang mengusulkan “merdekakan” saja Mas Menteri. Alias dicopot.

Kata “Merdeka” jadi akrab dengan Nadiem. Setelah dilantik jadi menteri, 23 Oktober 2019, dia terkenal dengan konsep Merdeka Belajar. Suatu pendekatan yang dilakukan supaya siswa dan mahasiswa bisa memilih pelajaran yang diminati. Hal ini dilakukan supaya mereka bisa mengoptimalkan bakatnya dan bisa memberikan sumbangan yang paling baik dalam berkarya bagi bangsa.

Dengan konsep Merdeka Belajar itu, sepertinya Mas Menteri ingin “memerdekakan” atau menghapus sejumlah hal yang dianggapnya tidak pas lagi dengan situasi sekarang. Meski hal itu menimbulkan heboh dan polemik, yang kesannya memecah-belah bangsa.

Misalnya, hampir tiap tahun selalu terdengar isu bahwa Nadiem ingin menghapuskan pelajaran agama di sekolah. Tiap tahun juga dia membantah. “Isu tersebut tidak benar dan Kemendikbud tidak akan pernah menghapus mata pelajaran agama. Agama bukan hanya penting, tetapi juga esensial bagi pendidikan bangsa kita,” begitu tandasnya.

Kalau lihat penegasan Nadiem  tentu kita percaya. Tapi munculnya isu ini tiap tahun tentu juga bukan kaleng-kaleng. Ada yang bilang penghapusan frasa “agama” sempat terlihat dalam dokumen draf Peta Jalan Pendidikan Tahun 2020-2035. Karena itu muncul penolakan keras.

Plt Kepala Biro Kerja Sama dan Humas Kemendikbud, Hendarman kesannya setengah mengakui.  Hanya dia bilang draf yang ada bukanlah dokumen final.  Karena masih akan menjadi bahan pembahasan dengan Komisi X DPR RI serta 60 organisasi kemasyarakatan, perguruan tinggi, organisasi keagamaan, asosiasi pendidikan serta organisasi multilateral lainnya.

Ka Kwarnas Buwas menunjukkan rekomendasi Pramuka se-Indonesia menolak kebijakan penghapusan kegiatan Pramuka sebagai ekskul wajib.

Belakangan Mas Menteri bikin heboh lagi. Kegiatan Pramuka juga mau dihapuskan. Lagi-lagi dia membantah. Dia mengatakan, Kementerian yang dipimpinnya tidak menghapus kegiatan Pramuka dari ekstrakurikuler (ekskul) di sekolah.  Pramuka tetap kewajiban yang perlu diselenggarakan sekolah, akan tetapi tidak wajib diikuti oleh siswa.

“Mohon tidak lagi dibahas bahwa Pramuka dihapus atau dihilangkan. Peraturannya sangat jelas bahwa itu menjadi ekskul yang wajib diselenggarakan oleh sekolah,” kata Nadiem saat Raker dengan Komisi X DPR RI, 3 April lalu.

Menurut Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan  Asesmen Pendidikan (BSKAP), Anindito Aditomo, setiap sekolah hingga jenjang pendidikan menengah wajib menyediakan Pramuka sebagai kegiatan ekstrakurikuler dalam Kurikulum Merdeka.

Hanya saja sesuai dengan Permendikbudristek 12/2024, keikutsertaan murid dalam kegiatan ekskul termasuk Pramuka bersifat sukarela. Artinya boleh saja mereka tidak mengikuti kegiatan tersebut.

Tentu kebijakan ini menimbulkan reaksi. “Itu kebablasan, karena Pramuka merupakan paket komplet yang berperan penting dalam pembentukan karakter pelajar Pancasila,” kata Ketua Komisi X DPR RI, Syaiful Huda.

Ketua Kwarnas Pramuka Budi Waseso atau Buwas mensinyalir, penghapusan Pramuka sebagai ekskul wajib di sekolah merupakan upaya terselubung untuk melemahkan Indonesia di masa depan.

“Kami mencurigai adanya indikasi ke arah sana yang dilakukan secara halus dan tersistematis. Pimpinan Kwarda seluruh  Indonesia semuanya melihat hal yang sama,” kata Buwas setelah membuka Rakernas Pramuka 2024 di Jakarta, 25 April.

Salah satu hasil Rakernas adalah secara aklamasi  Pimpinan Pramuka se-Se-indonesiaIndonesia menolak Permendikbud No 12 Tahun 2024 dan mendesak Mendikbudristek segera mencabut kebijakan tersebut.

Sekjen Kwarnas Mayjen TNI (Purn) Bachtiar Utomo menambahkan, apa yang terjadi sekarang dapat disamakan dengan proxy war, yaitu suatu situasi di mana terjadi aktor-aktor tertentu yang berupaya memecah-belah bangsa secara tidak langsung namun pimpinan bangsa yang jeli dapat mendeteksi gejala tersebut.

Terbitnya Permendikbud No 12 seakan menjadi “kado buruk” yang diterima Buwas, setelah dia dilantik menjadi Ka Kwarnas masa bakti 2023-2028 oleh Presiden Jokowi, 5 April lalu.

HEBOH UKT LAGI

Tidak sampai sebulan, Mas Menteri bikin “aksi heboh merdeka” lagi. Dia mengeluarkan kebijakan yang memberi ruang kenaikan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT). Akibatnya mahasiswa dan orang tuanya menjerit-jerit.

UKT semacam SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) di zaman dulu. Aturannya dikeluarkan sekitar 10 tahun lalu. Permendikbud No 55 Tahun 2013. UKT adalah Biaya Kuliah Tunggal (BKT) dikurangi subsidi pemerintah.

Besaran UKT disesuaikan dengan kondisi pendapatan orang tua. Semakin besar penghasilan orang tua, semakin tinggi UKT-nya. Jadi semacam subsidi silang.

Saya kira setelah diberi nama “Tunggal” tak ada lagi pungutan lain. Ternyata di kampus masih ada yang namanya Iuran Pengembangan Institusi (IPI). Sesuai namanya, IPI adalah biaya yang dikenakan kepada mahasiswa sebagai kontribusi untuk mengembangkan perguruan tinggi.

Nadiem baru saja mengeluarkan Permendikbudristek Nomor 2 Tahun 2024 tentang Standar Biaya Operasional Pendidikan Tinggi. Ditujukan kepada mahasiswa baru yang masuk perguruan tinggi negeri (PTN). Atas dasar itu, Rektor PTN di berbagai kampus bisa menaikkan UKT selangit.

Gelombang protes atas kenaikan UKT langsung digaungkan oleh mahasiswa dari berbagai kampus. Mereka melayangkan protes lantaran kenaikan UKT yang tak masuk akal membebani mahasiswa dan para orang tua.

Para mahasiswa Unmul yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Universitas Mulawarman juga menggelar aksi. Mereka menolak penerapan IPI secara merata di kampusnya.

Sempat muncul wacana Student Loan. Pinjaman atau kredit untuk mahasiswa. Dari bank atau Lembaga keuangan lainnya. Pada  masa pemerintahan Presiden Soeharto sudah pernah ada.  Saya termasuk penerima Kredit Mahasiswa Indonesia (KMI) dari Bank BNI. Sempat ditagih setelah lulus karena belum lunas dibayar. Malu juga, he.

DPR mau tidak mau menerima sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang menyatakan protes dan keluhan dengan kenaikan UKT. Mereka minta wakil rakyat segera bereaksi dan memanggil Nadiem.

Di depan Komisi X,  Nadiem berkilah lagi. Dia bilang dengan gagahnya kenaikan UKT sesuai dengan asas keadilan dan inklusifitas. Adil yang mana? Tokoh oposan Said Didu dengan lantang menyebut Mas Menteri sebagai perusak bangsa. “Menteri ini betul-betul perusak negeri. UKT kok dibilang demi keadilan,” tandas Didu.

Menurutnya, tidak ada keadilan jika pendidikan tinggi mahal. Karena itu artinya hanya orang kaya yang bisa mengenyam pendidikan tinggi.

Cerita akhirnya Nadiem dipanggil Presiden Jokowi ke Istana Kepresidenan, Senin (27/5) lalu. Kenaikan UKT dibatalkan. Tinggal nasib Rektor dapat pekerjaan baru, karena diperintahkan mengembalikan kelebihan uang mahasiswa yang sudah telanjur membayar.

“Jadi untuk tahun ini tidak ada mahasiswa yang akan terdampak dengan kenaikan UKT,” katanya kepada awak media dengan wajah tanpa dosa. Nadiem memberi isyarat pihaknya akan melakukan evaluasi satu per satu semua permohonan perguruan tinggi. “Itu pun untuk tahun berikutnya.”

Nadiem lupa masa kerja Kabinet Indonesia Maju akan berakhir 23 Oktober 2024 nanti. Tahun depan belum tentu dia lagi jadi menterinya. Jadi UKT “sudah Merdeka.”(*)

Isran, Kawinan dan Surduk

May 28, 2024 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

MINGGU (26/5) kemarin saya bersama Pak Isran Noor. Mantan gubernur Kaltim, yang lagi persiapan mengikuti Pilgub 2024. Di sela-sela kesibukannya, dia menyempatkan diri menghadiri resepsi sejumlah pernikahan di Samarinda dan Balikpapan. “Saya berusaha hadir untuk membahagiakan pengantin dan keluarga mereka,” katanya.

Pak Isran dikerubuti ibu-ibu yang mengidolakannya

Usai acara undangan resepsi di Samarinda, dia langsung meluncur ke Balikpapan. Kebetulan saya juga mendapat undangan. Resepsi pernikahan  Rina dan Banoe di Hotel Novotel. Ramai sekali. Saya lihat pengantin dan kedua orang tuanya mengenakan baju adat Banjar yang sebagian sudah dimodifikasi lebih trendi.

Banoe lengkapnya Banoe Wikantyoso adalah putra Pak Sudjatmiko dan Ibu Puji Astuti. Pak Miko panggilan akrab Sudjatmiko adalah arsitek senior di Balikpapan di bawah bendera PT Eksakta Profesitama. Banoe juga arsitek. Dia menjadi salah seorang direktur Eksakta. Sedang Ibu Puji dikenal sebagai politisi Partai Demokrat dan pernah menjadi anggota DPRD Kaltim.

Rina lengkapnya Nisrina Rihhadatul Aisy adalah putri keluarga Pak Yusuf (alm) dan Ibu Nursiah. Dia adalah dokter kecantikan. Pimpinan cabang Athena, klinik kecantikan milik dr Richard Lee, di samping Hotel Midtown Balikpapan.

Pak Miko sangat akrab dengan para wali kota Balikpapan. Sebelum saya, dia sering mendampingi Pak Tjutjup Suparna dan Pak Imdaad Hamid. Juga ada beberapa gedung kantor Pemkot yang dirancang langsung olehnya.

Sekitar pukul 14.00 Pak Isran sampai di tempat acara. Saya dan Pak Zen langsung menemani. Dia tak bisa langsung menyalami pengantin, lantaran Bu Puji dan teman-temannya masih ikut goyang-goyang. Lagu pengiringnya, Rungkat, yang memang lagi populer.

“Sebentar ya Pak, kita ikut nari dulu,” kata Bu Puji. Pak Isran oke saja. Dia juga menikmati. Saya lihat yang ikut berjoget mewakili tiga generasi. Ada yang muda, setengah tua dan tidak muda lagi. Tapi semua bersemangat dan seperti merasa muda semua.

Setelah itu, baru Pak Isran diundang naik panggung. Dia menyalami mempelai dengan semangat termasuk kepada kedua orang tua. Dia didaulat menyampaikan pesan kepada mempelai. Saya dipanggilnya untuk menemani. “Ini adalah wali kota Balikpapan, sedang yang ada adalah penggantinya,” katanya setengah berseloroh.

Lalu dia mengucapkan selamat. “Semoga kedua mempelai menjadi pasangan sakinah, mawaddah dan warahmah,” katanya lantang. Tak lupa Isran juga menyampaikan status dirinya, yang menjadi “janda” (Baca: duda) menyusul berpulangnya istri tercinta, Hj Norbaiti. “Kali di sini ada yang “duda” (baca: janda),” katanya membuat para undangan tertawa.

Seorang ibu berbisik kepada saya: “Kita doakan pemimpin kita, Pak Isran mendapat pendamping sebaik almarhumah Ibu Norbaiti,” katanya penuh doa.

Pak Isran sempat duduk dan menyaksikan Banoe yang sempat beraksi memukul drum bersama band penghibur acara. Rupanya Banoe juga seorang pemusik. Itu grup band Imagine, terbentuk waktu mereka sekolah di SMA Patra Dharma Balikpapan. Jadi sekalian reuni. Imagine sempat bikin lagu berjudul “Malam Ini Tanpamu.”

Pak Isran sempat dikerubuti ibu-ibu, yang minta foto bersama. Sejak di dalam ruangan sampai ke luar. Sesekali ada juga yang minta foto dengan saya. Di antara penari muda yang tampil ternyata ada beberapa atlet dansa Kaltim yang dipersiapkan ke PON XXI di Aceh dan Sumut. Pak Isran akan menjadi ketua kontingen.

Sebelum Pak Isran datang, saya bersama istri, Bunda Arita dan kedua cucu saya, Defa dan Dafin lebih dulu mengucapkan selamat kepada mempelai. Saya sempat bertemu Bu Yetti Noor, istri almarhum wali kota H Tjutjup Suparna. “Pak Miko yang minta saya datang,” katanya tampak sehat. Bu Yetti sekarang tinggal di Jakarta dan Bandung.

Pak Isran tidak sempat makan. Ternyata dia ingin singgah di Warung Coto Makassar Daeng Tutu di Gunung Guntur. Sayangnya sop konronya sudah habis. Jadi pesan sop saudara saja. Beberapa warga yang lagi makan di sana kesenangan. Semua dibayari Pak Isran. Kan semua bersaudara.  “Terima kasih Pak, semoga Bapak sukses di Pilgub nanti,” kata mereka sambil minta foto bareng.

Ada dua anak perempuan yang duduk di samping Pak Isran. Si adik duduk di SD, sedang sang kakak di SMA 5. Rambut si adik sempat dibelai Pak Isran. “Belajar yang rajin ya, biar nanti jadi orang hebat dan sukses,” katanya memberi semangat.

SUDAH 400 RIBU

Sementara itu, berkaitan dengan pencalonannya, Isran-Hadi sudah memutuskan tidak menggunakan jalur perseorangan atau independen. Akan tetap penyerahan surat dukungan (surduk) diputuskan masih berlangsung sampai Rabu besok.

“Setelah itu kami tidak menerima lagi, tanpa mengurangi penghormatan kami terhadap warga Kaltim yang begitu bersemangat memberikan dukungan,” ujar Ketua Tim Pemenangan Isran-Hadi, Iswan Priady bersama Ketua Harian Huzainsyah Akma dan Muhammad Rozai sebagai sekretaris.

Dalam surat edarannya, Iswan menjelaskan, bahwa batas waktu penyerahan surat dukungan ditentukan hari Rabu, 29 Mei 2024 pada pukul 17.00 Wita. Yang berada di Samarinda bisa langsung ke Isran-Hadi Center, Jl Arif Rahman Hakim No 20.

Iswan atas nama Isran-Hadi menyampaikan penghargaan dan terima kasih karena surat dukungan yang masuk lebih 400 ribu. Jumlah itu di atas syarat pencalonan perseorangan.  “Terima kasih kepada semua warga Kaltim, semoga keinginan kita untuk memenangkan Pak Isran-Hadi diijabah oleh Allah SWT, Tuhan Yang Mahakuasa,” katanya.

Tim Pemenangan Isran-Hadi juga mengajak warga Kaltim terus memberikan dukungan kepada Isran-Hadi sampai waktu pencoblosan, 28 November mendatang. “Jadi komunikasi kita jangan putus,” kata Akma menambahkan.

Sejauh ini, partai-partai masih terus berproses untuk menentukan bakal calon gubernur Kaltim, yang nanti diberi  rekomendasi. Ketiga bakal calon itu adalah Isran Noor (IN), Haji Rudy Mas’ud (Harum) dan Mahyudin.

Pak Isran menyatakan optimis pada saatnya sejumlah partai memberikan dukungan kepada dia dan pasangannya Hadi Mulyadi. Saat ini yang sudah memastikan rekomendasinya kepada Isran-Hadi adalah Partai Demokrat.

Dua partai besar, PDIP dan Gerindra kabarnya cenderung memberikan rekomendasi kepada Isran. Menyusul partai-partai lainnya. Di sisi lain Harum dan Mahyudin juga terus berusaha melakukan hal yang sama.

Bagi Harum, jika dukungan partai lain terbatas, dia tetap bisa berangkat dengan perahu sendiri. Partai Golkar mengantongi 15 kursi di DPRD Kaltim, melebihi batas persyaratan sebanyak 11. Tentu yang harus berjuang keras adalah Mahyudin, yang saat ini tidak berpartai.

Wakil Ketua DPD RI ini mengakui perjuangannya untuk mendapatkan kursi partai tidak gampang. Dia  berada di antara “dua raja.” Raja Naga dan Raja Minyak. “Ya kita merendah saja,” katanya. Isran sendiri tetap menghargai upaya yang dilakukan calon lain. “Insyaallah perjuangan kita tetap membawa hasil yang terbaik,” katanya penuh semangat.(*)

« Previous PageNext Page »

  • vb