ArabicChinese (Simplified)EnglishFrenchGermanIndonesianKorean

Komisi III DPRD Kaltim Akan Minta Pertanggungjawaban KSOP

December 21, 2019 by  
Filed under Serba-Serbi

Share this news

Samarinda -Ketua Komisi III DPRD Kalimantan Timur, Hasanuddin Mas’ud minta pertanggungjawaban Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) terkait jebolnya kapal pengangkut batu bara yang terjadi di Muara Berau, Kabupaten Kutai Kartanegara beberapa waktu lalu, yang mengakibatkan tumpahnya batu bara ke laut.

Hasanuddin Mas’ud

Dikatakan, Komisi III akan meminta pertanggungjawaban dari KSOP karena memiliki regulasi ke perusahaan dan pemilik kapal.

Diketahui, kapal pengangkut batu bara itu milik salah satu perusahaan ekspedisi, yakni PT Pelayaran Karya Bintang Timur. Saat ini telah dilakukan koordinasi dengan KSOP untuk membuat berita acara atas kejadian tersebut.

“Kami lagi berkoordinasi dengan KSOP untuk membuat berita acara terkait apa kejadiannya karena yang terlibat pasti KSOP selaku otorisasi, kan mereka yang berikan izin kapal untuk bergerak,” ucapnya.

Kejadian ini menurut Hasanuddin bukanlah sebuah kecelakaan kerja maupun murni kelalaian dari pekerja. Kapal yang tidak memenuhi syarat menjadi dugaan yang mengakibatkan jebolnya kapal tersebut.

Hasanuddin berpendapat kejadian tersebut bukan kelalaian. Jika dilihat dari tongkang itu tidak layak, tetapi bisa diberikan izin. Pemilik kapal juga membiarkan kapalnya beroperasi.

“Kalau dilihat kapalnya tidak memenuhi syarat, kenapa KSOP berikan izin, berarti mereka berikan izin tapi tidak melihat barang itu,” tandasnya.

Kepala KSOP Kelas II Samarinda, Dwiyanto, membenarkan adanya kejadian kapal pengangkut batu bara yang jebol di Muara Berau. Menurut keterangan, kejadian itu dianggap sebagai kecelakaan kerja.

“Iya benar di Muara Berau. Itu karena kecelakaan kerja, masalah pemuatan saja, kapal itu lagi bongkar dan kemudian ramp doornya jebol, itu cuma dari tongkang ke kapal besar vessel batu bara. Sebenarnya bukan masalah plat, itu kan pintu yang dijepit, kalau didesak kan pasti ada lengkungan plat,” terang Dwi.

Dwiyanto juga akui pihaknya sudah memanggil pihak perusahaan dan telah melakukan pemeriksaan. Ditanya soal pencemaran laut, ia belum bisa berkomentar banyak, menilai dari segi pencemaran dianggap bukan menjadi penilaian KSOP.

“Tidak ada korban, ABK juga sudah diperiksa, ada hasilnya dikantor. Kalau tonase batu bara yang jatuh tidak bisa kami ukur, pencemaran laut dengan kedalaman air seperti itu dengan jumlah yang tumpah sedikit tidak terlalu lah, tapi ya itu bukan kami yang menilai,” imbuhnya.

Sebelumnya, informasi mengenai peristiwa tumpahnya batu bara di perairan Muara Berau beredar dari rekaman video di sosial media facebook dan instagram. Sejak pertama kali diterbitkan melalui akun intagram @berauterkini pada Sabtu (14/12), sejumlah akun juga secara masif membagikan postingan tersebut.

Rekaman video tersebut memperlihatkan kapal pengangkut batu bara yang jebol. Seorang awak kapal merekam video tersebut melalui ponsel yang memperlihatkan sisi kiri kapal yang jebol, batu bara yang ada di dalam kapal tertumpah ke laut, begitu pula dengan alat berat buldozer yang juga berada di dalam kapal ikut tercebur. (adv)


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.