Buka Puasa Bersama dan Ragam Pilihan Anak Muda

February 27, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Share this news

SAMARINDA – Setiap Ramadan, tradisi buka bersama atau bukber selalu menjadi agenda yang nyaris tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Undangan demi undangan biasanya mulai berdatangan sejak awal bulan puasa, dari lingkar pertemanan masa sekolah dasar, SMP, SMA, kuliah, hingga rekan kerja.

Tak jarang, momen ini menjelma menjadi ajang temu kangen dan mempererat kembali silaturahmi yang sempat renggang oleh waktu.

Fenomena bukber bukan sekadar makan bersama saat azan Magrib berkumandang. Lebih dari itu, ia menjadi ruang sosial tempat cerita lama dihidupkan kembali, canda masa lalu diulang, dan relasi yang nyaris redup kembali disulut hangatnya kebersamaan.

Namun, respons setiap orang terhadap tradisi ini ternyata beragam.

Nur (23), seorang perantau di Samarinda, mengaku hingga kini belum menerima ajakan bukber. Ia menduga statusnya sebagai pendatang membuat lingkar pertemanannya belum seramai di kampung halaman.

“Sejauh ini belum ada yang ngajak bukber sih, mungkin aku juga di sini perantau. Belum kali yaa, biasanya nanti di akhir-akhir puasa,” ujarnya saat ditemui, Kamis (26/2/2026).

Meski demikian, Nur menegaskan dirinya termasuk tipe yang terbuka dengan undangan buka bersama.

“Kapan pun ada undangan, selagi ada kesempatan, jadwal kosong, dan dompet lagi aman aja, aku ikut aja,” tambahnya sambil tersenyum.

Berbeda dengan Nur, Inah (24) mengaku lebih selektif. Baginya, keputusan menghadiri bukber sangat bergantung pada suasana hati dan situasi. Saat ada ajakan bukber biasanya ia akan melihat situasi dulu.

Sementara itu, Katan (24) justru memiliki pandangan yang kontras. Ia menyebut dirinya hampir tak pernah menghadiri acara bukber bersama teman-teman sejak lulus sekolah.

“Aku tidak pernah ikut bukber, kecuali terpaksa,” katanya.

Ia menegaskan, keputusannya bukan karena enggan bersilaturahmi. Katan mengaku memiliki kepribadian introvert dan merasa lebih nyaman menghabiskan waktu berbuka bersama keluarga inti di rumah.

“Bukan karena nggak mau silaturahmi, tapi aku terlalu introvert. Jadi lebih pilih bukber sama keluarga di rumah saja,” jelasnya.

 

Perbedaan sikap ini menunjukkan, meskipun bukber telah menjadi tradisi tahunan yang kuat di bulan Ramadan, setiap individu tetap memiliki preferensi dan kenyamanan masing-masing dalam memaknainya. Ada yang menjadikannya momentum memperluas relasi, ada yang menimbang berdasarkan suasana hati, dan ada pula yang memilih kehangatan rumah sebagai tempat terbaik menikmati hidangan berbuka.‎​ (intan)


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.

  • vb

  • Pengunjung

    1393713
    Users Today : 2561
    Users Yesterday : 5351
    This Year : 330223
    Total Users : 1393713
    Total views : 12493180
    Who's Online : 35
    Your IP Address : 216.73.216.136
    Server Time : 2026-02-27