“Harumnya” Mobil HARUM

February 26, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

HEBOH mobil dinas baru Gubernur Kaltim Haji Rudy Mas’ud (HARUM) semakin “harum.” Di jagad media sosial terus menjadi trending topik. Soalnya mobil dinas baru itu dibeli dengan harga selangit. Dikerok dari duit APBD 2025 sebesar Rp8,5 miliar.

Ada yang membandingkan dengan mobil Maung Garuda yang dipergunakan Presiden Prabowo Subianto. Mobil buatan PT Pindad itu harganya Rp1,2 miliar, jadi 7 kali lipat lebih murah dari mobil Gubernur Kaltim.

Gubernur Kaltim ketika memberi penjelasan kepada wartawan di DPRD Kaltim

Lebih heboh lagi karena penjelasan Gubernur simpang siur dengan pejabat lain, selain juga tidak sejalan dengan kebijakan pengematan dan punya persepsi beda dengan rakyat soal menafsirkan harga diri Kaltim, yang disebutnya “Marwah Kaltim.”

Gubernur memberikan penjelasan resmi kepada wartawan soal mobil itu seusai dia menghadiri Rapat Paripurna Ke-3 DPRD Kaltim Masa Sidang 1 Tahun 2026, Senin (23/2).

Mengawali penjelasannya, Gubernur mengingatkan para wartawan yang mengerubutinya. “Kita sedang berpuasa, tolong jangan terlalu banyak ghibahnya, nanti dosanya berlipat ganda,” katanya sangat religius.

Ghibah adalah tindakan membicarakan keburukan, aib atau kekurangan orang lain. Hukumnya dalam Islam haram dan sama dengan memakan daging saudaranya yang sudah mati.

Apakah yang digunjingkan para awak media atau netizen soal mobil mahal gubernur masuk dalam kategori ghibah? Silahkan masing-masing kita membahasnya. Kalau perlu kita tanya ke Komisi Fatma MUI. Apalagi ini bulan puasa.

Seperti yang sudah beredar, Pemprov Kaltim dalam APBD 2025 menyisihkan anggaran Rp8,5 miliar untuk pembelian satu mobil pimpinan. Mobil pimpinan yang dimaksud adalah mobil dinas untuk gubernur. Lalu berbagai pihak mengkritisi. Umumnya tidak setuju karena dianggap terlalu mahal dan mewah serta tidak sejalan dengan prinsif penghematan.

Tidak jelas mobil merk apa yang dibeli? Tapi yang pasti berkekuatan 3.000 cc. Ada yang menduga jenis mobilnya adalah Ranger Rover 3.0 Autobiography LWB. HARUM mengatakan, sesuai Permendagri No 7 Tahun 2006, kendaraan kepala daerah untuk sedan kelas 3.000 cc dan jeep 4.000 cc. “Kita mengadakan yang 3.000 CC,” katanya.

Jenis mobil Ranger Rover 3.0 yang diduga dibeli Pemprov Kaltim dengan harga Rp8,5 miliar

Soal harga, HARUM mengatakan dia tidak terlalu mengikuti. ““Ada rupa ada harga. Ada mutu, ada kualitas. Tapi saya tidak terlalu mengikuti soal harga,” begitu katanya.

Gubernur mengungkapkan, sampai hari ini (maksudnya: Senin, 23/2/2026) Pemprov Kaltim belum menyediakan mobil dinas untuk gubernur bertugas di wilayah Kaltim. Mobil yang dipergunakan dia saat ini adalah mobil pribadi. Kondisinya sudah hancur. “Tapi tidak ada masalah demi masyarakat Kaltim,” katanya merendah.

Tidak disinggung ke mana mobil dinas gubernur yang dipakai gubernur sebelumnya. Tapi memang ada fenomena di kalangan kepala daerah, tidak terlalu nyaman menggunakan mobil kepala daerah sebelumnya. Dengan berbagai alasan, maunya diganti yang baru. Mulai soal gengsi sampai hal berbau mistis.

JAGA MARWAHNYA KALTIM

Menurut HARUM, mobil Pemprov Kaltim yang dimaksud adanya di Jakarta. Untuk menunjang kegiatan kepala daerah di sana. Kaltim adalah Ibu Kota Nusantara. Kaltim adalah miniatur Indonesia. Tamu dari Kaltim bukan hanya kepala daerah se Indonesia, tapi juga global. “Masa iya kepala daerah pakai mobil sekadarnya.  Jaga dong marwahnya Kaltim, marwahnya masyarakat Kaltim,” ujarnya beralasan.

Penjelasan Gubernur ini bertolak belakang dengan keterangan Sekdaprov Sri Wahyuni sebelumnya. Sebab dia mengatakan kepada wartawan, Gubernur membutuhkan kendaraan yang andal di segala medan karena ingin menerobos medan Kaltim yang berat.

Dia sempat menggambarkan ngototnya Gubernur HARUM dalam mengunjungi daerah Kaltim yang medannya berat. Salah satunya dia sebut daerah Sotek, Bongan. Sampai harus ganti mobil. “Jadi itu yang menjadi pertimbangan perlunya mobil yang mampu di segala medan,” tegasnya.

Gara-gara penjelasan ini Sri Wahyuni di-bully netizen. “Sekdaprov itu orangnya cerdas. Tapi karena harus menjelaskan kebijakan yang tidak cerdas dari pimpinan, jadi penjelasannya tidak cerdas,” komentar Irwan Pecho, mantan anggota DPRI dapil Kaltim dari Partai Demokrat.

Hal yang tidak sinkron juga dari penjelasan Ketua DPRD Kaltim Hasanuddin Mas’ud (HAMAS), yang juga kakak kandung HARUM.

Menurut HAMAS, pengadaan mobil dinas gubernur itu sudah melalui berbagai proses. Mulai analisis standar belanjanya, APIP dan BPK juga turun sampai penggunaan e-katalog.

“Tapi mobilnya ditaruh Jakarta Pak,” sela wartawan.

“Pakai di sinilah (di Kaltim),” jawab HAMAS.

“Tapi keterangan beliau untuk menjemput tamu di Jakarta,” kata wartawan lagi.

“Wah saya ngga tahu. Tapi kalau menjemput tamu, harusnya memang ada. Masa kalah dengan yang lain. Masa sewa,” jelasnya lagi.

Banyak yang meragukan alasan menjemput tamu IKN. Sebab urusan IKN adalah urusan pemerintah pusat. Tapi yang lebih kena, HARUM memang membutuhkan mobil yang berkelas wah di Jakarta. Sebab dia selain Gubernur Kaltim, juga dipercaya menjadi Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI). Jadi sering bertemu dengan pejabat pusat termasuk Presiden. Jadi dia terkesan memang butuh kendaraan yang menurutnya untuk menjaga “Marwah Kaltim.”

Soal marwah atau muru’ah itu, HARUM juga diserang warganet. Bang Eka di Instagram bilang, bagi seorang pemimpin Islam, marwah itu tidak dilihat dari penampilan. Dia menunjuk teladan yang diberikan Rasulullah atau sahabat Nabi, Umar bin Chatab. Dalam sejarah kepemimpinan mereka, wibawa atau marwah mereka lahir dari keadilan dan keberpihakan bukan dari penampilan.

Bang Eka mengingatkan, Kaltim yang kaya dengan sumber daya alamnya, penyangga IKN, tapi realitanya masih ada jalan kabupaten rusak bertahun-tahun, masih ada desa blank spot, ada sekolah minim fasilitas, masih ada kasus stunting,  dan kemiskinan di beberapa wilayah pedalaman. Lalu distribusi pendapatan belum merata. “Dengan kondisi seperti itu, malulah kita menuntut fasilitas yang maksimal,” tegasnya.

Hal yang sama juga diserang @zainoelariefin. Dia sempat menyebut “pembohong,” karena rancunya penjelasan. “Kalau mau angkat marwah Kaltim, buktikan dulu janji pendidikan gratisnya, buktikan dulu jalan rusak dibaikin, bukan beli mobil Rp8,5 miliar. Ini cacat berpikir,” tukasnya.

Belum lagi  selesai urusan mobil mahal Gubernur HARUM, terdengar lagi DPRD Kaltim dalam tahun anggaran 2026 juga menguras dana APBD Rp6,8 miliar untuk membeli kendaraan dinas. Kalau itu betul, maka sempurnalah sudah kelakuan yang tidak merakyat ini.

Jika HARUM masih ingin namanya tetap benar-benar harum, maka segeralah meminta maaf kepada rakyat. Kalau pembelian mobilnya masih bisa dibatalkan, lebih baik dibatalkan saja. Orang tahu HARUM punya kekayaan besar. Hebat dan harum jika mau mewakafkan dana pribadinya untuk membeli mobil operasional sendiri dalam menjalankan tugas kepala daerah. Itu amanah yang sempurna dan besar pahalanya.

“Kepada seluruh masyarakat Kaltim, mohon doa agar kita dikuatkan dalam menjaga amanah,” kata HARUM menutup penjelasan kepada wartawan. Dengan ikhlas saya ikut mengaminkan. Aamiiin.(*)

Berpulangnya Kiai Hafal Umur

February 24, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

SAYA menerima kabar du

Kiai Kasim Pallanju ketika menjadi khatib

KH Mohammad Kasim Pallanju, Minggu (22/2) atau 4 Ramadhan 1447 H sekitar pukul 18.30 Wita. Jenazah di semayamkan di rumah duka, Kompleks Perumnas Batu Ampar. Jenazah dimakamkan di Pemakaman Telindung, Senin (23/2) ba’da dzuhur.

Tidak disebutkan latar belakang kematiannya. Tapi setahu saya belakangan ini beliau jarang keluar karena kondisi kesehatannya semakin berat. Termasuk istri beliau, Hj Maisyah Kasim. Pertemuan terahkhir saya ketika menghadiri undangan pernikahan atau Walimatul ‘Ursy di Gedung Kesenian beberapa waktu lalu.

“Pak Wali ya,” katanya menyapa saya dengan tersenyum. Dia masih memanggil saya seperti saat saya menjadi wali kota. Hubungan kami terbilang akrab. Saya banyak berkomunikasi dan menerima masukan dari beliau ketika saya menjadi wali kota.

Beberapa hari sebelum Kiai Kasim meninggal, Ustaz Jailani, Munir Asnawi, Ustaz Ali Mansyur dan teman-teman lainnya datang menjenguk sepulang dari acara Gong Xi Fa Cai di kediaman Pak Charles, pemilik Hotel Platinum. Seakan memberi isyarat, beliau minta didoakan agar meninggal dalam keadaan husnul khotimah.

Menurut penuturan H Ali Munsjir Halim, mantan anggota DPRD yang juga keluarga almarhum, kondisi Kiai Kasim hari Minggu itu memang mengkhawatirkan. Hari itu beliau membatalkan syiamnya. Padahal sebelumnya terus berpuasa. Beberapa saat setelah memasuki magrib, beliau menghebuskan nafas terakhirnya.

Duka menyelimuti keluarga. Seorang cucunya tampak terbaring di sisi jenazah. Saya sempat melayat. Lalu ikut berdoa bersama Kepala KUA Balikpapan Selatan H Sandjoyo, S.Pdi dan Murtafiin, S.Ag, Kepala KUA Balikpapan Barat.

Di sana saya sempat bertemu Pak Kasmadi, Ketua RT setempat, yang baru saja viral gara-gara protes jalan. Ada juga Ketua FKUB  Balikpapan Drs H Hakimin, MM, yang juga mantan Kamenag. Ada juga Ustaz Sugianto, Ustaz Jaelani dan Kadis Perdagangan Haemusri.

Jenazah KH Kasim Pallanju dimakamkan di Kompleks Pekuburan Telindung. Sebelumnya ratusan pentakziah menyolatkannya di Masjid  Al Azhar Perumnas ba’da dzuhur. “Beliau orang baik, insyaallah husnul khotimah,” kata seorang warga.

PERNAH KETUA DPRD

KH Kasim Pallaju adalah salah seorang tokoh ulama di Balikpapan, yang banyak berkiprah untuk daerah. Sarat dengan pengalaman. Dia sempat meniti karier sebagai Kepala Pembinaan Mental (Kabintal) Kodam VI/Mulawarman dengan pangkat terakhir letnan kolonel (Letkol).

Karena pengalamannya yang luas, dia dipercaya Kodam memegang jabatan politik. Sempat menjadi Ketua DPRD Kabupaten Pasir (sebelum jadi Paser), Ketua DPRD Kabupaten Kutai sampai Ketua DPRD Kabupatan Bulungan, ketika masih bergabung ke Provinsi Kaltim.

Teman seangkatannya mengakui Kiai Kasim punya wawasan dan pandangan yang luas. Dia sukses memimpin DPRD, sehingga dipercaya berkali-kali dengan jabatan tersebut.

Di Balikpapan, Kiai Kasim aktif dikegiatan keagaaman. Pernah aktif menjadi pengurus Forum Kerukunan Umat Bergama (FKUB) dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Balikpapan.

Menurut Ustaz Jaelani, Kiai Kasim Pallanju dikenal sebagai kiai yang tegas dan punya disiplin kuat. Mungkin bawaan beliau ketika masih aktif sebagai seorang tentara. Setiap pertemuan beliau selalu datang lebih dulu. Kalau ada anggota pengurus yang terlambat, dia tak segan-segan memberi teguran.

Sebagai Ketua MUI, Kiai Kasim  selalu berprinsif dengan Fatwa MUI dalam mengambil keputusan. Ingatannya sangat kuat dalam berbagai hal yang menyangkut masalah keagamaan. Dia juga sangat menjunjung tinggi toleransi beragama. Akrab dengan tokoh-tokoh agama lain di antaranya Pak Charles, Pak Samuel dan lainnya.

Banyak kenangan yang diingat Ustaz Jaelani bersama Kiai Kasim. Jaelani mantan Kamenag Berau yang lama bertugas di Balikpapan. Dia dikenal sebagai tokoh agama yang aktif di berbagai organisasi keagamaan. Ada satu kebahagiaan yang dialami Kiai Kasim ketika mengikuti Rakor MUI se Kalimantan. Kiai Kasim mendapat hadiah umrah gratis.

Yang menarik Kiai Kasim sangat hafal menyebut umur beliau, tidak saja tahunnya, tapi juga dengan hitungan bulan, hari dan jam. Itu diucapkannya setiap ketemu kerabat termasuk dengan saya. ”Umur saya saat ini: 83 tahun, 12 hari, 7 jam, 30 menit,” begitu pernah dia ucapkan.

Unik juga. Terkadang saya tersenyum mendengar ucapan beliau soal umur. Tapi setelah saya renungi, ada makna yang mendalam di balik ucapan itu. Sepertinya beliau mengingatkan kepada kita bahwa umur yang bertambah adalah isyarat bahwa pada saatnya kita akan dipanggil Allah Subhanahu Wa Ta’la. Sebab, setiap mahluk hidup pada saatnya akan menerima kematian. “Kullu nafsin dzaiqotul maut,” begitu Kiai Kasim sering mengutip ayat Al-Qur’an ini.

Kiai Kasim termasuk ulama berumur panjang. Dia meninggal dalam usia 89 tahun. Beliau dilahirkan di Maroangin, Sulsel pada 5 September 1937. Delapan tahun sebelum Kemerdekaan. Jadi hafal betul dengan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia termasuk yang di Sulawesi Selatan. Selamat jalan Kiai Kasim, insyaallah dilapangkan kuburnya.(*)

Mengapa Meminta Maaf ?

February 22, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Ramadhan Hendry Ch Bangun

Beberapa hari sebelum masuk bulan Ramadhan, di grup WA atau di ponsel kita, penuh dengan permintaan maaf, mohon dimaafkan bila memiliki kesalahan disengaja atau tidak sengaja, berupa kata-kata ataupun tindakan. Konon, agar ketika menjalankan ibadah sebulan penuh ini tidak ada lagi ganjalan di hati sehingga ibadahnya lancar dan diterima Allah Subhana wa taala.

Hendry Ch. Bangun

Fenomena ini sudah berlangsung lama, tidak tahu persis kapan dimulai, tetapi agaknya ketika telpon seluler menjadi milik semua, bukan lagi barang ekslusif seperti era Motorolla yang dimiliki hanya segelintir orang kaya. Ketika ponsel semakin cerdas tidak lagi hanya kata atau kalimat, ada gambar, ikon, meme, simbol, meramaikan ucapan itu.

Menurut ahli, meminta maaf atau menerima maaf mengurangi stress dan kecemasan, membuat lega dan seperti lepas dari himpitan perasaan bersalah, serta meningkatkan kesehatan mental. Dan apabila dilakukan secara personal, tatap muka, dapat mengembalikan kualitas hubungan interpersonal. Tercipta saling menghargai dan bisa jadi hubungan yang tadinya buruk kembali membaik, menjadi teman baru lagi, dan ada manfaat bagi keduanya ke depan.

(Meski dalam ilmu manajemen diingatkan, orang yang bertindak buruk kepadamu, jangan lagi dijadikan teman, jangan dipercaya, karena sewaktu-waktu, entah kapan, dia kembali akan menyakitimu. Itulah sifat manusia. Oleh karena itu, forget it. Coret dari daftar kontak).

Tetapi di bulan baik ini, meminta maaf tentu perbuatan mulia. Bahkan menurut salah satu hadis, orang yang mau memaafkan orang yang berbuat salah, berbuat dosa kepadanya, akan dibangunkan istana dari emas di surga. Memberi maaf bukan merendahkan diri, justru dikatakan bakal mengangkat derajat seseorang. Dan pemaaf adalah satu ciri orang bertaqwa, sesuatu yang ingin dimiliki oleh setiap manusia.

Dan kalau bicara soal pahala, khsususnyadi Ramadhan ini, pastilah akan berlipat ganda karena dia seperti membuat dosa antarmanusia, seorang dengan seseorang, sudah hilang. Tentu kita semua tahu, Allah itu Maha Pemaaf (Al Afuww), Maha Pengampun (Al Ghaffar), apabila ada kesalahan kepadaNya, kalau kita meminta, pasti dimaafkan dan dosa kita diampuni. Sebesar apapun itu, bahkan sebanyak buih di samudera.

Tetapi dosa sesama manusia itu, hanya bisa dihapus kalau orang yang disakiti mau memberi maaf. Kalau tidak mau, tidak sempat, maka itu urusannya di akhirat sana. Maka dikatakan ada orang yang sepertinya amalnya sedikit, tetapi ketika dihisab nanti, hartanya di sana seperti emas sebesar gunung. Sebab semasa hidup di bumi, dia selalu dibully, dianiaya, digossipi, dipandang rendah, dan itu semua menjadi pahala baginya. Yang otomatis mengurangi pahala para pelaku, pembully, penganiaya, pemfitnah, sadar atau tidak sadar. Di sinilah sebenarnya, tradisi saling memaafkan, apalagi dilakukan secara fisik, menjadi sangat krusial kita lakukan. Kalau via WA, atau Instagram, Telegram, apalagi kalau bersifat generik, ya kadarnya sedikit. Itupun kalau diterima. *
Saya ingat suatu ketika KH Aqil Siradj diundang ke PWI Pusat diinisiasi Ilham Bintang, Dewan Kehormatan PWI, untuk mendapatkan masukan ahli agama itu tentang profesi wartawan. Waktu itu PWI satu-satunya organisasi wartawan yang mengakui bahwa pekerja media entertainmen sebagai wartawan. Yang lain masih menganggap bukan, karena pekerjaannya hanya menulis hal-hal tidak penting, tidak terkait dengan kepentingan publik, ecek-ecek.
Dalam kesempatan tersebut tokoh NU itu ditanya soal berita tentang artis, penyanyi, pesohor, yang kadang bersifat hura-hura, isyu perselingkuhan, perceraian, gossip rumah tangga dan sejenisnya.
“Berita seperti itu ghibah. Dan ghibah itu dosa,” katanya tegas.
“Kalau itu fakta, Pak Kyai ?”
“Fakta ya dosa. Apalagi kalau belum tentu kebenarannya. Membicarakan seseorang itu berdosa walaupun itu benar.”
Akhirnya hadirin mati kutu. Maksud hati ingin justifikasi pemberitaan entertainmen sebagai produk jurnalistik yang standar, menjadi goyah. Tapi setidaknya wartawan yang hadir, umumnya pengurus, sudah mendapatkan kepastian dari sisi hukum agama.
Apakah lalu media entertainmen surut? Ya tidak. Masalahnya fulus. Sudah banyak yang untung milyaran rupiah per bulan pada waktu itu, ya tentu saja apa yang disampaikan KH Aqil Siradj hanya dianggap masukan untuk dipikirkan. Keputusan tetap di tangan manajemen. Soal dosa itu urusan nanti. Dunia dulu Boss, mungkin begitu pikir si pemilik media.
Ya kalau dipikir-pikir, artis-artis, pemain sinetron, para penyanyi, yang diberitakan tentang hal yang benar, apalagi yang belum pasti sesuai fakta, mendapat pahala bertumpuk di akhirat nanti dari karya jurnalistik media entertainmen. Apakah pernah ada permintaan maaf secara individu dari pekerja pers, awak media kepada mereka, rasanya sih tidak. Mudah-mudahan ada dan juga mudah-mudahan sadar untuk minta maaf mumpung bulan baik dan masih ada nafas.
Bagaimana pula dengan media yang dalam pemberitaannya banyak memberikan label negatif, menghakimi tanpa konfirmasi, mengambil untung dari rasa takut narasumber, bahkan dengan sengaja melakukan fitnah tanpa dasar? Kalau ini jelas. Dari sisi Kode Etik Jurnalistik (KEJ) saja sudah melanggar pasal-pasal tertentu dan ada sanksinya. Termasuk kewajiban minta maaf apabila tidak akurat, ada itikad buruk. Maaf di sini sebagai upaya menyenangkan hati, menyembuhkan luka dari orang tersakiti oleh berita, sekaligus menunjukkan kualitas, kedewasaan, harkat dan martabat media, yang memberitakan.
Tetapi apakah kalau medianya sudah meminta maaf berarti “dosa” maka si wartawan yang menulis, atau editor yang “meloloskan” bahkan mungkin “mengarahkan” berita insinuatif, bohong, tidak akurat, sudah hilang? Itu urusan Yang Di Atas.
Kalau mekanisme kerja, proses jurnalistik, sudah jelas. Karya jurnalistik adalah satu produk hasil mata rantai panjang, mulai dari perencanaan, pengumpulan fakta dan data di lapangan, proses penulisan, proses editing, dan akhirnya persetujuan diberitakan atau disiarkan. Setiap titik itu ada peran. Semua terlibat, meski penanggungjawab akhir ada di tangan pengambil keputusan bahwa berita layak ditayangkan. *
Dalam banyak hal harus diakui kualitas media dan wartawan kita secara umum masih terdapat kualitas yang njomplang. Ada yang mutunya bisa disamakan dengan media-media di negara maju seperti AS, Eropa, Jepang, yang jelas proses rekruitmen, jelas pelatihan rutin, jelas proses pematangan dengan liputan-liputan bertahap, dst. Ada yang sama sekali tidak bermutu, main tunjuk seseorang menjadi wartawan, tidak dibekali pemahaman KEJ, tidak dilatih, tidak diberi pengarahan. Langsung terjun ke lapangan. Cakupannya dari A sampai Z.
Dengan kondisi seperti ini, pemahaman tentang tanggungjawab moral dan etika ya bervariasi juga. Ada yang peka terhadap nama baik, privasi individu, dan menahan diri untuk menerobos wilayah pribadi meskipun mungkin orang yang akan jadi narasumber itu pejabat atau memiliki tugas berurusan dengan publik. Ada yang terpaksa menabrak batas karena kewajiban kantor untuk melengkapi berita yang akan disiarkan, atau minimal memberi ruang konfirmasi. Ada yang tidak peduli karena bagi mereka, berita harus menjadi viral, banyak klik, lebih penting.
Ada media yang sudah jelas mengambil posisi tertentu sehingga mau benar atau salah maka sosok tertentu selalu dicari sisi negatifnya. Ada yang karena unsur tertentu sebaliknya mengambil sisi positif dan sepihak atas kegiatan-kegiatan sosok atau kelompok itu. Nilai berita menjadi nisbi disesuaikan dengan kepentingan.
Maka media bisa menjadi pembawa kabar baik, berita menyenangkan, memberi gairah, memberi inspirasi, dan semangat. Ada yang membuat sakit kepala, meningkatkan emosi, sampai ke proses hukum karena dianggap sudah merusak nama baik. Ini tidak lepas dari visi misi media, ketika didirikan, ataupun menyesuaikan diri dengan kondisi sosial politik dan pendapatan.
Sambil menunggu berbuka puasa, yang dianjurkan berzikir dan membaca doa, sebagai orang yang menyebut dirinya wartawan, bagus juga kita melihat ulang ke belakang. Masih adakah kesalahan, kelalaian, yang telah membuat orang sakit hati, entah itu narasumber, masyarakat, rekan kerja, rekan satu organisasi, yang belum kita mintakan maafnya? Mari tanyakan ke hati nurani.
Itupun kalau dianggap perlu. Semua terserah Anda. Wallahu a’lam bishawab.
Ciputat 22 Februari 2026.

Dari Kota Batulicin

February 22, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

SAYA belum pernah ke Batulicin. Itu ibu kota Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Lewat jalan darat ditempuh 8 sampai 10 jam dari Balikpapan. Kalau dari Banjarbaru jaraknya 219 km. Ditempuh sekitar 5 jam. Jauh juga.

Nama Batulicin City di waktu malam. Tampak sangat indah dengan aneka warna lampu

Nama Batulicin dan Tanah Bumbu memang menarik. Konon penamaan Batulicin karena di sana banyak ditemukan batu-batuan yang halus dan licin di sepanjang sungai. Sedang Tanah Bumbu bukan berarti di sana banyak bumbu. Tapi berasal dari wilayah Kerajaan Tanah Bumbu pada abad ke-17. Nama ini merujuk pada wilayah pusat pemerintahan kerajaan yang berada di sekitar Sungai Bumbu.

Usia Kabupaten Tanah Bumbu baru 23 tahun. Berdasarkan UU Nomor 2 Tahun 2003, berdiri pada tanggal  27 Januari 2003 sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Kotabaru. Penduduknya pada 2024 sekitar 360 ribu jiwa dengan luas wilayah 5.066,96 kilometer persegi. Khusus Batulicin dihuni sekitar 21.114 jiwa dengan luas wilayah 163 kilometer persegi.

Belakangan nama Batulicin makin viral, lantaran di sini “markasnya” orang paling kaya Kalimantan yaitu Haji Isam, sang “raja batubara dan sawit.” Siapa yang tak kenal dengan haji yang satu ini. Apalagi dia sekarang dekat dengan Presiden Prabowo Subianto. Nama aslinya adalah H Andi Samsudin. Bukan asli Kalsel, tapi  darahnya dari Sulsel.

Rumah atau istana Haji Isam di Batulicin sangat mewah dan luas. Bayangkan, mencapai 20 hektare. Maklum di situ ada lintasan offroad, yang memang menjadi hobi sang crazy rich. Jalan menuju rumahnya jalan khusus dan diberi nama Jalan Haji Isam.

Tapi saya datang ke Batulicin, pekan lalu bukan ingin menemui Haji Isam. Tapi saya memenuhi undangan Sayed Jafar Alaydrus (SJA), mantan Bupati Kotabaru yang sekarang menjadi Ketua DPD Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Kalsel. Saya berangkat dengan Pak Alinur, lalu bergabung dengan aktor legenda Roy Marten yang terbang dari Jakarta. Roy ditemani Ali Imron juga kembali diundang SJA.

Kami datang untuk mendukung SJA yang lagi menebar “virus” Hanura agar mampu berjaya dan menang pada Pemilu 2029 nanti. Sengaja bendera start dia mulai kibarkan di dua kabupaten yaitu Batulicin dan Kotabaru, karena itu wilayah “kekuasan” dan tanah kelahirannya.

SJA dan istri, Roy Marten, Sekretaris Hanura Syarifah Santiyansah serta Ketua Hanura Kotabaru Sayed Sultan Yasin Alaydrus berfoto bersama anak yatim setelah pemberian santunan

Pengibaran bendera start Hanura itu ditandai dengan pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Hanura Batulicin dan Kotabaru. Ketua DPC Batulicin adalah Suaidi dengan sekretaris Wisda Dewai dan bendahara H Iwan. Sedang Ketua DPC Kotabaru dipercayakan kepada Sayed Sultan Yasin Alaydrus, BM, yang tak lain putra kandung SJA. Sayed Sultan didampingi sekretaris Suriyah, SE.

“Kita sengaja memulai mengibarkan bendera Hanura dari dua kota ini, karena di wilayah ini akan menjadi basis perjuangan dan kekuatan Hanura Kalsel,” kata SJA penuh semangat.

Menurut Sayed Jafar, dia lahir di Batulicin. Lalu pada usia 8 tahun hijrah ke Kampung Baru Balikpapan. Sukses berusaha di perminyakan, dia mengembangkan usahanya di kampung halaman sampai terjun ke politik. Alhamdulillah, dia sukses menjadi Bupati Kotabaru selama dua periode, 2016 sampai 2025.

Acara pelantikan DPC Batulicin berlangsung meriah di kediaman pribadi Sekretaris Hanura Kalsel, Hj Syarifah Santiyansyah, SH, M.Si di Jl Cappa Padang. Rumahnya megah dan luas berwarna putih. Seperti Gedung Putih. Hj Syarifah Santiyansyah adalah adik kandung SJA, yang akrab dipanggil Bunda atau Puang Neni dan pernah menjadi anggota DPRD Kalsel dari Partai Golkar.

Sebelum menuju Kotabaru, Sayed Jafar menyempatkan ziarah ke makam orangtua. Juga ziarah ke makam leluhur di Komplek Kuburan Raja Batulicin. “Saya baru tahu kalau Pak Sayed Jafar ada garis keturunan dengan kerabat Raja Batulicin,” kata Alinur, yang setia mendampingi SJA.

SAYED SULTAN SIAP

Sementara pelantikan Sayed Sultan Yasin berlangsung tak kalah meriah di gedung milik SJA sendiri, Gedung SJA 309 Hilir Muara, yang masuk di wilayah Kecamatan Pulau Laut Sigam, Kotabaru. Gedungnya megah di tepi pantai. Tersedia beberapa fasilitas ruang rapat dan kamar yang representatif.

SJA didampingi Roy Marten disambut tarian adat Kotabaru. Roy tampak terpukau ketika dikalungi untaian kembang dan selendang. Dia mengaku baru pertama kali ke Kotabaru. Selama ini dia hanya mengenal lewat lagu dan film Saranjana.

Setelah dilantik dan menerima bendera Hanura, Sayed Sultan Yasin mengatakan, dia bersama pengurus baru lainnya sudah siap bahu membahu untuk berjuang memenangkan Partai Hanura di seluruh wilayah Kabupaten Kotabaru, yang memiliki 15 kecamatan dan 245 desa.

Sejalan dengan keinginan DPD, dalam pembentukan PAC di tingkat kecamatan, dia memberi kesempatan generasi muda untuk berkiprah lebih banyak. “Nanti kita kolaborasikan dengan pengalaman para senior agar tercipta kekuatan yang solid untuk membesarkan partai,” tandas Sayed Sultan.

SJA berharap DPC Hanura Kotabaru menjadi role model kebangkitan partai Hanura di Benua,  setelah dua periode absen. “Ini momen kebangkitan kejayaan Partai Hanura di Kalsel. Apalagi ketua umum DPP Hanura juga orang Kalimantan yaitu Pak Oesman Sapta Odang (OSO),” jelasnya.

Menurut SJA, dia akan ngebut untuk pembentukan dan pelantikan pengurus baru di Tingkat kabupaten/kota.  “Ini baru dua dari 13 kabupaten/kota di Kalsel yang dilantik. Tekad kita tiga bulan ke depan, sudah selesai pengukuhan di semua daerah,” jelasnya.

Selama berada di Batulicin dan Kota Baru, saya dan Roy Marten dijamu SJA dengan berbagai kuliner andalan urang Banjar terutama soto Banjar. Roy sendiri banyak didaulat ibu-ibu agar bisa foto selfie. Sebelum pulang, dia masih sempat ikut senam bersama Hanura di Kotabaru. “Kalau begini hebatnya antusias masyarakat, saya optimistis Hanura di Kalsel  benar-benar bangkit,” katanya memuji.(*)

Jumatan Pertama di IKN

February 21, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

ALHAMDULILLAH, niat saya salat di Masjid Nusantara IKN terkabul. Saya ikut Jumatan kemarin. Dari Balikpapan, saya datang bersama Pak Ir Adam Sinte, mantan anggota DPRD Kaltim yang juga Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Balikpapan. Ikut juga anggota KKSS lainnya, Pak Makkulau dan Pak Tonny.

“Alhamdulillah ini sejarah dan berkah, karena kita bisa ikut Jumatan pertama di Masjid IKN. Apalagi pada bulan Ramadan yang penuh berkah, semoga kelak pintu surga terbuka untuk kita,” kata Pak Adam bersemangat.

Yang istimewa bertindak sebagai khatib adalah Menteri Agama Prof Dr KH Nasaruddin Umar, MA. Saat ini beliau juga dipercaya menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta. Masjid Istiqlal adalah Masjid Negara, yang pada 2028 nanti statusnya akan beralih ke Masjid Nusantara.

Suasana Masjid Negara IKN di waktu malam. Sangat menakjubkan

Mungkin sebagai transisi, bertindak sebagai imam dan muazin utama di Masjid Nusantara kemarin juga diboyong langsung dari Istiqlal. Imamnya, Ustaz H Martomo Malaing, S.Th.I, MA dan muazin Ustaz  Muhammad Rasky Raehan.

Menag bermalam di IKN. Karena itu, melanjutkan buka puasa, salat magrib, isya dan tarawih. Lalu ditutup dengan salah subuh. Suasananya sangat semarak. Ribuan jamaah datang. Para pekerja dan staf Otorita IKN mengaku sangat terkesan karena mereka orang pertama berbuka puasa di Masjid Nusantara.

Tata cara ibadah di Masjid Nusantara memang persis sama dengan Istiqlal. Ada muazin yang mengulangi ucapan “komando” atau takbir imam. Tak ada kotak amal. Tapi tiap saf diedarkan stiker barcode QRIS untuk jamaah yang ingin berinfaq.

Ini yang kedua kali Menag ke Masjid Nusantara. Dalam kunjungan pertamanya ke IKN, Minggu, 11 Januari lalu, dia juga menjadi imam salat subuh pertama di masjid tersebut. Kunjungan itu dalam rangka mengecek kesiapan Masjid Nusantara yang akan berfungsi pada bulan Ramadan ini.

Sesuai dengan rencana, Masjid Nusantara akhirnya sudah bisa menggelar salat tarawih sejak Rabu malam. Jamaahnya membludak ribuan orang. Tidak saja dari staf Otorita IKN dan pekerja proyek, tapi juga masyarakat di sekitar IKN, PPU, Samarinda dan Balikpapan.

Pak Adam, Pak Makkalau, saya dan Pak Tony di depan nama Masjid Negara IKN

Insyaallah Masjid Nusantara juga akan menggelar salat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah. Tentu ini salat Id pertama yang sangat bersejarah. Tadinya rencana ini akan dilaksanakan tahun lalu pada Idul Fitri 1446 Hijriah, tapi ternyata kondisi masjid belum siap karena pelaksanaan proyek baru mencapai 53,1 persen.

Sebelum pelaksanaan salat tarawih pertama, kegiatan di Masjid Nusantara juga ditandai dengan peristiwa menarik. Yaitu untuk pertama kalinya ditetapkan secara resmi masuk dalam daftar titik pemantauan hilal (rukyatul hilal) nasional guna menetukan 1 Ramadan 1447 Hijriah.

Kepala Otorita IKN mengaku bahagia Masjid Nusantara sudah berfungsi. “Ini momen amat bersejarah, karena IKN sudah bisa memainkan perannya  sebagai Ibu Kota Negara dalam kegiatan keagamaan tingkat nasional,”  ujarnya.

Ke depan, lanjutnya, peran IKN sebagai episentrum kegiataan keagamaan akan dipusatkan pada Masjid Nusantara. “Masjid ini akan menjadi mercusuar toleransi keagamaan,” kata Nasaruddin.

Menag dalam khotbahnya banyak meyinggung peran masjid. Dikatakannya, fungsi utama masjid untuk bersujud kepada Allah. Tapi Nabi Muhammad juga mengajarkan kepada umatnya, masjid menjalankan berbagai fungsi dalam membangun peradaban. Tempat belajar, tempat bertemu, tempat bersosialisasi bahkan juga terbuka untuk umat lainnya.

Bersamaan dengan pembangunan Masjid Nusantara, Pemerintah juga membangun Gereja Katolik Basilika Nusantara Santo Fransiskus Xaverius, yang berdiri sebagai  reprensentasi pluralisme. Lokasi Basilika persis berseberangan dengan Masjid Nusantara, seperti pada Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral.

Kementerian Agama menargetkan Basilika Nusantara yang berkapasitas 1.300 jemaat, dapat berfungsi pada Mei 2026.

Momentum ini dipersiapkan secara khusus untuk menyambut Sidang Tahunan  Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), sebuah ajang prestisius yang akan mempertemukan seluruh uskup se Indonesia di ibu kota baru tersebut.

SEJAK NOVEMBER 2023

Masjid Nusantara IKN mulai dikerjakan sejak November 2023. Dua bulan kemudian atau tepatnya pada 18 Januari 2024 dilakukan ground breaking oleh Presiden Jokowi.

Masjid IKN dibangun di atas lahan 32.125 meter persegi. Luas bangunan masjid dan plaza mencapai  60.173 meter persegi serta minaret seluas 427 meter persegi.

Tadinya masjid diproyeksi dengan kapasitas 29 ribu jamaah. Tapi kurator IKN Ridwan Kamil, mantan gubernur Jabar minta diperbesar lagi. Usul tersebut dipenuhi Presiden Jokwi, sehingga  daya tampung Masjid Nusantara menjadi 60 ribu orang. Masih kalah besar dibanding daya tampung Masjid Istiqlal yang mencapai 120 ribu jamaah.

Masjid Nusantara memang menarik dan unik. Dirancang oleh seniman besar non muslim  dari Bali, I Nyoman Nuarta. Dia juga yang merancang Istana Garuda Nusantara. Sedang Detail Engineering Design (DED) disempurnakan oleh Alien Desaign Consultant.

Kubahnya didesain dengan mengambil konsep lipatan sorban,  yang melambangkan kesucian dan hubungan manusia dengan Tuhan serta pusaran tawaf. Bentuk minaretnya atau menara masjid menghadirkan putaran semesta meliuk ke atas menyimbolkan keilahian. Tingginya 99 meter melambangkan asmaul husna.

Semua ini dibangun dengan dana APBN sebesar Rp940 miliar. Mendekati  1 triliun. Hampir sama dengan biaya pembangunan masjid pribadi milik Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Makassar.

Masjid Nusantara dikerjakan oleh BUMN PT Adi Karya dan PT Hutama Karya KSO sejak November 2023 dengan masa waktu pelaksanaan 400 hari kerja.

Lokasi Masjid Nusantara berada di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN, tak jauh dari Istana Negara. Di sekitar masjid masih banyak tanaman kelapa sawit. Arsitektur lanskap-nya belum selesai. Karena itu masih terasa gersang.

Saya dengan Pak Adam, Pak Makullau dan Pak Tony benar-benar bahagia bisa salat Jumat pertama di Masjid Negara IKN. Kami sengaja mengambil saf tak jauh dari mimbar khatif. Biar bisa melihat dan menikmati Menag menyampikan khotbahnya. Teduh dan tak panjang. Tak ada rasa ngantuk sekalipun. Setan sepertinya tak berani mengusik kami yang penuh kekhusuan. Maha besar Allah dengan segala firmanNya.(*)

« Previous PageNext Page »

  • vb