ArabicChinese (Simplified)EnglishFrenchGermanIndonesianKorean

Kunjungi Warga Terkucil, KODIM 0912 Bedah Rumah

August 6, 2021 by  
Filed under Serba-Serbi

Share this news

SENDAWAR – Komadan Kodim 0912 Kutai Barat (Kubar) Letkol Kav. Yudhi Prasetyo Purnomo bersama sang istri mengunjungi rumah Ambo Dai yang terkena stroke dan istrinya mengalami depresi, Kamis pagi (5/8/2021).

Selain menengok keluarga tersebut Dandim juga membawa bantuan sembako dan bersama personil TNI untuk membedah rumah Ambo Dai.

“Hari ini saya terenyuh melihat keadaan di lapangan. Sudah seperti ini kondisinya. Suami istri tidak kerja, sakit-sakit dan anaknya juga tidak sekolah sehingga saya tergerak membantu,” ujar Yudhi.

Ia menyebut bedah rumah yang dilakukan itu adalah kerja sama antara Kodim, Koramil dan komunitas trail Kutai Barat. Adapun sumbangan dana adalah partisipasi masyarakat dan komunitas trail Kubar.

“Saya secara konkrit langsung bergerak memperbaiki rumahnya dulu. Pemerintah daerah sudah bergerak tapi saya lihat keluarga ini belum memiliki dokumen kependudukan. Sehingga bantuan-bantuan yang mestinya diterima selama ini belum tersentuh,” kata Dandim.

“Kami memberikan bantuan instan dulu berupa bingkisan sembako. Saya lihat sudah banyak memang dari ibu bupati dan pemda. Nah kami dari komunitas trail akan langsung bergerak memperbaiki rumah dulu,” sambungnya.

Adapun komunitas trail itu juga adalah gabungan dari beberapa ormas dan masyarakat umum. Salah satunya dari Pemuda Pancasila Kutai Barat yang dipimpin Tedi Rahmat.

Selain itu ada salah satu warga Kubar yang turut memberikan bantuan material bangunan. Yakni Sukadi warga kampung Balok Asa.

“Karena kita melihat situasi yang memprihatinkan, kita melihat tidak mungkinlah mereka bisa merehab rumah ini. Mereka tidak memiliki dokumen kependudukan. Jika menunggu jalur pemerintah agak lambat. secara pribadi saya dan teman-teman bisa merehab rumah ini,” ujar Sukadi.

Dikatakan Sukadi, bedah rumah dilakukan bersama tim dan TNI, sementara ia membantu material. Rencananya akan dibuat rumah ukuran 4×6 terlebih dahulu dengan bangunan semi permanen.

“Pondasi dari beton, serta lantai menggunakan keramik. Sedangkan dinding sementara menggunakan papan,” katanya.

Ambo Dai, Lelaki 73 tahun terbaring lemas dalam kamar yang sangat tidak layak. Maklum pria tua itu mengidap penyakit stroke

“Aduh saya kasihan dia sudah lama begitu. Kita memberi obat, dia bilang kenapa Tuhan tidak panggil aja aku,” ungkap Maria Rosalina Jujiq, mertua Ambo Dai.

Ambo dai menikah dengan Miwir 45 tahun anak dari Maria Rosalina Jujiq puluhan tahun silam.

Namun belakangan Miwir, istri Ambo Dai nampak sering linglung. Warga menyebut Miwir mengalami keterbelakangan mental.

“Mereka bilang anak saya ini ‘kurang-kurang’. Padahal tidak. Ia hanya stress mengurus keluarga sendiri. Aku tidak tahan melihat cucu ku dua orang itu,” ucap Rosalina melihat kondisi keluarga kecil itu.

Miwir, istri Ambo Dai nampak masih komunikatif saat diajak bicara. Wanita 45 itu masih nyambung saat ditanya. Namun warga terlanjur memberi stemple “kurang waras”.

Predikat kejam itu yang akhirnya jadi jurang pemisah Miwir dan masyarakat pada umumnya. Alhasil keluarga ini seperti terkucil dari tengah masyarakat.

“Kalau suaminya ini dari Sulawesi. Istrinya suku Dayak Tunjung dari daerah Tutung,” ujar warga sekitar.

Sebuah rumah panggung berbahan kayu ukuran 16 meter menjadi tempat Ambo Dai dan istri serta dua orang anak. Namun rumah tersebut sudah kurang layak huni.

“Dulu dia pernah kerja di toko bangunan. Tapi waktu mulai sakit itu sudah tidak kerja lagi,” sebut tetangga Ambo.

Mirisnya pasangan suami istri ini memiliki dua anak perempuan berusia 8 tahun dan 11 tahun. Keduanya tidak pernah menginjak bangku sekolah. Parahnya lagi Ambo Dai dan keluarga tak mengantongi satupun dokumen kependudukan di Kutai Barat. Keluarga juga tidak ada yang berinisiatif mengurus dokumen kependudukan keluarga itu.

Ketua RT.008 Kelurahan Barong Tongkok Suanto mengatakan, keluarga Ambo cukup lama tinggal di wilayahnya. Namun ia sendiri baru setahun lebih menjadi ketua RT 08.

“Saya sendiri bukan asli orang Barong dan tinggal di daerah Bigung. Semenjak jadi RT saya sudah berusaha mendata siapa aja yang berhak mendapat bantuan. Cuma mereka tidak memiliki dokumen kependudukan. Tidak ada KK maupun KTP,” katanya.

Meski begitu Ambo Dai memilki KTP Kota Samarinda. Hanya untuk KTP Kubar belum diurus.

“Ini baru mau diurus. Karena kami mau ngajukan pembangunan rumah tidak layak huni,” ujar Suanto.

Kehidupan Ambo Dai dan keluarga yang melarat menjadi viral di sosial media setelah diunggah warga setempat. Pemerintah seolah terkaket-kaget dengan kondisi itu. Ketua tim penggerak PKK Kabupaten Kutai Barat Yayuk Seri Rahayu Yapan langsung mendatangi kediaman Ambo dan membawa sejumlah bantuan.

Petugas Kesehatan juga mengunjungi Ambo yang kini terbaring lemas.

“Terima kasih untuk semua pihak yang telah peduli dengan pak Ambo. Dengan viralnya ini saya juga bersyukur kita jadi tahu. Selama ini kita hanya lihat dari luar tidak tahu isi dalamnya seperti apa. Sekarang akhirnya banyak orang berhati baik yang membantu beliau,” ujar ketua RT.08 Kelurahan Barong Tongkok, Suanto. (arf)


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.