Menjadi Perempuan Perantau di Samarinda

February 5, 2026 by  
Filed under Opini

Samarinda – Intan namanya. Datang ke Samarinda pada 2023, membawa ransel berisi pakaian, harapan, dan keberanian yang belum sepenuhnya matang. Saat itu, ia tidak sendiri. Ada lima teman yang berjalan bersamanya. Mereka datang sebagai bagian dari program santri jurnalis dari pesantren. Mereka sama-sama belajar membaca kota baru, memahami ritme kehidupan yang berbeda, dan menata mimpi masing-masing.

Kini 2026. Waktu pelan-pelan mengerjakan tugasnya. Mereka tidak lagi berada di jalur yang sama. Satu per satu memilih kantor, jalan, dan kehidupan yang berbeda. Intan pun berdiri sendiri di kota ini, dengan orang-orang baru, lingkungan baru, dan versi diriku yang terus bertumbuh.

Secara profesi, aku adalah jurnalis. Tapi hidup, seperti biasa, tidak pernah mau hanya satu warna. Intan juga banyak bergelut sebagai content creative. Sebelumnya, Intan bahkan sempat menjadi podcaster. Peran-peran itu datang silih berganti, kadang bersamaan, kadang saling tumpang tindih. Samarinda memberiku ruang untuk mencoba, gagal, belajar, lalu mencoba lagi. Kota ini tidak menuntutnya menjadi seseorang yang sudah selesai, ia membiarkanku bertumbuh apa adanya.

Pelan-pelan, Samarinda berubah status. Dari kota tujuan kerja, menjadi rumah kedua. Rumah setelah Bogor tempat ia dilahirkan. Sebelum Samarinda, Intan juga pernah lama tinggal di Tasikmalaya karena mondok di sana. Setiap kota meninggalkan jejaknya sendiri dalam hidupku. Bogor mengajarkan tentang pulang, Tasikmalaya tentang disiplin dan ketahanan, sementara Samarinda mengajarkanku tentang bertahan sendirian.

Menjadi perempuan perantau di Samarinda adalah pengalaman yang memperluas banyak hal, sudut pandang, keberanian, dan batas zona nyaman. Intan belajar beradaptasi dengan budaya baru, ritme kerja yang cepat, dan tuntutan hidup mandiri. Ia belajar membuat keputusan tanpa bisa selalu bertanya. Belajar kuat, bahkan ketika tidak sedang ingin terlihat kuat.

Ada banyak hal menarik yang kutemui di sini. Orang-orang dengan latar belakang berbeda, cerita-cerita yang tidak akan kutemukan jika aku memilih tinggal di rumah. Samarinda memberiku “koleksi cerita” yang kelak akan menjadi kenangan masa muda tentang kerja keras, tentang bertahan, tentang mimpi yang dikejar tanpa peta pasti.

Namun, merantau tidak pernah sepenuhnya romantis. Ada bagian sunyi yang sering tidak diceritakan. Rasa rindu yang datang tiba-tiba. Rindu rumah, rindu keluarga, rindu menjadi anak bungsu yang tidak perlu selalu tampak mampu. Homesick kerap datang tanpa permisi, terutama di waktu-waktu sepi, ketika hari terasa terlalu panjang dan notifikasi ponsel terlalu senyap.

Kesepian juga bukan hal asing. Ada masa-masa ketika kota terasa ramai, tapi aku tetap merasa sendirian. Saat teman-teman yang dulu datang bersama kini sibuk dengan hidupnya masing-masing, aku belajar menerima fase “bersama” memang tidak selalu abadi. Ada saatnya kita harus berjalan sendiri, meski awalnya terasa berat.

Tapi justru di sanalah aku belajar. Bahwa kesepian tidak selalu musuh. Ia kadang menjadi ruang untuk mengenal diri sendiri lebih dalam. Mengerti apa yang benar-benar diinginkan, apa yang ingin dipertahankan, dan apa yang harus dilepaskan. Samarinda memberiku ruang itu, ruang untuk menjadi perempuan yang terus belajar tentang hidupnya sendiri.

Menjadi perempuan perantau di Samarinda bukan soal siapa yang paling kuat, tapi siapa yang mau terus bertumbuh meski rindu sering datang. Kota ini tidak selalu mudah, tapi ia jujur. Ia mengajarkanku bahwa rumah bukan hanya soal tempat lahir, melainkan tempat di mana kita berani bertahan dan berkembang.

Dan mungkin, untuk saat ini, Samarinda adalah rumah itu.

Detik Pertama Melihat Ka’bah dan Luruhnya Segala Kendali

February 4, 2026 by  
Filed under Opini

Makkah — Tidak ada foto, video, atau cerita perjalanan yang benar-benar mampu menyiapkan seseorang pada detik pertama melihat Ka’bah. Semua bayangan yang pernah dibangun sebelumnya runtuh begitu saya berdiri di pelataran Masjidil Haram tempat jutaan manusia datang untuk sujud, berdoa, dan meleburkan diri dalam ritme ibadah yang sama.

Ketika saya tiba di sini pada pertengahan Januari 2026, suasana sudah sangat ramai. Berdasarkan data resmi yang dirilis oleh General Authority for the Care of the Affairs of the Grand Mosque and the Prophet’s Mosque, selama bulan Rajab 1447 Hijriah (sekitar Januari 2026), lebih dari 78,8 juta jamaah mengunjungi Dua Masjid Suci (Masjidil Haram dan Masjid Nabawi). Dari total itu, hampir 35 juta jamaah beribadah di Masjidil Haram sendiri, angka yang mencerminkan tingginya kunjungan di luar musim haji puncak sekalipun.

Malam itu, Masjidil Haram dipenuhi jamaah dari berbagai negara. Suara langkah kaki beradu dengan lantunan doa yang dilafalkan dalam berbagai bahasa. Lampu-lampu menerangi marmer putih yang dingin, sementara Ka’bah berdiri tegak di pusatnya.

Saya datang sebagai perempuan yang pertama kali menunaikan umrah. Di antara kerumunan yang padat, saya berjalan dengan perasaan yang tidak sepenuhnya bisa dinamai. Bukan takut, bukan pula percaya diri, lebih mirip pasrah yang sedang belajar caranya sendiri.

Ketika Ka’bah akhirnya terlihat tanpa penghalang, tubuh saya bereaksi lebih cepat daripada pikiran. Langkah melambat. Napas tertahan. Dada terasa sesak bukan karena lelah, melainkan karena segala pretensi tentang diri, tentang kuat, tentang rencana, tentang kendali seolah luruh tanpa diminta.

Masjidil Haram, masjid terbesar di dunia dan pusat ibadah umat Islam, tidak menawarkan keheningan mutlak. Suaranya hidup, lantunan doa, langkah kaki yang berpindah, isak yang tertahan, bahkan desis desakan ketika jamaah menyesuaikan posisi. Namun justru di tengah keramaian itulah, kesunyian batin terasa paling nyata. Saya menyadari, ini bukan tentang seberapa dekat posisi tubuh dengan Ka’bah, melainkan tentang seberapa jujur seseorang berdiri di hadapan Tuhannya.

Tawaf pertama saya dimulai dengan langkah yang belum sepenuhnya mantap. Putaran demi putaran mengelilingi Ka’bah membawa ritme sendiri. Arus manusia bergerak tanpa henti, memaksa setiap jamaah untuk menyesuaikan diri bukan saling mendahului.

Kerumunan yang padat bukan sekadar statistik, tetapi realitas yang nyata. Banyak jamaah harus berhenti beberapa kali untuk memberi ruang, menunggu celah, atau sekadar mencari tempat untuk menarik napas. Di antara dorongan halus dan arus manusia itu, saya merasa tawaf bukan hanya ritual fisik, tetapi juga pelajaran tentang kesabaran dan kebersamaan.

Sebagai perempuan, ada batas-batas yang harus dipahami dan kesabaran yang diuji. Tidak semua ruang mudah diraih, dan tidak semua doa terucap dalam keadaan nyaman. Namun dari situ saya memahami bahwa ketulusan sering lahir dari situasi yang tidak sempurna.

“Yang penting terus bergerak dan menjaga niat,” ujar seorang jamaah perempuan asal Indonesia yang berjalan di samping saya, suaranya tenggelam oleh lantunan takbir namun terasa teguh.

Masjidil Haram mempertemukan saya dengan wajah-wajah yang asing namun terasa dekat. Seorang perempuan lanjut usia yang berdoa sambil duduk di tepi jalur tawaf. Jamaah muda yang membaca doa dari layar ponsel. Seorang ibu yang menuntun anaknya, berusaha menjaga langkah kecil itu tetap seirama dengan arus. Di hadapan Ka’bah, perbedaan latar belakang, usia, dan bahasa melebur. Tidak ada penanda status, yang terlihat hanyalah manusia datang dengan harapan, pulang dengan doa yang dititipkan.

Ka’bah menjadi titik pusat arah kiblat sekaligus titik temu manusia dengan dirinya sendiri. (intan)

Dewi Yull Ziarahi Norbaiti

February 3, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

PENYANYI dan pemeran film senior Dewi Yull beberapa hari lalu datang ke Samarinda. Misinya bukan hiburan, tapi syiar agama. Dia dibawa oleh Sahabat Dakwah Almahyra (SDA), yang berkedudukan di Cimahi, Jawa Barat.

Dari informasi di media sosial, SDA adalah tim dakwah yang aktif menyelenggarakan safari kajian, renovasi masjid, wakaf Quran serta aksi sosial di antaranya bagi-bagi beras gratis dan air bersih. Tim ini berkolaborasi  dengan berbagai pihak, termasuk Al-Azhar 30 dan  menghadirkan pemateri terkemuka seperti Habib Ahmad Al Habsy termasuk Dewi Yull dan Mommy Angie.

Dewi Yull bersama Hj Debby dan Bu Mei di pengajian Majelis Nurhasanah

Di Samarinda, Dewi Yull di antaranya mengisi acara di rumah Bunda Hj  Debby di Ruko Griya Niaga, Sempaja. Hj Debby punya kelompok pengajian bernama Majelis Nurhasanah. Mereka menggelar acara bersama Dewi Yull dengan tema : “Yakin Saja dengan Skenario-Nya.”

Tema itu sepertinya langsung terkait dengan jalan hidup yang dialami Dewi Yull. Sangat baik untuk menginspirasi dan memotivasi  sebuah keluarga yang mengalami kekurangan atau cobaan dari Tuhan.

Saat ini, Dewi Yull dalam usia 64 tahun mengalami kebutaan mata sebelah kanan akibat ablasi retina. Kondisi ini terjadi karena minus mata yang sangat tinggi mencapai minus 25.

“Di usia saya, Tuhan ambil dan cabut satu penglihatan saya. Paru-paru saya bagus, jantung saya  alhamdulillah juga bagus. Jadi disyukurin ajalah. Ngga ada manusia yang sempurna. Robot aja ngga sempurna,” kata Dewi Yull.

Menurutnya, semua orang di keluarganya punya kondisi khusus dan mereka saling mendukung satu sama lain. “Kita itu sama-sama cacat. Kita itu sama-sama punya kelemahan. Kalau ngga pakai kacamata dulu ngga bisa melihat, jadi Surya Sahetapy (tunarungu) sama almarhum kakaknya, Gizca juga tunarungu dan harus pakai alat bantu dengar. Kita sama-sama dari mereka kecil, sama-sama butuh alat bantu,” jelasnya.

Dewi Yull dengan nama asli Raden Ajeng Dewi Pudjijati dikenal sebagai artis empat dekade. Dia penyanyi pop sejak tahun 1977. Lagu duetnya yang terkenal bersama Broery Marantika di tahun 1995 dan 1988 adalah “Jangan Ada Dusta di Antara Kita” dan “Rindu yang Terlarang.” Berkat lagu itu dia mendapat Anugerah Musik Indonesia sebagai penyanyi duo Pop Terbaik.

Aktingnya di layar lebar juga mengesankan. Dia sempat dinominasikan sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik pada FFI tahun 1985 dan 1987 ketika bermain dalam film Kembang Kertas dan Penyesalan Seumur Hidup.”

Tahun 1979, Titiek Puspa mempertemukan Dewi dengan aktor kawakan Ray Sahetapy. Lalu mereka menikah dan dikaruniai 4 anak. Sayang perkawinan yang sudah berlangsung 23 tahun itu, akhirnya kandas. Mereka bercerai di tahun 2004.

Dalam acara pengajian di kediaman Bunda Hj Debby itu, banyak jamaah mengikuti program waqaf Al Quran. Mereka bersedekah dengan mendapatkan satu cetakan Kitab Al Quran. Sedekahnya bervariasi sesuai kemampuan masing-masing. “Saya bersedekah 3 juta rupiah. Ada yang sampai 5 juta,” kata Hj Meiliana atau Bu Mei, mantan Pj Sekdaprov Kaltim yang sekarang aktif di berbagai lembaga sosial.

Menurut Dewi Yull, dana yang terhimpun dimanfaatkan SDA untuk aksi syiar Islam. Membantu pembangunan rumah ibadah, pesantren termasuk juga berbagi beras gratis dan air bersih.

Hj Debby mengaku senang bisa mendatangkan Dewi Yull  bersama SDA. “Tentu bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran kami dalam melaksanakan syiar Islam dan memahami serta menerima apa yang digariskan Allah kepada kami. Kita yakin skenario Allah itu terbaik untuk kita,” ujarnya.

SERING DIUNDANG PEMPROV

Hj Dewi Yull sering datang ke Kaltim. Dia salah satu penyanyi yang disukai Pemprov sejak era Gubernur Awang Faroek Ishak. Kebetulan Pak Awang suka bernyanyi, klop dengan kehadiran Dewi Yull dengan lagu-lagu lawasnya. Keakraban itu juga terjalin dengan Gubernur Isran Noor dan Ibu Hj Norbaiti Isran.

Itu sebabnya ketika berada di Samarinda kemarin, Dewi Yull menyempatkan diri melakukan ziarah ke makam almarhumah Ibu Hj Norbaiti di kediaman Pak Isran di Jl Adipura, Sungai Kunjang. Dia ditemani sejumlah ibu-ibu termasuk Bu Mei.

Norbaiti meninggal dunia pada Rabu, 24 Mei 2023 di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Jakarta karena sakit. Atas kesepakatan keluarga, jenazahnya dimakamkan di halaman samping rumah untuk memudahkan keluarga berziarah.

Sambil menaburkan bunga di pusara, Dewi Yull juga memanjatkan doa agar almarhumah hidup tenang di sisi Allah SWT. “Insyaallah beliau dalam keadaan husnul khotimah,” katanya dengan suara tenang.

Semasa hidupnya, Norbaiti dikenang sebagai istri gubernur yang sangat bersahaja dan disukai banyak orang. Dia sangat aktif sebagai ketua PKK dan Dekranasda. Juga sempat menjadi anggota DPR RI.

Sayang ketika dia berziarah, Pak Isran sudah berangkat ke Jakarta. Belakangan ini Pak Isran banyak tinggal di sana bersama anak cucunya. Beberapa hari sebelumnya Pak Isran pulang ke Samarinda di antaranya untuk memenuhi undangan Milad ke-21 Persekutuan Suku Asli Kalimantan (PUSAKA).

Pak Isran datang bersama mantan wakil gubernur Hadi Mulyadi. Kebetulan mereka berdua duduk sebagai Dewan Kehormatan. Ketua Umum DPP PUSAKA adalah Prof Dr Abdunnur, yang sekarang ini menjabat Rektor Universitas Mulawarman (UNMUL). Isran mendapat potongan pertama nasi tumpeng yang dilakukan Abdunnur.

“Semoga PUSAKA terus maju dan mampu berbuat terbaik untuk memperkuat persatuan masyarakat adat di Kalimantan khususnya Kaltim,” kata Isran.

Ketika akan meninggalkan acara di GOR Segiri, Isran sempat dicegat wartawan. Para wartawan memanggilnya “Kai.” Sebutan akrab untuk Pak Isran. Dia ditanya soal program Beasiswa Kaltim Tuntas (BKT) yang sukses dilaksanakannya dengan program Gratispol yang dikembangkan Gubernur Rudy Mas’ud dan Wagub Seno Aji.

Gaya Pak Isran tak berubah seperti dulu. Dia sengaja memberi kesan menghindar untuk memberi jawaban. Dia lebih banyak berkata:  “Apa itu? Hah. Aku tetulian wayah ini,” katanya tersenyum. Lalu dia mengucapkan potongan kalimat untuk diterjemahkan awak media sendiri. “Mulai anak yang dikandung sampai mahasiswa S7 dapat, pokoknya,” katanya sambil meninggalkan kerumunan awak media. Sehat selalu Pak Isran.(*)

Raudhah, Ruang Sempit yang Mengajarkan Luasnya Kesabaran

February 2, 2026 by  
Filed under Opini

Madinah – Raudhah bukan sekadar ruang kecil di dalam Masjid Nabawi. Lebih dari itu, ia adalah harapan panjang, doa yang terulang, dan pelajaran kesabaran di tengah sistem yang terus berubah. Terletak di antara rumah Rasulullah SAW. dan mimbar beliau, Raudhah disebut dalam hadis sahih sebagai “taman di antara taman-taman surga”, sebuah sebutan yang hidup dalam tradisi umat Islam lintas generasi dan menjadi magnet bagi jutaan jamaah dunia.⁣

Secara fisik, Raudhah memang sempit. Karpetnya berwarna hijau, berbeda dari dominasi karpet merah di sebagian besar area Masjid Nabawi. Namun di ruang kecil itu, doa-doa beragam bahasa dan kisah hidup berkumpul, naik bersama dalam hening yang terasa sakral. Ruang ini seperti botol kecil yang menampung gelombang kerinduan umat dari penjuru dunia.

Akses ke Raudhah telah berubah tajam dalam beberapa tahun terakhir. Dahulu jamaah hanya bisa memasuki Raudhah melalui tasreh, izin ziarah yang dikeluarkan oleh otoritas haji masing-masing negara, seperti yang kini sering terjadi dalam proses haji reguler. Namun transformasi digital di Arab Saudi memperkenalkan aplikasi Nusuk sebagai platform resmi untuk memesan izin kunjungan ke Raudhah, umrah, dan layanan ibadah lain di dua Masjid Suci. Sistem ini menggantikan sebagian besar metode manual sebelumnya dan menjadi standar global bagi jamaah yang datang dari luar negeri.

Pemerintah Arab Saudi melaporkan, transformasi digital berhasil meningkatkan kapasitas harian pemesanan ziarah Raudhah melalui aplikasi Nusuk menjadi sekitar 54.000 pemesanan per hari, sebuah lonjakan signifikan dari angka sekitar 7.000 sebelumnya. Hal ini menunjukkan upaya serius Kerajaan dalam menghadirkan layanan ibadah yang lebih tertata dan terukur.

Lebih jauh, pemerintah akhirnya menyelesaikan perluasan fisik di area Raudhah sehingga kapasitas harian dapat mencapai lebih dari 52 ribu jamaah per hari, melalui penambahan pintu masuk, manajemen kerumunan yang lebih canggih, dan pengaturan zonasi yang modern. Perubahan ini menjadi respons langsung atas lonjakan kunjungan jamaah global.

Data resmi terbaru menunjukkan lonjakan jumlah jamaah yang datang ke Masjid Nabawi dan sekitarnya. Pada paruh pertama Ramadan 1446 H / 2025, lebih dari 14 juta orang tercatat mengunjungi Masjid Nabawi, termasuk lebih dari 223 ribu jamaah laki-laki dan 155 ribu jamaah perempuan yang mendapat izin masuk Raudhah dalam periode itu.

Namun, data yang luar biasa itu sekaligus mencerminkan kenyataan yang tak terhindarkan, permintaan jauh melampaui kapasitas. Slot kunjungan Raudhah sering penuh beberapa minggu bahkan beberapa bulan sebelumnya, terutama pada musim ibadah utama. Civitas muslim di media sosial melaporkan, pemesanan untuk awal 2026 sudah sering terisi jauh sebelum tahun berjalan, memaksa jamaah untuk terus memantau aplikasi Nusuk setiap hari demi mendapatkan slot yang terbuka.

Saya mengalami ini sendiri. Saat mencoba memesan melalui aplikasi Nusuk, banyak slot yang tampak “fully booked” untuk pekan depan atau bahkan bulan berikutnya. Saya sempat berkata dalam hati, “Mungkin belum rezeki.” Itu bukan sekadar kata penenang, tetapi bentuk awal menerima akses ke tempat yang sangat diidamkan ini tak selalu bisa diraih dengan mudah oleh siapa pun.

Namun takdir bekerja dalam cara-caranya sendiri. Suatu malam, tanpa jadwal resmi yang tertera sebagai konfirmasi di aplikasi, akses ke Raudhah akhirnya dibuka bagi rombongan kami. Saat kaki pertama saya menginjak karpet hijau itu, seluruh dunia terasa menyempit, bukan karena ruangnya sempit, tetapi karena semua perhatian tertumpah pada satu titik, doa, sujud, dan hening yang panjang.

Saya shalat di sana dengan air mata yang jatuh tanpa komando, mengalir sebagai kata yang tidak sempat diucapkan. Tidak ada doa panjang yang direncanakan rapi hanya kata-kata pendek, patah, dan jujur. Di tempat yang disebut sebagai taman surga itu, saya tidak merasa seperti tamu istimewa. Saya merasa seperti manusia yang akhirnya diizinkan berhenti sejenak untuk bicara jujur kepada Tuhan.

Filosofi Bak Truk yang Relevan di Era FOMO & JOMO

February 1, 2026 by  
Filed under Opini

Oleh : Riyawan S.hut *)

Di tengah perjalanan panjang di jalan raya, sering kali mata kita tertumbuk pada tulisan sederhana di bak truk. Kalimatnya singkat, bahasanya lugas, tapi maknanya dalam. Salah satunya berbunyi “ora perlu tenar, ora perlu sangar, ora perlu kowar-kowar, seng penteng rezeki lancar.”

Kalimat ini bukan sekadar hiasan atau candaan. Ia adalah potret cara pandang hidup yang jujur, membumi, dan tanpa disadari kalimat tersebut sangat relevan dengan fenomena modern seperti FOMO dan JOMO.

Tulisan di bak truk adalah suara jalanan. Ia lahir dari peluh, jam kerja panjang, dan realitas hidup yang tidak selalu ramah. Bagi para sopir, bak truk adalah kanvas, tempat menuangkan filosofi hidup yang tidak diajarkan di ruang seminar, tapi ditempa langsung di aspal panas. Dari situlah kita belajar bahwa hidup tidak selalu tentang terlihat hebat, tapi tentang bisa pulang dengan rezeki yang cukup dan hati yang tenang.

Makna “Ora Perlu Tenar, Ora Perlu Sangar, Ora Perlu Kowar-Kowar”

Di era digital, popularitas sering dianggap sebagai tolok ukur kesuksesan. Banyak orang berlomba-lomba tampil, bersuara keras, dan membangun citra. Namun, filosofi bak truk justru melawan arus itu dengan tenang.

“Ora perlu tenar” bukan berarti anti-sukses atau menolak kemajuan. Ini adalah pengingat bahwa tidak semua pencapaian harus disorot. Banyak pekerjaan penting yang berjalan dalam senyap. Sopir truk, misalnya, mungkin tak dikenal namanya, tapi tanpa mereka roda ekonomi bisa macet. Nilai seseorang tidak selalu sebanding dengan jumlah pengikut atau seberapa sering namanya disebut.

Lalu “ora perlu sangar” mengajarkan bahwa galak dan keras bukanlah simbol kekuatan. Di jalan raya, emosi mudah tersulut. Tapi mereka yang bertahan lama justru adalah yang sabar dan mampu menahan diri. Sikap tenang bukan tanda kalah, melainkan kecerdasan emosional. Hidup akan terasa lebih ringan saat kita berhenti merasa harus selalu terlihat dominan.

Sementara itu, “ora perlu kowar-kowar” menegaskan pentingnya tindakan dibandingkan omongan. Banyak orang terjebak dalam budaya pamer rencana dan pencapaian, padahal kerja nyata sering terjadi dalam diam. Prinsip ini mengajarkan fokus pada hasil, bukan validasi. Diam bukan berarti tidak punya apa-apa, tapi sedang sibuk membangun sesuatu.

Keseluruhan pesan ini mengarah pada satu tujuan utama yakni hidup yang tidak ribet, tidak penuh drama, dan tidak terkuras oleh tuntutan sosial yang tidak perlu.

Dari Bak Truk ke Media Sosial: FOMO yang Melelahkan

Kalau filosofi bak truk itu diterjemahkan ke konteks modern, ia seperti kritik halus terhadap FOMO (Fear of Missing Out). FOMO adalah rasa takut tertinggal, takut tidak ikut tren, takut tidak dianggap. Media sosial memperparah kondisi ini. Kita merasa harus selalu update, selalu terlihat sibuk, selalu punya cerita menarik.

Ironisnya, semakin kita mengejar pengakuan, semakin capek rasanya. Hidup jadi ajang perbandingan tanpa akhir. Melihat orang lain liburan, sukses, atau viral, kita lupa bahwa apa yang terlihat belum tentu utuh. FOMO membuat kita merasa kurang, padahal sebenarnya kita sedang baik-baik saja.

Di sinilah nasihat “ora perlu tenar” terasa menampar dengan lembut. Tidak semua momen harus dipamerkan. Tidak semua proses butuh penonton. Hidup bukan lomba siapa paling ramai, tapi siapa paling kuat bertahan.

Sikap “ora perlu sangar” juga relevan. FOMO sering memicu emosi berlebihan seperti iri, cemas, bahkan marah pada diri sendiri. Padahal, ketenangan adalah aset besar. Orang yang tenang cenderung lebih fokus, lebih jernih mengambil keputusan, dan tidak mudah goyah oleh hiruk-pikuk luar.

Sedangkan “ora perlu kowar-kowar” seolah berkata berhentilah menjelaskan hidupmu pada semua orang. Tidak semua orang perlu tahu rencanamu, dan tidak semua validasi itu penting. Energi yang kamu simpan bisa jadi bahan bakar untuk hal yang lebih berarti.

JOMO: Jalan Tenang Menuju Rezeki yang Lancar

Jika FOMO adalah kebisingan, maka JOMO (Joy of Missing Out) adalah ketenangan. JOMO mengajarkan kebahagiaan dari memilih untuk tidak selalu ikut. Bukan karena tidak mampu, tapi karena sadar apa yang benar-benar dibutuhkan.

JOMO sejalan dengan kalimat pamungkas bak truk “sing penting rezeki lancar.” Rezeki yang lancar bukan hanya soal uang, tapi juga ketenangan batin, kesehatan, dan waktu bersama keluarga. Semua itu sulit didapat jika hidup terus dikejar rasa takut ketinggalan.

Dengan JOMO, kita belajar memilah. Tidak semua undangan harus dihadiri, tidak semua tren harus diikuti, dan tidak semua perdebatan perlu dimenangkan. Kita mulai menghargai hidup yang cukup, bukan hidup yang kelihatan wah.

Penerapannya sederhana. Kurangi notifikasi yang tidak perlu. Nikmati waktu tanpa harus mendokumentasikan segalanya. Fokus pada pekerjaan dengan sungguh-sungguh, meski tidak selalu terlihat. Seperti sopir truk yang tetap melaju, meski namanya tak pernah terpampang di baliho.

Pada akhirnya, filosofi bak truk dan konsep JOMO bertemu di satu titik yakni hidup yang jujur pada diri sendiri. Tidak sibuk membuktikan apa-apa, tidak terjebak dalam kebisingan sosial, dan tidak lupa tujuan utama, rezeki yang lancar dan hati yang lapang.

Di dunia yang serba cepat, mungkin kita memang tidak perlu tenar, tidak perlu sangar, dan tidak perlu kowar-kowar. Karena sering kali, yang paling berharga justru datang pada mereka yang berjalan pelan, fokus, dan tahu kapan harus “ketinggalan”.

*) Pemerhati Sosial & Budaya

 

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1419783
    Users Today : 5961
    Users Yesterday : 4812
    This Year : 356293
    Total Users : 1419783
    Total views : 12617824
    Who's Online : 33
    Your IP Address : 216.73.216.136
    Server Time : 2026-03-03